Profile
Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta dan Ribuan Tantangan untuk Membangun MRT Jakarta

19 Nov 2017



Foto: Agustina Selviana
 
24/7 hingga Maret 2019
Bekerja di bidang yang masih didominasi pria tidak membuat Silvi membatasi diri hanya karena dirinya wanita. “Tentu diskriminasi tetap ada. Contohnya, dulu ketika masih menjadi insinyur muda dan harus berhadapan dengan kontraktor, mereka sempat memandang rendah karena saya seorang wanita, masih muda pula, bisa apa?” katanya.

Silvi tidak terintimidasi. Ia mengatakan bahwa cara menghadapi diskriminasi seperti itu adalah dengan fokus saja pada pekerjaan.

“Sebagai engineer, tugas saya apa. Ya sudah, kerjakan saja tugasnya. Biarkan hasil kerja sebagai bukti. Setelah saya melewati hal itu ya itu just flow,” kata penyuka jogging ini.

Menurutnya, pekerjaan itu tidak mengenal gender, karena dikerjakan oleh pria maupun wanita, tantangan yang dihadapi sama. “Jadi, fokus saja pada pekerjaan, let outcome be the voice. Kalau misalnya ada orang yang meragukan, lihat saja pada hasilnya,” ujarnya, seraya bersyukur bahwa selama ia bekerja lebih banyak menemui orang yang bekerja dengannya tidak mempermasalahkan gender.

Interaksi Silvi di lapangan dengan para pekerja konstruksi juga dengan staf-nya di kantor, membuat alumnus SMA Don Bosco II Pulo Mas, Jakarta ini terlihat sebagai sosok yang membumi. Ia terlihat bisa luwes menempatkan diri, dan tidak membentangkan jarak yang membuatnya sulit dijangkau.

Padahal, ketika tahun lalu ia menerima pekerjaan sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, keputusannya itu dipertanyakan banyak orang, termasuk teman-teman dekatnya. Maklum, sebelum pulang ke Jakarta, Silvi bisa dibilang sudah enak dan nyaman dengan posisinya sebagai Project Manager Road Projects Group, Land Transport Authority (LTA), Singapore.

“Di sana, segala sesuatu sudah teratur dan sudah ada SOP-nya. Namun, saya melihat ini adalah proyek menantang. Dampaknya besar bagi masyarakat. Ketika saya di LTA, sebagai PNS Singapura, saya dibangun oleh ide-ide tentang public service yang benar-benar harus mempunyai impact ke masyarakat. Jadi, kalau ingin membuat perbedaan di masyarakat dengan proyek yang kita kerjakan, ya, di sinilah tempat memenuhi kriteria tersebut,” kata wanita kelahiran Jakarta yang pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Palembang ini.
Advertisement

Karena itu, tak pernah ada kata ragu bagi Silvi untuk pulang kampung. Menurutnya, jika ingin bertumbuh dan berkembang, seseorang tidak bisa terus-menerus berada di comfort zone. Justru ketika seseorang menceburkan dirinya ke hal-hal yang sulit, maka ia akan menemukan kekuatan dan kelemahannya sekaligus sehingga ia bisa terus berkembang. Meski, katanya, teman-temannya memberikan deskripsi yang minor mengenai cara bekerja orang Indonesia.

“Ya, harus diakui, reputasi cara kerja orang Indonesia dianggap buruk, karena dianggap lambat dan selalu on time alias tidak mau banyak lembur. Tapi, begitu saya bekerja dengan rekan-rekan di sini, semua anggapan itu salah,” ujarnya, sambil menyebut, MRT Jakarta dikerjakan oleh tim yang kompeten dan tidak hitung-hitungan dengan jam kerja.

Silvi mengakui, dirinya memang terbawa ritme kerja orang Singapura yang sangat kompetitif. “Saya tidak tahu, apakah itu baik atau buruk, tetapi seperti orang Singapura pada umumnya, saya agak-agak workaholic,” ujar lulusan insinyur sipil dari Nanyang Technological University, Singapura, ini sambil tertawa.

Silvi tahu, pekerjaannya saat ini memang menyita waktunya sedemikian banyak. Karena itu, ia tidak muluk-muluk menghabiskan me time (kalau bisa disebut me time, katanya).

“Ada waktu untuk tidak memikirkan sejenak pekerjaan, itu sudah cukup,” ujarnya, lagi-lagi tertawa. Traveling yang bersifat murni pekerjaan pun sudah ia coret dari jadwalnya hingga nanti MRT Jakarta
beroperasi, Maret 2019.

“Paling kalau ada weekend yang agak longgar saya pergi ke Bali karena punya keluarga di sana, atau ke Singapura bertemu teman-teman,” ujarnya, ketika dipaksa memberi tahu bagaimana caranya menghabiskan waktu luang. Bagaimana dengan spa? “Hmm… boleh juga, ya, dicoba,
ha… ha… ha….” (f)

Baca juga: Ratih Citra Sari, Menembus Belantara Demi Membantu Pasien Korban Bencana
Seni Lintas Batas Bagi Tintin Wulia, Wakil Indonesia di Venice Art Biennale 2017



Topic

#wanitahebat, #profil, #MRTJakarta

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?