Sex & Relationship
Menikah Berbekal Paspor

7 Apr 2016


Menautkan dua hati dalam ikatan sakral pernikahan bisa dilakukan di mana saja. Dua pasangan berikut ini membagi  pengalaman mereka kepada femina bagaimana jalan berliku yang mereka tempuh untuk mendapatkan ‘rasa’ yang berbeda dari peristiwa paling bersejarah dalam hidup mereka.  

Ingin Simpel Dengan Rasa Berbeda
Liana Maruthi (34) dan Oscar Susanto (35)
Keputusan saya dan suami untuk menikah pada 27 April 2012 di Singapura semata dari segi praktis saja. Saat itu, suami yang bekerja di Palang Merah Indonesia tengah bertugas di negara Kabul, Afganisthan. Karena kami ingin segera tinggal bersama, maka kami memutuskan untuk segera menikah. Sayangnya, waktu itu suami hanya punya waktu cuti sebentar untuk melangsungkan pernikahan. 
 
Di Indonesia, untuk pernikahan perlu banyak persyaratan surat-surat yang harus diurus mulai dari surat keterangan RT/RW, dan sebagainya. Sementara, di Singapura calon pengantin hanya perlu mendaftarkan file pengajuan permohonan pernikahan secara online di situs www.rom.gov.sg. Setelah data-data pribadi dimasukkan ke dalam sistem,  kami diharuskan membawa dokumen yang telah diverifikasi ke kantor Registry of Marriages atau ROM (semacam catatan sipil untuk urusan pernikahan di Singapura) sesuai dengan tanggal yang diinginkan. 
 
Selanjutnya, surat dokumen yang telah dilegalisasi dan dikeluarkan oleh kantor ROM harus dibawa pada tanggal pernikahan yang telah dicantumkan. Dua saksi pernikahan juga wajib dihadirkan dalam pernikahan nantinya. 
 
Namun, salah satu syarat menikah di Singapura adalah salah satu dari kami harus tinggal selama kurang lebih 15 hari sebelum dapat mengajukan permohonan menikah. Maka sayalah yang akhirnya tinggal di Singapura selama itu. Akan tetapi, pada saat hari pernikahannya, semua tamu dan keluarga bisa datang 2 hari sebelumnya saja.
 
Singapura menerima pernikahan warga negara asing di negaranya. Surat nikah yang dikeluarkan dari ROM pun diakui sah di Indonesia maupun negara lain. Untuk menikah di Singapura ada dua cara, bisa di Kantor ROM atau di tempat lainnya sesuai keinginan dari pasangan yang hendak menikah dengan menghadirkan official solemnizer dari kantor ROM. Total biaya yang kami keluarkan saat itu sekitar SGD 3000 (Rp28 juta) sudah termasuk jamuan untuk 20 orang dan biaya pernikahan. 
 
Kami memilih  menikah di sebuah restoran Italia bergaya kolonial di daerah Telok Belangah, namanya Alkaff Mansion Restaurante. Di restoran ini ada bagian taman yang cantik, di sinilah kami melangsungkan pernikahan bertema outdoor.     
 
Selain kemudahannya, letak Singapura yang sangat dekat dengan Indonesia juga menjadi pertimbangan lain. Hal ini memudahkan membawa keluarga inti kami untuk menyaksikan peristiwa paling penting dalam hidup kami. Yang menjadi saksi dalam pernikahan kami adalah ayah saya dan ayah dari suami saya. 
Satu-satunya kendala yang kami hadapi ketika mengurus pernikahan di Singapura adalah mencari tanggal dan petugas dari kantor ROM yang available untuk bisa menikahkan kami. Maklum saja, dalam sehari bisa puluhan pasangan menikah.
 
Dari pernikahan di Singapura, kami mendapatkan Certificate of Marriage, yang selanjutnya kami perlu daftarkan di catatan sipil di Indonesia untuk keperluan mengurus kartu keluarga dan dokumen lainnya.
 
Keputusan kami untuk menikah di luar negeri dengan hanya dihadiri oleh keluarga inti saja bisa diterima oleh teman-teman dan keluarga besar. Namun, untuk dapat berbagi kebahagiaan dengan keluarga besar dan teman lainnya, kami juga membuat acara resepsi di Jakarta pada tanggal 12 Mei 2012 di La Seine, Cyber 2 Building, Kuningan dengan mengundang 300 tamu.  
Advertisement
 
TERINSPIRASI ORANG TUA
Fella Karenina Susanti (32) dan Alberto (40)
Semua bermula dari pengalaman orang tua dan mertua kami yang pernah melakukan tur dan pembaruan janji nikah di Cana Wedding Church, Kanaan, Israel. Gereja ini adalah tempat Yesus pertama kali melakukan mukjizat, mengubah air menjadi anggur di sebuah resepsi pernikahan.
           
