Foto: Fotosearch
Rasa curiga dan waswas terhadap penyakit infeksi menular seksual yang mengintai bisa mengurangi kualitas kehidupan bercinta kita bersama pasangan. Bahayanya lagi, kasus infeksi menular seksual, bahkan yang paling sederhana sekalipun, dapat terjadi pada wanita yang belum pernah melakukan
hubungan seksual. Bagaimana mungkin? Spesialis ginekologi, dr. Riyan Hari Kurniawan, SpOG, dari RS Dokter Cipto Mangunkusumo, Jakarta, mengupasnya untuk Anda, mulai dari cara penularan hingga pencegahannya.
APA ITU IMS?
Menurut penjelasan dr. Riyan, infeksi menular seksual (IMS) adalah sekumpulan gejala klinis dan infeksi yang disebabkan oleh patogen, seperti bakteri, virus, protozoa, jamur atau parasit, yang bisa didapat dan ditularkan melalui aktivitas seksual.
Pada umumnya, semua IMS dapat ditularkan melalui kontak langsung atau kontak cairan tubuh. Infeksi bakteri, misalnya gonorea, infeksi klamidia, sifilis, HIV, herpes genitalis, kutil kelamin, hepatitis B, infeksi trikomonas (protozoa), atau infeksi candida albicans (jamur).
“Aktivitas seksual yang sehat bertanggung jawab serta mengetahui riwayat seksual pasangan, menjadi cara preventif agar Anda terhindar dari penularan penyakit seksual,” lanjut dokter yang juga berpraktik di RS PELNI, Jakarta Barat, ini.
HATI-HATI MELAKUKAN WAXING
“Waxing pada area genitalia berpotensi pada risiko terjadinya perlukaan yang sifatnya mikroskopis, atau sangat kecil. Dengan adanya hal ini, maka akan makin memudahkan masuknya patogen IMS ke dalam tubuh, yang akhirnya menginfeksi penderita IMS baru,” jelas dr. Riyan. Melakukannya dengan bantuan tenaga profesional tentu akan membantu. Pilih jasa yang menyediakan tempat perawatan yang memperhatikan sterilisasi peralatan, dan menyediakan tenaga ahli yang terlatih atau tersertifikasi. Sebab, Anda tidak tahu apakah pengguna jasa sebelum Anda bukan penyandang penyakit IMS.
TRANFUSI DARAH
Hal ini mungkin terjadi saat darah yang ditransfusikan untuk tubuh Anda ternyata terinfeksi virus HIV. Namun, dalam tiga dekade ke belakang, usaha penyaringan yang dilakukan pada para pendonor darah telah canggih. Misalnya, dengan melakukan tes untuk tiap kantong darah dari kemungkinan keberadaan antibodi HIV-1 dan HIV-2
“Untuk meminimalkan terjadinya hal ini, lakukan transfusi darah hanya jika benar-benar diperlukan. Lakukan transfusi di fasilitas kesehatan yang benar, dengan prosedur pengadaan darah yang benar. Pastikan jarum pengambilan darah menggunakan jarum baru yang steril,” pesan dr. Riyan.(f)
Topic
#infeksimenularseksual