Naya, 27, Lajang, Freelancer
Saat ini, saya baru saja putus dari kekasih, setelah hubungan kami berjalan hampir satu tahun. Jujur, sampai saat ini, meski kami sudah putus, saya tidak ingin menutup kemungkinan jika ia memang jodoh saya. Menurut saya, hubungan kami bisa kembali baik, jika ia bisa berubah seperti keinginan saya.
Kalau soal cinta, saya memang cenderung keras kepala, terutama dalam memegang prinsip bahwa seseorang itu bisa berubah. Walaupun banyak orang bilang, termasuk ibu saya, bahwa sulit mengubah sifat dan perilaku seseorang yang sudah terbentuk puluhan tahun, saya cuek saja. Saya tidak peduli orang mau bilang apa, saya akan tutup kuping.
Namun, saya sadar, ketika saya tidak berhasil mengubah seseorang, dan jika hubungan kami harus berakhir, saya tidak boleh menyesal. Sakit sudah pasti, tapi saya terima risikonya. Prinsip saya, tiap orang bisa berubah. Kalau memang akhirnya dia tidak sesuai harapan saya, ya, itu proses yang harus dijalani.
Belum lama ini, saya putus dengan seorang pria, problemnya adalah komitmen. Jujur saja, target saya pacaran adalah pernikahan. Mantan kekasih sepertinya masih ingin pacaran dulu. Sedangkan saya, melihat hubungan pacaran kini makin banyak godaannya, jadi lebih baik cepat-cepat disahkan saja.
Bukannya mau sok suci, tapi saya termasuk wanita yang memegang teguh prinsip no sex before marriage. Walaupun di lingkungan pertemanan, seks sebelum menikah itu sudah biasa, saya tidak ikut-ikutan.
Kepada pasangan, saya meminta pengertiannya. Tapi, saya tak mempersalahkan bila sebelumnya ia sudah berhubungan seks dengan pasangan terdahulu. Yang terpenting, ketika bersama saya, ia bisa menghormati prinsip saya ini.
Sulit menyatukan dua pandangan yang berbeda. Namun, ketika kami tak bisa sejalan, rasanya berpisah memang cara yang terbaik. (f)
Baca juga:
Millennial: Kami Mengharapkan Pernikahan!
5 Tanda Pria Siap Menikah
5 Alasan Salah untuk Menikah
Faunda Liswijayanti
Topic
#millennialmanual