Ternyata suami selama ini memendam keinginan ziarah ke tanah suci Yerusalem, sehingga ia telah menyiapkan tabungan untuk pergi ke sana. Oktober 2007 menjadi waktu yang kami pilih untuk menikah sekalian tamasya ziarah di sana. Ketika rencana ini kami sampaikan kepada teman-teman, mereka kaget dan sempat menganggap kami terlalu nekat. Menurut mereka, biaya pernikahan akan terlalu besar. Israel kan jauh. Padahal, sebetulnya tidak besar juga biaya yang kami keluarkan saat itu.

Kebetulan kenalan kami memiliki biro tur ke Holyland, jadi acara nikah kami ini bisa dibilang diselipkan di dalam itinerary perjalanan selama dua minggu itu. Seru, ‘kan! Waktu itu, untuk satu orang dikenakan biaya tur sebesar 2.500 dolar AS (sekitar Rp32 juta). Saya hanya perlu mengeluarkan uang kurang dari Rp10 juta untuk sewa gereja, stipendium (sumbangan untuk pastor), ruang aula kecil di hotel untuk acara midodareni, dan acara makan-makan sederhana di restoran setelah pemberkatan.

Total ada 20 orang dari pihak keluarga, 2 saksi bersama keluarganya, dan seorang pastor yang kami ajak dalam rombongan. Saya hanya menanggung biaya tur sang pastor yang akan memberkati kami, sisanya bayar sendiri-sendiri.
           
Sebelum berangkat, saya sudah mengurus dokumen resmi yang dibutuhkan dari Gereja Katolik Santo Kristoforus Jakarta. Saya diharuskan membawa fotokopi surat baptis dan surat pengantar dari gereja di Indonesia yang telah diterjemahkan bahwa akan melakukan pernikahan di gereja yang dituju.

Karena tidak ada perjanjian kerja sama bilateral, maka gereja di Israel tidak bisa mengeluarkan surat nikah. Kami tetap disyaratkan untuk mengurus sendiri urusan surat-surat pernikahan sesuai hukum di Indonesia, termasuk pastor yang memberkati. Bisa dibilang, mereka hanya menyediakan tempat saja untuk pemberkatan.

Biar praktis, gaun pengantin saya pesan yang potongannya simpel saja. Sedangkan untuk dokumentasi, saya minta tolong adik yang kebetulan mengerti fotografi. Riasan pengantin, saya kerjakan sendiri! Ada untungnya juga saya suka berdandan. Ha ha ha….
Rencana menikah kami seharusnya tanggal 14 Oktober pukul 7 pagi, sebelum gereja buka agar tidak terganggu oleh kerumunan turis yang berkunjung. Namun, berdasarkan informasi pemandu lokal, hal ini tidak mungkin. Karena, turis sudah mengular di depan pintu gereja sejak pukul 6 pagi dan akan mengganggu jalannya pemberkatan.

Kami diberi pilihan untuk menikah sehari sebelumnya, pada 13 Oktober, pukul 10 malam usai gereja tutup. Agak shock juga karena rencana berubah mendadak. Tapi, kami tidak punya pilihan lain, sebab besok sudah harus bergerak tur ke kota lain.
           
Pemberkatan yang dilakukan oleh Pastor Fransiscus Susilo Nugroho, CP dan disaksikan oleh Pater Fransesco Maria, OFM dari Cana Wedding Church itu berlangsung selama dua jam. Pernikahan kami ikut dihadiri oleh pemandu lokal yang beragama Yahudi, dan seorang muslim Palestina. Mereka tidak keberatan mengikuti misa pemberkatan hingga usai.

Ketegangan ternyata masih berlanjut hingga kami kembali ke tanah air. Awalnya, validitas surat pernikahan kami sempat diragukan oleh Kantor Catatan Sipil. Pastor yang menjadi saksi pernikahan kami di Israel sempat mengatakan bahwa kami adalah pasangan pertama dari Indonesia yang menikah di sana. Sebelumnya, kebanyakan hanya melakukan pembaruan janji nikah seperti orang tua kami. Setelah menjelaskan panjang lebar bahwa semua surat-surat dari gereja di Indonesia, kami akhirnya mendapatkan surat pengesahan dari Kantor Catatan Sipil pada Desember 2007. Akhirnya sah juga secara hukum. Lega. (f)

 
 



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?