Reviews
Film Dokumenter dan Dukungan untuk Kemanusiaan
9 Aug 2017
Meski memiliki kekuatan sebagai medium perubahan, tak mudah untuk mencari investor yang bersedia membiayai film yang tidak bertujuan memberikan keuntungan materi. Demi menyokong pembuatan film-film dokumenter independen itulah, program Good Pitch dibentuk tahun 2008 di Inggris.
Program ini lahir dari inisiatif lembaga dokumenter BritDoc dan Institut Film Sundance ini terbangun akibat proyek-proyek dokumenter di Inggris terancam surut karena hilangnya dukungan dari lembaga pemerintah seperti BBC. Program Good Pitch pun menggandeng sejumlah rekan baru dari berbagai kalangan untuk mendukung pembuat film dokumenter mendapatkan bantuan dalam berbagai bentuk, mulai dari kucuran dana, tempat penayangan, relasi, publikasi, konsultasi pro bono, kebijakan pemerintah, dan banyak lagi.
Upaya ini cukup sukses bahkan melakukan perluasan jaringan ke beberapa negara di Eropa dan Amerika. Sekitar 3.000 organisasi telah terlibat kerja sama untuk mendukung lebih dari 127 film dokumenter yang beberapa di antaranya mendapat penghargaan di berbagai festival dunia.
Tahun ini, Good Pitch melebar ke region Asia Tenggara atas inisiasi organisasi nirlaba film dokumenter lokal In-Docs yang didukung oleh JIA Foundation Singapore, Ford Foundation, dan BRITDOC. Yang membanggakan, perhelatan Good Pitch
2 South East Asia 2017 yang pertama kalinya digelar di Asia Tenggara ini juga menampilkan karya sineas Indonesia,
Shalahuddin Siregar, yaitu
Song for My Children, yang terpilih bersama tiga film dokumenter lain untuk ikut ditayangkan
trailer-nya di Goethe Haus Jakarta pada 4 Mei lalu.
Trailer film lainnya yang dipresentasikan adalah Audio Perpetua (Filipina), Intuition (Singapura), dan Sunday Beauty Queen (Filipina).
Keempat sutradara itu sebelumnya telah melalui tahap seleksi yang diadakan pertengahan Juli 2016. Mereka terpilih dari sekitar 80 proposal yang masuk ke Good Pitch. Setelah keempat sutradara itu terpilih, selanjutnya mereka dibekali program
mentorship selama 6 bulan.
Mei lalu, keempat sutradara terpilih tersebut melakukan presentasi di hadapan lebih dari 400 undangan yang mewakili 200 organisasi dari 10 negara. “Agar bisa tembus dalam seleksi
pitching Good Pitch akan dinilai tiga hal, yaitu apakah idenya bagus, pembuatnya pernah membuat film yang kualitasnya sudah diakui, dan terpenting harus bisa meyakinkan filmnya akan memiliki
impact yang kuat,” jelas
Mandy Marahimin, Outreach Director Good Pitch
2 South East Asia.
Dari keempat film dokumenter, baru film
Sunday Beauty Queen yang sudah rampung. Film sudah diputar di 21
st Busan International Film Festival 2016 dan Far East Film Festival 2017. Film ini pun berhasil menuai penghargaan Best Picture di Metro Manila Film Festival dan Audience Award Winner pada CinemAsia Film Festival 2017.
Program Good Pitch
2 South East Asia sukses menghasilkan lebih dari 160.000 dolar AS (Rp2,1 miliar) dukungan dana dan kerja sama dengan lebih dari 100 pihak. Meski demikian, ajang Good Pitch bukan hanya menjadi
pitching forum untuk para pembuat film dokumenter mendapatkan sokongan dana dan pendistribusian filmnya, tapi juga menekankan kerja sama antar banyak pihak. Misalnya saja, LSM, filantropis, wirausaha, korporasi, jaringan televisi, pendidik, pembuat kebijakan, dan para pelopor gerakan sosial yang berminat menggunakan film dokumenter sebagai instrumen pemicu perubahan dalam masyarakat.
“Jadi, ada berbagai segmen masyarakat dirangkum, diajak berkolaborasi untuk membuat film dokumenter, dan jangkauannya pun lebih banyak,” ujar Amelia Hapsari, Direktur Program Good Pitch2 South East Asia. Program Good Pitch2 South East Asia rencananya akan diadakan dua tahun sekali. Informasi mengenai program ini bisa dilihat di situs goodpitch2sea.org. (f)
Baca juga:
Topic
#filmdokumenter