“Menantangnya lebih di awal produksi ketika saya harus ikut acting class bareng pemeran lainnya. Pertama kali bertemu Chicco dan Ruli (Maruli Tampubolon) rasanya grogi banget. Saat latihan, kan, masih malu disuruh lihat matanya. Ngeri gitu… ha ha ha. Saat itu saya harus melewati batasan-batasan comfort zone saya. Kalau menyanyi, kan, sesuai comfort zone saya, tapi akting sangat di luar batasan itu."
“Namun setelah dibantu dengan set, melihat situasi lokasinya, di mana kita harus menaruh emosi, sudah jauh lebih mudah. Untungnya kami diberikan waktu cukup lama untuk mebangun emosi masing-masing karakter, mulai Januari sampai Oktober. Jadi nggak baru ketemu langsung syuting,” cerita Raisa.
Pengalaman syuting ini pun dimanfaatkan Raisa untuk mencuri ilmu baru. Katanya, sih, selama syuting Raisa jadi orang yang paling banyak bertanya.
“Untungnya semua orang di produksi nggak pelit ilmu. Saya merasa sangat terbantu. Malah saya merasa lebih tertantang karena melihat akting lawan mainnya bagus-bagus banget. Itu bikin saya terpacu untuk terus belajar dan belajar. Rajin mendalami skrip,” ujar.
Wih, salut!
Dian Probowati
Baca juga: Raisa menjajal akting, bukan aji mumpung