Profile
Lusia Kiroyan, Aktivitas Sosial yang Menyasar Narapidana hingga Penyandang HIV & AIDS

26 Feb 2017



Foto: Dok. Pribadi
 
Transformasi hidup yang dirasakan Lusia membuat ia teringat akan dongeng favoritnya, Cinderella. Jika Cinderella berubah dari gadis desa menjadi istri pangeran, maka Lusia berubah menjadi putri yang percaya diri. Ia pun menulis buku bertajuk Cinderella From Indonesia dan mendirikan Cinderella From Indonesia Center (CFIC) yang bermarkas di sebuah bangunan ruko di kota Batam.

CFIC adalah bentuk janji Lusia kepada Tuhan karena ia merasa sudah mendapat kelimpahan dan ingin berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Bantuan dilakukan dengan mendirikan training center yang memberikan ilmu kewirausahaan, bukan uang. Di sini, kaum marjinal bisa belajar usaha dengan modal kecil, seperti membuat es, cokelat, kue dan boneka.

Sejak awal berdiri pada 2013, CFIC sudah memberikan pelayanan pada lebih dari 540 napi wanita, 100 anak jalanan, 100 ibu-ibu anak jalanan, 50 napi remaja, 50 orang tua tunggal dan juga 15 remaja berkebutuhan khusus. Lusia tergerak melayani kelompok-kelompok terpinggirkan tersebut karena ia melihat jarang ada yang peduli terhadap mereka.

Karena beban finansial CFIC cukup besar dan Lusia tidak memiliki donatur tetap, jiwa pengusaha Lusia melihat peluang di rumah tahanan. “Saya lihat di penjara wanita ada banyak anak muda yang hukumannya lama tapi tidak punya kegiatan. Jadi, saya punya ide untuk produksi boneka di dalam penjara. Pembinaan pun kami berikan berupa motivasi, terapi psikologi, dan kewirausahaan,”
tutur Lusia.

Advertisement
Boneka tersebut diberi nama Batik Girl, dan konsepnya didapat Lusia dari masa studinya di AS. Di Negeri Paman Sam itu, Lusia kerap dijuluki ‘Doll from Indonesia’ karena parasnya yang cantik, rambutnya yang hitam panjang, serta kegemarannya memakai baju batik yang bagus-bagus. Dari situ, Lusia memvisualisasikan sebuah boneka yang merepresentasikan sosok wanita Indonesia.

“Saya melihat potensi besar dari Batik Girl. Selain menciptakan lapangan kerja untuk para napi wanita, boneka ini juga bisa mempromosikan Indonesia di mata dunia,” tandas Lusia. Dan benar, para napi menyambut baik produk ini karena karena selain bisa membunuh waktu di tahanan, mereka mendapat keahlian plus upah dari produksi boneka.

Dari Rutan Batam, Lusia merambah lapas lain, yakni Lapas Barelang dan Rutan Pondok Bambu. Banyak pengalaman menarik didapat Lusia selama menjalankan program pembinaan di sejumlah penjara tersebut. Salah satunya adalah ketika ia mendapati sejumlah napi wanita yang sempat ingin bunuh diri menjadi bersemangat hidup kembali setelah mengikuti produksi Batik Girl.

Sang boneka sendiri terus berinovasi lewat berbagai tampilan yang berbeda. Pada 2015, misalnya, Batik Girl berkolaborasi dengan Saung Angklung Udjo yang melengkapi kemasan boneka dengan angklung kecil. Tahun lalu, Lusia bekerja sama dengan Thida Day, desainer asal Myanmar yang membantunya melatih para napi wanita untuk membuat Batik Girl berhijab.

“Dari sekian bisnis yang pernah saya jalani, Batik Girl adalah yang paling membuat saya gembira. Para napi wanita menunjukkan semangat belajar dan bekerja yang tinggi dan hasilnya juga sangat memuaskan,” kata peraih 2012 World of Difference Awards di Washington DC, AS ini.

(klik halaman di bawah untuk melanjutkan)
 


Topic

#wanitahebat

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?