Foto: Dok. Mooryati Soedibyo Cinema
Retno Ratih Damayanti, penata busana untuk film kolosal ini mengaku kesulitan mencari referensi. “Riset tahun 1600-an itu memang sangat minim. Yang pasti batik pada zaman itu hanya di bikin oleh keluarga kerajaan, dan yang memakai hanya keluarga dan para petinggi kerajaan. Saya juga menemukan beberapa data tentang Sunan Kalijaga yang memakai lurik dan sorjan,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski tidak menemukan data motif pasti yang digunakan oleh raja masa itu, tapi buat sehari-hari Retno pikir logis kalau raja dan petinggi kerajaan memakai lurik. Itulah yang menjadi dasar Retno dalam menggarap busana yang dikenakan para pemain dalam film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta.
“Lurik dengan garis-garis besar itu biasanya untuk pembesar, sementara yang garis kecil-kecil untuk kelas bawah,” ujar wanita yang pernah tiga kali meraih piala Citra sebagai penata busana terbaik lewat film Habibie & Ainun, Soekarno, dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto ini.
Hasilnya, lurik gerimis berwarna terang yang dikenakan para penari keraton, menyegarkan mata di tengah film yang banyak menampilkan kegetiran itu. Selain motif lurik yang garis-garis, ia menggunakan kain tenun polos yang diwarnai menggunakan pewarna alam untuk dikenakan rakyat kebanyakan dalam film. (f)
Baca Juga:
Mengenal Raja Mataram Terbesar Lewat Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta
BRA. Mooryati Soedibyo Wujudkan Impian Membuat Film Tentang Sultan Agung di Usia 90
Marthino Lio Belajar Banyak dari Film Kolosal Sultan Agung
Topic
#sultanagung, #filmindonesia