Foto: Dok. Pribadi
Kebahagiaan Shindy di atas podium Rinjani 100 Ultra terekam dalam foto kemenangan yang kini tersebar di berbagai forum media sosial. Namun, kejadian itu tetap saja masih terasa seperti mimpi baginya. Bagaimana tidak, di antara peserta dari Kamboja, Prancis, Jerman, Hungaria, Amerika Serikat, dan beberapa negara lain, catatan waktu Shindy pada kategori itu ‘hanya’ 19 jam 44 menit 59 detik, mematahkan cut off time (COT) 20 jam yang ditentukan oleh penyelenggara.
Wanita kelahiran Medan, 13 Januari 1983, itu memang tidak pernah menyangka bahwa jalan hidupnya menjadi seperti sekarang. “Saya ini masih pemula. Pemula sekali dalam trail run. Tapi saya tahu pasti, saya enggak bisa jauh-jauh dari alam dan olahraga,” ujarnya, memulai kisah kepada femina.
Ketika menyebut dirinya pemula, Shindy benar-benar menekankannya. Sebab, jika dibandingkan dengan teman-teman pelari lain, perjalanannya masih terbilang singkat, baru mulai tahun 2014. Modal awalnya pun sederhana, hanya rasa penasaran. Namun, rasa penasaran yang sangat kuat itu ternyata mampu mendorong Shindy untuk melawan rasa takutnya sendiri.
Pertanyaan itu kemudian membawa dirinya ikut dalam Bromo Tengger Semeru Ultra kategori 30 K tahun 2014. Pada pertandingan pertamanya itu, Shindy bukan hanya gagal mengalahkan COT 6 jam, tetapi juga gagal mewujudkan targetnya sendiri. “Target utama saya pada tiap pertandingan itu bukan kemenangan, tetapi mengalahkan COT penyelenggara. Minimal harus 2 jam lebih cepat dari COT,” ungkap wanita yang sudah ikut serta dalam 15 kompetisi lari dan berada di peringkat 3 besar dalam 9 kompetisi tersebut.
Meski sempat kapok karena mengalami kelelahan fisik yang amat sangat, rasa penasarannya justru tersulut. Tak ingin setengah hati, Shindy pun semakin giat berlatih. Setiap pagi sebelum memulai aktivitas lain, ia melatih kekuatan fisiknya dengan berlari di jalan yang menanjak. Jika sedang bersama teman, ia akan latihan interval dan lari di gunung hingga 3-4 jam.
Wanita yang juga menekuni olahraga yoga itu kemudian serius memperhatikan pola makannya. “Dulu saya seorang vegan. Tapi, setelah menekuni lari, saya sadar saya enggak boleh egoistis dengan tubuh saya sendiri. Saya butuh asupan protein hewani,” jelas wanita yang tergabung dalam komunitas Malang Trail Runners (Mantra Runners) itu. Perlahan, Shindy lalu menambahkan susu, telur, dan sedikit daging dalam porsi makannya.
Upayanya berbuah manis. Sekitar tiga bulan dari pertandingan pertamanya, Shindy kembali unjuk kebolehan di ajang Coast to Coast Night Trail Marathon 2015, kategori 21 K di Yogyakarta. “Berangkat sendiri dari Malang. Pertandingan start pukul 3 pagi, langit masih gelap sekali saat saya berlari menyusuri perbukitan di pesisir pantai laut selatan Yogyakarta,” kenang Shindy, yang kemudian meraih juara pertama di pertandingan itu dengan catatan waktu 3 jam. (f)
Baca Juga:
- Sri Wahyuningsih, Pemenang Anugerah Saparinah Sadli Award 2016
- Lizzie Parra, Dari Beauty Blogger Menjadi Beautypreneur
- Safira Rosa Machrusah, Diplomasi di Negeri Gurun
Topic
#wanitahebat