Pekerjaan saya di bidang marketing membawa saya bertemu banyak orang, termasuk seorang mantan pacar masa kuliah. Karena sudah menikah, saya berusaha fokus untuk hanya membahas pekerjaan dengannya. Lama-lama, mantan pacar mulai berani mengirimkan pesan teks seperti “Sudah makan siang belum?” Saya ternyata merasa senang ditanya seperti itu. Saya sangat mencintai suami saya, tapi saya juga merasa senang dan bersemangat jika bersama mantan pacar. (S)
Kata Irma Makarim:
Intensitas pertemuan dengan seseorang yang dekat di hati di masa lalu memang mudah menyalakan kembali api cinta yang telah padam. Seperti yang Anda hadapi saat ini, situasi kerja membuat Anda terhanyut dengan keintiman masa lalu, walau tanpa disengaja.
Jangankan dengan mantan kekasih, kedekatan komunikasi dengan lawan jenis memang rentan membuat seseorang ‘terpeleset’ dalam hubungan perselingkuhan. Apalagi jika hubungan Anda dengan suami tidak kokoh dan sedang dalam masalah. Itu sebabnya, curhat atau segala bentuk kedekatan emosi yang bisa terbentuk dengan lawan jenis sebaiknya dihindari jika seseorang telah menikah.
Kata Monty Satiadarma
Tidak ada hal yang sulit dilakukan jika niat Anda sungguh-sungguh. Masalahnya Anda sendiri membiarkan diri terbuai kenangan lama masa sekolah, dan jalinan emosional yang terbentuk di masa lampau kini mengontaminasi jalinan emosional hubungan Anda dengan suami. Tiap individu memiliki kendali diri (self control) dan aspek kendali diri inilah yang menentukan langkah benar dan tidak benar dari seorang individu.
Aspek kendali diri ini juga yang menentukan kelayakan dan ketidaklayakan perilaku. Orang lain tidak bisa mengendalikannya, melainkan harus dilakukan oleh diri sendiri. Jika dilakukan oleh orang lain akan dirasakan menjadi belenggu.
Padahal, kondisi yang Anda alami sekarang mirip dengan belenggu, yaitu belenggu emosional masa lampau. Oleh karena itu, Anda harus mampu melepaskan diri dari belenggu perasaan tersebut dan bukan sebaliknya, membiarkan diri terbuai oleh belenggu itu. (f)