Foto : Pexels
Stereotip yang Mendunia
Orang Yahudi hanya peduli soal uang, orang berambut pirang sebagai orang yang tidak cerdas, penduduk asli Amerika memiliki kekuatan supranatural, orang Amerika Latin cenderung kriminal, anggota geng, penyelundup narkoba. Orang Asia Timur lihai bela diri, orang berkulit hitam akrab dengan musik R&B, sementara orang Timur Tengah yang miskin teroris, yangkaya keluarga kerajaan yang gemar foya-foya.
Dalam masyarakat Indonesia, dan kemudian kerap diadaptasi dalam film, etnis Jawa kerap digambarkan sebagai orang yang lamban, orang Sumatra Utara bersuara lantang dan hobi menyetir mobil dengan cepat dan ugal-ugalan, orang Sumatra Barat dan Tionghoa jago berdagang, dan lain sebagainya.
Menurut Novi Kurnia, M.Si, M.A, pengajar mata kuliah Kajian Film dari Fakultas Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Gajah Mada, film adalah elemen sentral dalam kehidupan masyarakat modern yang mempunyai ‘ruang’ untuk merepresentasikan berbagai identitas.
Sebagai ilustrasi, Novi mencontohkan film Berbagi Suami (2006) karya Nia Dinata yang memberikan tawaran representasi gender yang berbeda dan tidak stereotip. Dalam salah satu kisah poligami di film tersebut merepresentasikan kekuatan wanita untuk memutuskan mata rantai perkawinan poligami yang heteroseksual dan didominasi laki-laki, dengan hubungan monogami sesama jenis melalui karakter Siti dan Dwi.
Tawaran yang menggunakan sudut pandang feminis ini menantang representasi poligami di beberapa film Indonesia lainnya yang cenderung memenangkan karakter laki-laki dengan sudut pandang yang patriarkat, seperti terdapat dalam Ayat-Ayat Cinta (2008).
“Film yang bagus --dan semoga bisa memberi ‘pengaruh’ yang baik untuk khalayak/masyarakat– adalah film yang dibuat secara jujur, teliti dan open-minded. Jujur dalam membuat film penting untuk bisa menyampaikan narasi yang jernih dari pemikiran yang matang atas gagasan yang ingin disampaikan melalui film," lanjut Novi.
Teliti diperlukan karena tanpa riset yang matang dan tanpa membuat perencanaan produksi yang detail, film kurang bisa hadir secara utuh. Bersikap dan berpikir terbuka sangat penting agar film tidak jatuh pada narasi ‘sempit’ tentang identitas (baik gender maupun ras/etnis) yang cenderung stereotip,” jelas wanita yang mengangkat topik wanita sutradara Indonesia setelah Orde Baru dalam disertasinya pada tahun 2014 ini.
Ketiga hal tersebut, menurutnya, sangat penting dalam produksi film. Khususnya film Indonesia, terutama pada masa kini, ketika masyarakat Indonesia cenderung terpecah belah akibat perpecahan politik elitis yang membawa pengaruh pada masyarakat luas yang lebih terkotak-kotak, baik secara agama maupun etnis.
Topic
#review, #film