Profile
Ngopi Bareng Ve Handojo

19 Feb 2016



Tumbuh bersama buku karya Enyd Blyton, Charlotte Brontë, dan Emily Brontë telah membuat Ve Handojo (41) jatuh cinta pada dunia menulis dan membawanya pada profesi sebagai penulis skenario. Sekaligus mendekatkan dirinya pada kopi, sumber inspirasinya. Kenikmatan menyesap secangkir kopi pula yang pada akhirnya mendorongnya untuk menggerakkan industri kopi. Tanpa meninggalkan profesinya sebagai penulis skenario, ia meracik foto dan kata lewat Instagram untuk membangkitkan obsesi pencinta kopi terhadap kopi kualitas terbaik.
 
Bergerilya dari Media Sosial
Sebenarnya, kebiasaan minum kopi sudah ia mulai sejak remaja. Tapi, Ve remaja hanya mengenal jenis kopi instan kemasan yang mudah dikonsumsi. Hingga akhirnya minuman berkafein itu kian menjadi teman setianya ketika berkutat di tengah deadline skenario film. Ketika itu, ia bukan pemilih kopi. Apa pun mereknya, asalkan kopi, pasti ia seruput hangat-hangat. Hanya ada sebuah pertanyaan yang mengusik dirinya, “Sudah minum banyak kopi, kok, efeknya enggak terasa?”
           
Hingga pada tahun 1998, ia berkenalan dengan Hendri Kurniawan, seorang Q grader (penguji cita rasa kopi pilihan) bersertifikat yang telah malang-melintang sebagai juri di berbagai kompetisi kopi dan barista internasional. Hendri-lah yang membantu Ve menjawab pertanyaan yang mengusik kenikmatannya minum kopi selama ini. “Ternyata, kuncinya ada di biji kopi yang digunakan. Kopi sachet menggunakan biji kopi berkualitas paling rendah, sementara biji kopi berkualitas baik lebih banyak diekspor,” kata Ve.
           
Fakta-fakta tentang kopi yang dipaparkan Hendri membuat pria yang menulis skenario untuk film Buruan Cium Gue dan Kuntilanak 2 ini makin bertanya-tanya. Ia mengaku prihatin dengan kenyataan bahwa Indonesia sebagai negara penghasil biji kopi terbesar ke-4 setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, tapi penduduknya lebih banyak minum kopi sachet.

“Lebih ironis lagi jika dibandingkan dengan Melbourne. Melbourne tidak bisa menanam kopi, tapi dinobatkan sebagai Coffee Capital of the World karena bisa memberikan experience minum kopi yang unik. Pertanyaannya, kenapa Indonesia tidak bisa?” kata pria kelahiran Jakarta, 11 April 1975, ini, menggebu.
Kekhawatiran Ve tentang industri kopi di Indonesia rupanya sejalan dengan keresahan yang dirasakan Hendri selama ini. Maka, mengandalkan kemampuan terbaik masing-masing --Ve dengan pengalaman membangun cerita dan Hendri dengan pengetahuan di bidang kopi-- keduanya nekat memulai A Bunch of Caffeine Dealers School of Coffee (ABCD Coffee), sekolah kopi berwujud workshop dan kios, pada tahun 2014.

Ketika memulai, ABCD Coffee memilih Pasar Santa, di daerah Jakarta Selatan, sebagai pusat kegiatan. Menempati kios sederhana berukuran 6x2 meter, mereka menyajikan specialty coffee kelas dunia, seperti Colombia Finca La Falda, Bruna Espresso Blend, Mecca Espresso’s Dark Horse, dan Coffee Alchemy’s Goodness Galileo. Tak ketinggalan juga menyajikan kopi lokal kualitas terbaik seperti kopi Gayo, kopi Lombok, kopi Flores-Manggarai, dan banyak varietas lainnya, yang kala itu tak banyak dikenal orang.
           
