“Sejak kecil saya sudah dididik keluarga untuk mencintai dan menghargai makanan Indonesia. Tempe dan tahu jadi menu keseharian. Kebetulan salah satu tante saya berbisnis katering dan semua menunya makanan Indonesia. Saya terbiasa melihatnya bangun dini hari untuk menyiapkan bahan makanan.
“Kecintaan saya pada kuliner Indonesia berlanjut hingga dewasa. Memang saya nggak memiliki latar belakang pendidikan kuliner, tapi saya pikir pasti ada hal yang bisa saya lakukan. Bagi sebagian masyarakat, makanan Indonesia dianggap nggak modern, akibatnya nggak sedikit makanan tradisional yang punah. Timbul keinginan untuk mengajak teman-teman pencinta kuliner untuk menikmati makanan rumahan.
“Saya tahu program ini harus dikemas berbeda. Jika tidak, masyarakat tentu menolak karena seakan nggak ada bedanya dari makanan di rumah. Pada tahun 2009, bersama teman-teman pencinta kuliner saya mendirikan Azanaya, wadah untuk acara promosi budaya makanan Indonesia yang berdasarkan pada keaslian bahan baku, cita rasa, dan nilai lokal.”
Mengumpulkan Ibu Rumah Tangga
“Salah satu program Azanaya adalah Underground Secret Dining (USD). Ide ini muncul dari gerakan underground dining yang ada di Amerika dan Eropa akibat krisis tahun 2009. Saat itu konsumsi masyarakat untuk makan di resto berkurang. Akibatnya juru masak yang tidak punya cukup dana nggak bisa bikin resto. Mereka pun menggagas underground dining, semacam resto, tapi berlokasi di basement apartemen, rumah, dan lainnya.
“Saya lalu menerapkannya di Indonesia. Bedanya saya nggak memakai jasa juru masak, tapi ibu rumah tangga. Di Jakarta, tuh, banyak ibu rumah tangga dari berbagai suku yang jago memasak makanan nusantara. Mereka pun ingin menunjukkan skill-nya, tapi nggak ada wadahnya. Lewat USD, para ibu ini jadi berani membuka usaha kecil-kecilan.
“Sama seperti underground dining, lokasi USD diadakan di tempat yang nggak lazim, bahkan peserta baru tahu lokasinya dua hari menjelang hari-H. Itu pun hanya diinformasikan petunjuk lokasi, hingga hari-H peserta belum tahu apa yang akan disantap. Contohnya, USD pernah diadakan di Komplek Makam Jati Petamburan untuk menikmati teh.
“Awalnya saya mengira peserta USD banyak dari mereka yang berusia lanjut. Nggak disangka banyak mahasiswa yang ikutan. Peserta USD juga selalu penuh, bahkan waiting list-nya bisa mencapai 60 orang. Padahal fee-nya lumayan mahal, karena seluruh bahan asli didatangkan dari daerah di pelosok Indonesia. Saya pun yakin masyarakat Indonesia masih mencintai makanan nusantara.”
Promosi ke Mancanegara
“Sepanjang 2009-2013, Azanaya sudah mengadakan 33 kegiatan USD dan acara bertema khusus lainnya. Beberapa bertujuan untuk mempromosikan budaya makanan nusantara ke dunia internasional, misalnya acara Baralek Rendang di tahun 2012 yang berkolaborasi dengan sound designer dari London.
“Kesempatan tersebut membuka mata saya bahwa Indonesia bisa menjadi produsen pangan yang besar. Bayangkan selama ini beras dan rempah-rempah saja impor, padahal kualitas beras Indonesia jauh lebih bagus dan banyak. Saya semakin penasaran untuk melihat kondisi pangan di hulu—tempat produsen menghasilkan bahan baku.”
Pendamping Petani
“Tahun 2013, saya memutuskan untuk tinggal dan bertani di Imogiri, Yogyakarta. Saya memanfaatkan lahan seluas 2,5 hektar untuk berkebun dan beternak. Tanamannya beragam, seperti jagung, talas, labu, bawang merah, timun, dan tomat, lalu memelihara bebek, serta menyediakan bank cacing untuk kompos. Saya ingin menunjukkan ada anak muda yang peduli.
“Saya menemukan fakta menyedihkan, anak muda di Imogiri nggak suka jadi petani. Bagi mereka profesi tersebut nggak keren. Mereka lebih memilih bekerja di minimarket atau menjaga kios ponsel. Saya ingin mengubah persepsi itu.
“Nggak ingin petani hanya menjual produksinya kepada pedagang dengan harga murah, saya berusaha menjembatani petani dan konsumen secara langsung. Misal, di acara yang diadakan Azanaya, saya menghadirkan petani untuk menceritakan proses penanamannya.
“Saya juga ‘terpanggil’ melihat nasib petani kopi. Kopi Indonesia tenar di luar negeri, tapi petaninya tetap miskin. Saya lalu datang ke perkebunan kopi di Sleman Yogyakarta. Saat dicicip, rasa kopinya nggak enak. Ternyata kesalahannya ada di proses pengolahan, pasalnya proses ini membutuhkan modal besar.
“Saya lalu mengajak teman yang berprofesi sebagai chef yang juga punya resto untuk membantu petani kopi. Dia mau membeli kopi dengan harga tinggi, asalkan saya membantu proses pengolahan dan produksi kopi. Saya membantu memetik buah kopi merah, mendampingi pengolahan basah dengan mengganti airnya setiap 4 jam hingga lendirnya hilang, lalu menjemur biji kopi. Kini kualitas kopi mereka lebih baik dan pendapatan petani pun meningkat.”
Merambah Nelayan
“Keinginan lain saya adalah membantu nelayan. Tahun lalu saya diajak WWF Indonesia untuk melihat budaya maritim serta melakukan pemetaan pangan di Wakatobi. Ikan hasil tangkapan nelayan sangat bagus kualitasnya namun nggak pernah sampai ke Pulau Jawa.
“Masalahnya ikan-ikan ini banyak yang dijual ke luar negeri. Transaksinya dilakukan di tengah laut, sehingga masyarakat di Pulau Jawa nggak merasakannya. Padahal jika dijual ke konsumen lokal, pendapatan yang diterima nelayan sama besarnya. Masyarakat Indonesia sebenarnya sangat rindu terhadap produk dalam negeri yang berkualitas dan daya beli mereka pun cukup tinggi.
“Rencananya saya akan kembali mengunjungi nelayan untuk berbagi ilmu penangkapan ikan. Selain itu, saya akan membuat banyak acara apresiasi makanan di Jakarta untuk mengenalkan pangan Indonesia dengan konsep teritorial dari hasil jejaring yang sudah dibina selama ini.”