Ketika tidur, korteks—bagian otak yang berperan untuk berpikir, menyimpan memori, serta mengatur bahasa—akan beristirahat dan memulihkan diri. Jika tidur kita cukup, otak pun akan kembali fresh dan kita tidak akan mengalami kepenatan berpikir. Sebaliknya, jika waktu tidur berkurang, kita rentan terkena depresi dan mudah marah. Hal ini tidak berlaku bagi pria karena emosi mereka tetap stabil meskipun waktu tidurnya berkurang.
Amy mengungkapkan, tidur meringkuk seperti janin memberi pesan kepada tubuh bahwa kita merasa lemah. Tanpa sadar, ketika bangun tidur kita akan menjadi kurang bersemangat untuk bekerja. Kita juga lebih sensitif dan emosional. Jika ingin performa kerja meningkat, Amy menyarankan tidur dalam posisi telentang dengan tangan dan kaki terbuka. (FAI/FOTOSEACRH)