Keluarga Pencinta Sains
Melihat ke belakang, Nana merasa sangat beruntung dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengutamakan pendidikan dan dedikasi dalam melayani masyarakat. Almarhum ayahnya, Premadi (meninggal usia 57), adalah dokter ahli bedah yang bekerja aktif di satu rumah sakit saja. “Beliau berdedikasi tinggi pada profesinya, memberi perhatian penuh pada pasien-pasiennya, terus belajar, dan membina kolega muda, serta tidak mengejar pencapaian finansial,” kenang sulung dari empat bersaudara ini.
Sementara itu, ibunya Soewarni Premadi (77) berasal dari keluarga guru, dan bekerja sebagai perawat di rumah sakit, hingga saat ia lahir. Suaminya, Dr. Yudi Soeharyadi, adalah dosen matematika di ITB. Sehingga mereka saling tahu apa yang dibutuhkan dalam menunjang profesi masing-masing. Kadang, Nana suka ‘menyombongkan diri’ pada suaminya bahwa astronomi jauh lebih menarik.
Meski kini Nana kerap mengandalkan tongkat atau kursi roda untuk beraktivitas, atau bicara dalam artikulasi yang lemah, ia tetap produktif. Sebab, teramat sering ia menjumpai orang yang dengan segera mengasosiasikan ketidaknormalan fisik dengan ketidaksanggupan mental.
“Fisik memang krusial, tapi bukan segalanya. Ikhlas, tapi bukan menyerah. Saya mengaktifkan dan memperkuat dimensi lain dalam hidup, seperti rasional, mental, dan spiritual. Saya terus fokus pada hal yang masih bisa saya lakukan. Saya bangun tiap pagi dengan keyakinan ada amanah yang perlu saya bereskan hari ini,” ungkap Nana, penuh keyakinan. (f)
Baca juga: