Sex & Relationship
Dilema Suami Bekerja di Rumah

13 Apr 2016


Suami memutuskan bekerja dengan status freelance agar bisa mengawasi pertumbuhan anak tunggal kami yang masih berusia 7 tahun. Saya (29) bekerja full time di kantor dan anak pun senang dengan keputusan itu. Akan tetapi, saya merasa gerah dengan omongan dari keluarga dan lingkungan yang memojokkan.
 
Marisa – Depok
 
Saran Irma
Anda dan suami tentu ingin memberikan yang terbaik pada anak dengan hadir dalam pertumbuhannya. Ini menunjukkan bahwa bagi keluarga inti,  kesetaraan antara suami dan istri sudah berjalan. Hak dan kewajiban dalam rumah tangga bisa dipikul bersama.  Anda berdua juga beranggapan bahwa  anak akan mendapat banyak keuntungan dalam  perawatan, perkembangan dan pendidikannya apabila  salah satu orang tuanya tinggal di rumah dan bekerja dari rumah.
Tetapi, tidak semua keluarga bisa berbagi pandang dan pola hidup seperti ini. Mereka belum bisa menerima sudut pandang dan pola hidup keluarga Anda. Bukan karena buruk, tetapi karena mereka tidak terbiasa dengan cara itu. Memang reaksi mereka cukup mengganggu. Tetapi, perlu dimengerti bahwa pada dasarnya mereka tidak bermaksud buruk. Anda pun tidak perlu mengubah cara pandang mereka.
Advertisement
 
Anda berdua justru  harus menunjukkan bahwa keputusan ini sudah  dipikirkan dan dipertimbangkan dengan matang. Hadapi keluarga besar dengan sikap tenang, saring masukan mereka, terima kritik yang membangun. Kerja sama yang baik di antara orang tua akan menciptakan suasana penuh kasih sayang di rumah.
 
Saran Monty
Kecenderungan pria bekerja di rumah dan wanita bekerja di kantor memang masih relatif langka di Indonesia, dan bahkan di negara-negara Timur. Tetapi, kondisi tersebut sudah cukup lama berlangsung di negara Barat tanpa menimbulkan kecemasan pasangan.
Jika Anda merasa pilihan Anda berdua adalah baik, mengapa pula Anda harus peduli pada cemooh orang lain yang tidak turut berpartisipasi apa pun dalam perkembangan keluarga Anda. Mereka punya hak bicara, tetapi Anda juga punya hak menentukan jalan hidup Anda, dan bukan menyerahkan kebijakan hidup Anda ke tangan orang lain.

Jadi, sebaiknya Anda jangan terlalu memikirkan pandangan orang lain yang belum tentu sesuai dengan kondisi kehidupan Anda. Mereka berpendapat sesuai dengan sudut pandang mereka. Sebagaimana Anda memiliki hak mengambil keputusan dan sikap selaras dengan kondisi kehidupan Anda. Anda tak harus sama dengan orang lain. Berbeda bukanlah hambatan bagi individu dan keluarga untuk berkembang.(f)
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?