“Sejak terjun ke industri kopi, saya tak ingin membuat tempat minum kopi yang mengedepankan tampilan. Saya justru ingin memberikan pengetahuan tentang kopi dari basic, agar masyarakat paham kenapa mereka minum kopi, jenis kopi yang mereka minum, hingga dari mana biji kopi itu berasal,” ujar Ve.
Karena, menurut penggemar kopi Panama Gesha dan Toraja Yale ini, pemahaman yang baik tentang kopi dapat menumbuhkan ikatan pribadi yang lebih dalam antara peminum kopi dengan kopi yang diminumnya, bukan sekadar eksistensi untuk tren.

Untuk menyentuh generasi muda, yang menurutnya bisa menjadi agent of change, Ve pun gencar mempromosikan ABCD Coffee lewat Instagram. “Mereka inilah yang akan menularkan gaya hidup ke teman-teman sebayanya dan penerusnya nanti. Dengan begitu, hasilnya bukan cuma tren sesaat, tapi bisa long lasting dan menjadi budaya. Paling pas itu usia 15-25 tahun, mereka aktif di Instagram,” ujar pria yang menulis skenario film Kangen (2007) ini.
           
Demi mencapai targetnya, Ve secara khusus mempelajari cara-cara berkomunikasi generasi muda saat ini. Ia kerap mengamati hal-hal apa saja yang membuat generasi muda tertarik dan melirik sebuah hal baru. Ternyata, kaum muda menyukai hal-hal yang unik, menjadi bahan pembicaraan, dan eksklusif.

Berangkat dari pengamatan itu, saat kebanyakan kedai kopi mengedepankan latte art dan interior kekinian, ABCD Coffee justru mem-posting foto-foto sederhana dan personal di Instagram ABCD Coffee. Ve memilih foto dengan pencahayaan seadanya, hashtag #ngopidipasar yang sangat Indonesia, dan cerita pendek mengenai latar belakang kopi yang akan disajikan hari itu. Untuk penyebarannya, ia dan Hendri yang re-post semuanya sendiri.

“Saya hanya ingin memanusiakan biji kopi dengan tidak melupakan asal-usul mereka, pada ketinggian berapa mereka ditanam, cara mereka disangrai, siapa yang menyangrai, dan hal-hal lainnya yang sangat personal,” ungkap Ve.
           
Advertisement
Ternyata, dengan cara tersebut, mereka tak butuh buzzer atau influencer untuk menaikkan angka followers Instagram ABCD Coffee. “Kami tidak cari followers banyak, tetapi followers yang tepat,” ujar Ve. Hanya dalam dua minggu, followers aktif mereka menyentuh angka 2.000, secara organik.
Minggu berikutnya, blogger Sonia Eryka, penyanyi jazz Cas Alfonso yang juga suami dari Rianti Cartwright, mantan Ibu Duta Besar Brunei Darussalam untuk Indonesia, Datin Soraya Hamid, sutradara film Filosofi Kopi, Angga Dwimas Sasongko, hingga mantan Kapolri Sutanto beserta keluarganya, satu per satu singgah di kedai kopi miliknya. Hingga akhirnya membawa nama ABCD Coffee bahkan Pasar Santa masuk dalam daftar a must-visit coffee shop di Jakarta. 
 
Sukses lewat Hashtag
Dalam waktu singkat pula hashtag #ngopidipasar jadi perbincangan hangat di Instagram. Efeknya,  makin banyak orang yang tertarik untuk datang ke ABCD Coffee karena minat pribadi, mulai dari penikmat kopi kelas kakap hingga remaja yang baru ingin berkenalan dengan kopi.
           
