Foto: Dok. Visinema
Harta yang paling berharga adalah keluarga…
Istana yang paling berharga adalah keluarga…
Setelah lebih dari satu dasawarsa, dari layar kaca, Keluarga Cemara merambah layar lebar lewat film berjudul sama: Keluarga Cemara. Diperankan oleh Ringgo Agus Rahman sebagai Abah dan Nirina Zubir sebagai Emak, film ini ingin kembali mengetengahkan bagaimana keluarga adalah tempat kita pulang, menemukan cinta dan bertumbuh bersama.
Keluarga Cemara lahir lewat tangan dingin penulis senior Arswendo Atmowiloto yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada tahun 1980-an. Novel ini awalnya dibuat berseri, dengan judul: Keluarga Cemara, Musik Musim Hujan, Kupon Kemenangan, Tempat Minum Plastik dari Toko, Becak Emak dan Bunga Pengantin.
“Hingga saat ini, novel ini sudah berkali-kali cetak ulang dengan sampul yang berbeda-beda. Cetakan terakhir adalah sampul dengan foto pemain film Keluarga Cemara,” ujar Dionisius Wisnu dari GPU, sambil mengatakan bahwa momen terbaik penjualan novel terjadi ketika sinetronnya sedang tayang di televisi.
Keluarga Cemara dihidupkan oleh lima tokoh utama: Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil. Tinggal di rumah yang sederhana, sehari-hari Abah menafkahi keluarga dengan menarik becak. Emak membantu mencari uang dengan membuat opak, yang sebagian dijajakan oleh anak-anak mereka. Euis berjualan di terminal, dan Ara, ketika mulai beranjak besar, juga ikut membantu kakaknya berjualan.
Mereka memang sering kekurangan uang, hidup sederhana, namun Abah yang sabar dan bijak bisa menenangkan tiap gejolak yang muncul dalam rumah tangganya. Sebelum miskin, mereka adalah keluarga kaya. Abah adalah pengusaha sukses di Jakarta. Namun, karena satu hal, demi menegakkan kejujuran, Abah harus kehilangan seluruh kekayaannya.
Sementara Agil (Pudji Lestari), si bungsu, hanya mampu mendengar cerita orang tua dan kedua kakaknya, karena ia tak ikut menikmati masa-masa jaya itu. Agil hanya sering membayangkan bagaimana kehidupan sebagai orang berada.
Ketika diangkat menjadi sinetron, Adi Kurdi mampu menghidupkan tokoh Abah dengan sangat baik. Dengan nada bicaranya yang kalem dan wajah kebapakan, pemain peran senior ini berhasil menghidupkan tokoh ayah. Ayah yang menyimpan kepedihan karena nasib yang harus dijalani keluarganya, tetapi juga tetap meniupkan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya, bahwa segala kesulitan pasti akan ada solusinya.
Sementara Emak, diperankan oleh Novia Kolopaking (lalu digantikan oleh Aneke Putri dan kemudian Lia Waroka). Akting Adi-Novia harus diakui menjadi magnet yang demikian kuat menarik perhatian pemirsa televisi, selain tentu saja kisah lugu dan naïf, juga sering mengharukan, jatuh bangun Euis, Ara, dan Agil yang mengalami ‘sakit pertumbuhan’ di tengah hidup yang sulit. Interaksi dan cinta mereka satu sama lain yang meneguhkan adalah gambaran sempurna istilah yang saat ini begitu populer: #bahagiaitusederhana.
Film Keluarga Cemara produksi Visinema Pictures ini akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 3 Januari 2019 mendatang. Namun sebelumnya, film yang disutradarai Yandy Laurens ini akan world premiere dalam ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang berlangsung pada 27 November - 4 Desember 2018. (f)
Baca Juga:
3 Buku Pilihan Minggu Ini: The Courage To Be Dislike, Tempat Terbaik di Dunia, Marketing to Gen Z
Petualangan Rasa Aruna dan Lidahnya
Topic
#keluargacemara, #review, #filmindonesia