Sex & Relationship
5 Alasan Salah untuk Menikah (1)

6 Nov 2016


Foto: Fotosearch

Banyak dari kita beranggapan bahwa tujuan akhir masa pacaran adalah menikah. Namun, bukan berarti kita jadi memaksakan diri menikah karena alasan tertentu. Seperti alasan-alasan salah untuk menikah yang berikut ini, jangan sampai malah bikin kita menyesal selamanya!
 
1. Menyenangkan orang lain
Selama jalan dengan pacar, ortu kita kelihatan merestui hubungan kita dan pasangan. Begitu juga keluarganya yang sudah menganggap kita jadi bagian dari mereka. Nggak heran setiap acara keluarga, ibu pacar selalu bertanya kapan kita siap dilamar. Sementara ortu kita pun sudah heboh ingin punya cucu—gubrak! Memang, sih, sebagai anak kita wajib membahagiakan ortu, tapi bukan berarti wajib merelakan status single kita demi kebahagian orang lain. Memangnya kalau kita nggak bahagia setelah menikah mereka juga mau menanggungnya? Belum tentu, kan....
 
2. Diburu umur
Biasanya wanita senang banget bikin target menikah di umur 25 tahun. Selain dianggap cukup matang, kita pun merasa sudah punya tabungan yang memadai saat itu. Kenyataannya... planning tadi belum terlaksana padahal saat ini usia kita sudah mencapai 28 tahun. Yang bikin lebih miris lagi, nih, kita belum punya pacar serius sampai sekarang. Eits, urusan menikah tidak perlu dihubung-hubungkan dengan usia seseorang. Sayangnya di Indonesia wanita single berusia 28 tahun ke atas sering dicap telat menikah. Anggapan ini yang akhirnya bikin kita nggak nyaman ketika (memilih) melajang.
 
3. Sandaran materi
Advertisement
Punya pacar yang royal dan nggak pernah hitung-hitungan pastilah menyenangkan. Ingin makan enak saat nggak punya uang, dia siap mentraktir. Nggak punya pulsa, eh... pacar malah menghadiahi kita ponsel dengan nomor pascabayar tanpa harus pusing lagi membayar tagihannya. Saking nyamannya, kita berniat berhenti bekerja begitu si dia mengajak serius—kayaknya dia sanggup menghidupi kita, deh. Mungkin pacar nggak keberatan menanggung hidup kita karena keuangannya memang lebih mapan untuk saat ini. Nah, seandainya pasangan di-PHK dan sulit mencari kerja lagi, bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga yang semakin mahal? Lagian selalu 'mengemis' kepada suami cuma untuk membeli sepatu bermerek atau mengganti ponsel keluaran terbaru setelah menikah sama sekali nggak keren, ah.
 
4. Takut sendirian
Jika punya keluarga kecil yang harmonis, kan, setidaknya kita nggak perlu mati sendirian dan terlupakan. Tinggal minta anak atau cucu untuk merawat kita hingga akhir hidup. Kalau memang takut sendirian, bagaimana dengan ortu yang mungkin masih membutuhkan kita di rumah untuk merawat mereka—persis seperti rencana kita semula. Sebaiknya, sih, jangan menikah hanya sebagai cara untuk menyelamatkan diri sendiri saja. Lihat saja banyak orang tua di panti jompo yang justru ditinggalkan oleh keluarganya sendiri. Tragis, kan? 
 
5. Lepas dari ortu
Belakangan kita selalu kena omelan ortu gara-gara sering pulang malam. Padahal kita memang sedang sibuk dengan urusan kantor, bukan karena pacaran seperti yang dituduhkan mereka. Berhubung bosan mendengarnya, kita pun memutuskan menikah sesegera mungkin dengan pacar biar lebih bebas ke mana-mana. Wah, jangan panas dulu! Wajar banget kalau ortu cemas terhadap keselamatan kita sebagai anaknya. Mungkin menurut mereka omelan bakal efektif untuk menakuti kita sehingga mau menuruti perintahnya. Meski kita malah makin sebal karena merasa dibatasi dan dianggap anak kecil terus, tapi menikah pun nggak akan memecahkan masalah. Mending kita jelaskan kepada ortu bahwa kita sudah dewasa dan minta mereka untuk memercayai kita. Kalau bisa menunjukkan sikap bertanggung jawab, rasanya mereka nggak bakal bawel lagi, deh. (f)

Baca juga:
Alasan Mengapa Wanita Lebih Terobsesi Menikah
Kapan Pria Siap Menikah? 
Ramai Perbincangan tentang Rey Utami, Berapa Lama Waktu Pendekatan Ideal Sebelum Menikah?


Topic

#menikah

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?