“Mereka ngumpul, ngobrol tentang kopi dan apa saja di pasar tradisional yang tidak ber-AC. Itu jadi pengalaman baru dan unik, juga eksklusif karena jumlah kopi yang kami sediakan terbatas. Mereka foto, terus post di media sosial. Itu yang membuat cerita tentang kopi ini menjadi viral. Dampaknya,   makin banyak orang yang datang dan juga ingin memperdalam pengetahuan tentang kopi secara serius,” ungkap Ve, bangga.
Tak hanya datang sebagai penikmat, tak sedikit pula mereka yang datang untuk belajar tentang kopi di kelas yang dibuka ABCD Coffee. Untuk menguatkan pemahaman tentang kopi, ABCD Coffee membagi edukasinya menjadi kelas A (Appreciation Class) yang fokus pada sejarah kopi, B (Brewing Class) untuk mengenal jenis kopi dan cara pengolahannya, C (Cupping Class) untuk melatih indra perasa dalam mengenal karakter kopi, dan DE1 (Definitive Espresso Class) untuk mempertajam teknik meracik kopi. Sejak Agustus 2014 hingga kini, ABCD Coffee sudah meluluskan lebih dari 500 murid.
Ve bersyukur karena lulusan ABCD Coffee bukan tipe kacang yang lupa pada kulitnya. “Delapan puluh persen murid sekolah kami bercita-cita membuka kedai kopi. Sekarang sudah ada kurang lebih 20 kedai kopi yang didirikan para lulusan. Bukan cuma di Jakarta dan Bogor, tapi juga di Karawang, Purwokerto, sampai Balikpapan,” kata pria yang tidak pernah duduk di bangku kuliah ini.

Hal ini tentu saja meningkatkan geliat bisnis kopi. Selain menciptakan lapangan pekerjaan, mereka juga menggerakkan perekonomian para petani kopi Indonesia. Cita-cita Ve untuk menjadikan kopi sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia lambat laun menunjukkan hasil.
Cerita yang ia bubuhkan pada tiap biji kopi bahkan mampu meningkatkan potensi kopi lokal hingga menjadi incaran para pencinta kopi. Sekarang orang datang ke kedai kopi tak hanya mencari jenis minuman kopi yang ditawarkan (espresso, latte, atau cappuccino), tapi lebih jauh lagi mereka memilih sendiri jenis biji kopi apa yang ingin dinikmati.

Tak hanya berhenti pada program edukasi, hasrat Ve untuk menaikkan kelas kopi lokal terus berlanjut. Bersama Hendri, keduanya juga menjalankan kegiatan-kegiatan sosial secara lebih serius. Untuk menggerakkan program sosial tersebut, Ve kembali menggulirkan hashtag #charitybrew, pada Oktober 2014.
“Seluruh pendapatan dari penjualan kopi saat charity brew akan digunakan untuk kegiatan sosial ABCD Coffee. Siapa saja yang punya visi dan misi sejalan, boleh ikut,” papar putra bungsu pelatih nasional tenis meja, Djaja Oetama (alm.) dan balerina Lita Muljadi ini.
           
Salah satu program #charitybrew yang terbilang sukses adalah Baraka Nusantara yang dimulai oleh Siti Maryam Rodja dan Reman Murandi. Ketertarikan Siti Maryam pada kopi berawal saat ia masih bekerja sebagai peneliti hukum di Pusat Studi Hukum Kebijakan Indonesia dan ditugaskan ke desa-desa di Indonesia untuk membantu pembuatan RUU Pangan. Perjalanan itu membuka matanya mengenai kehidupan petani Indonesia yang dimarginalkan. Ia kemudian mengajak sahabatnya, Reman, yang berdomisili di Australia, melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas hidup para petani.     
Sejak Mei 2013, dua sahabat ini mulai mendampingi petani kopi Desa Sembalun di kaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, untuk menghidupkan kembali potensi kopi Lombok yang mati suri. Baraka Nusantara mengemas panen pertama kopi Sembalun dengan label Kopi Pahlawan. Panen pertama itu mereka jual lewat ABCD Coffee.
           
Menjelang hari penjualan, Ve menginformasikan kegiatan sosial tersebut di akun Instagram ABCD Coffee. “Banyak yang datang dan tertarik beli kopinya. Dalam satu hari, penjualan Kopi Pahlawan lewat program #charitybrew menghasilkan lebih dari Rp8 juta!” ungkap Ve, takjub.
Hasil penjualan kopi itu seluruhnya disalurkan untuk membangun Rumah Belajar Sangkabira, sekolah di Desa Sembalun untuk menghadirkan pendidikan yang layak bagi generasi penerus. Bagi penulis skenario Malaikat Juga Tahu dan Cicak di Dinding dalam film omnibus, Rectoverso (2013) ini, secangkir kopi bukan sekadar pemompa kafein, tetapi juga pembuka banyak kesempatan. (f)
 
 
 
 
 
 
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?