Kamar temaram, ranjang kayu, dan matras putih yang tertutup kelambu halus disibakkan oleh sepasang suami-istri yang sedang dilanda gairah. Gerakan keduanya harmonis seperti koreografi, berakhir dengan posisi missionary di mana sang istri di bawah. Tubuh mereka terhalang cahaya remang-remang, hanya meninggalkan bahu ke atas atau paha ke bawah yang terekspos. Adegan percintaan klasik seperti inilah yang kerap terlihat di film-film Mandarin. Walaupun sebetulnya adegan ini lumayan ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan situasi masyarakat Tiongkok kini yang sudah makin terbuka soal seks dan seksualitas.
Sebagai bangsa yang sudah berusia ribuan tahun, Tiongkok memiliki banyak nilai tradisional dan konvensional. Tapi, bangsa dengan sejarah paling panjang sekalipun, tidak bisa luput dari pergeseran nilai yang di era digital ini menjadi begitu terakselerasi. Sementara televisi dan radio masih diatur ketat oleh pemerintah, internet dan teknologi rupanya telah mengubah permainan cinta dan relationship mereka menjadi lebih kebaratan daripada ketimuran.
Berita-berita yang sensitif makin mudah diakses. Masyarakat Tiongkok juga memiliki minat tinggi terhadap dunia hiburan dari Barat. Serial-serial televisi seperti Girls atau Masters of Sex bisa ditonton online. Dengan banyaknya serial Hollywood yang bisa diakses lewat internet, juga bermunculannya berbagai aplikasi digital yang bisa mempertemukan orang untuk kencan buta seperti Momo dan Tantan, telah memengaruhi attitude tentang seks dan seksualitas.
Masyarakat Tiongkok juga makin menganggap bahwa seks adalah bagian penting dalam hidup. Menurut survei Durex tahun 2011, 86% dari 2.000 responden di Cina menganggap seks sebagai kebutuhan vital. Orang pun kehilangan keperawanannya di usia yang semakin muda, yaitu sekitar 21 tahun, sementara mereka yang berusia 19-25 tahun sebanyak 60% sudah pernah berhubungan seksual.
Perubahan ini bukan tanpa efek samping. Penyakit menular seksual angkanya meroket. Sebanyak 10 juta pil morning after per tahunnya dijual bebas di counter atau apotek umum. Sementara, menurut The Star, dilansir ada sebanyak 13 juta aborsi dilakukan per tahunnya di Tiongkok.
Namun, di saat yang bersamaan, keperawanan masih menjadi isu utama dalam hubungan seksual di Tiongkok, bahkan di kota besar sekalipun. Dalam bukunya, Behind The Red Door: Sex in China, Richard Burger melansir bahwa tiap tahunnya, ribuan wanita Tiongkok menjalani operasi restorasi selaput dara yang memakan biaya sekitar 4.400 yuan. Mereka yang tidak mampu, bisa membeli selaput dara palsu di sex shop, yang akan mengeluarkan cairan serupa darah bila terjadi penetrasi.(f)