Di balik sosoknya sebagai istri Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, Ida Yulidina adalah perempuan yang tangguh.
Bagi Ida Yulidina, kehidupan adalah sebuah proses metamorfosis yang panjang–dari seorang mahasiswi tomboi yang mencuri perhatian di panggung Wajah Femina, hingga menjadi sosok istri dan ibu yang memegang kendali penuh atas harmoni keluarganya.
Titik balik dari panggung Wajah Femina
Tahun 1989, Ida masih tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung. Jauh dari kesan feminin, ia mengaku dirinya sangat tomboi. Namun, hal tersebut tidak membatasi langkahnya untuk mengikuti salah satu ajang pemilihan bergengsi, Wajah Femina.
Meski langkahnya mengikuti Wajah Femina bukan didasari ambisi menjadi bintang–melainkan sebuah dorongan pragmatis yang jujur untuk mencari uang jajan tambahan–Ida tidak melangkah setengah-setengah.
“Ayah saya orangnya saklek, kalau kasih uang jajan itu pas sekali. Hanya untuk ongkos dan makan. Wajah Femina saat itu memberikan hadiah yang banyak, jadi saya tertarik ikut karena hadiahnya,” kenang Ida, yang masih ingat hadiahnya antara lain kursus singkat modeling di Singapore dan tiket ke Hong Kong.
Dengan modal baju pinjaman dari kakak dan ibunya, serta foto sederhana dari studio foto Jonas Bandung, ia nekat mengirimkan aplikasi. Siapa sangka, keisengan itu membawanya ke Jakarta untuk menjalani karantina selama satu minggu. Bersama nama-nama yang kelak menjadi besar seperti Diah Permatasari, Ida belajar tentang dunia yang sama sekali baru.
Di sana, Ida yang sempat dijuluki “Miss Lelet” ditempa habis-habisan tentang arti kedisiplinan. Pengalaman itu mengubahnya; ia belajar berdandan, membawa diri, dan yang terpenting, menghargai setiap rupiah hasil kerja kerasnya.
“Dari Wajah Femina, saya belajar tentang disiplin, tepat waktu, bagaimana membawa diri, dan kerja keras. Saya belajar menghargai uang, saya bisa nabung, atur uang untuk memenuhi semua kebutuhan. Saya juga belajar dandan, tampil lebih feminin,” cerita wanita berdarah Belanda-Sunda-Jawa Timur ini.
Setelah menjadi Pemenang I Wajah Femina 1989, Ida mulai mencoba ajang lainnya, seperti Abang None Jakarta. Ia juga mulai masuk ke dunia modeling dan menjadi bintang untuk beberapa produk.
Karier modelingnya meroket. Puncaknya adalah ketika ia terpilih menjadi bintang iklan sabun kecantikan legendaris, Lux, untuk varian warna merah muda. Namun, karena saat itu posisi ikon Lux sudah ada Ida Iasha, manajemen memutuskan untuk menggunakan nama Dina (diambil dari Yulidina), agar tidak membingungkan publik.
Meski tawaran iklan lain seperti Sunsilk mulai berdatangan, Ida tetap teguh pada pesan ayahnya, pendidikan adalah nomor satu. Ia harus bolak-balik Jakarta-Bandung demi menyeimbangkan antara gemerlap catwalk dan tumpukan buku hukum. Ia sadar, popularitas hanyalah sementara, dan tidak ingin kehilangan jati diri di tengah puja-puji dunia fashion.
“Saat itu, saya menjalani dunia modeling karena ingin tahu, ingin merasakan experience-nya. Jadi memang saya memilih setiap tawaran yang masuk,” katanya.
Ayam hutan pembawa jodoh
Kehidupan cinta Ida memiliki alur yang unik. Ia bertemu dengan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Republik Indonesia, melalui perantara ‘ayam hutan’.
Berawal dari titipan teman, Purbaya datang mengantarkan ayam hutan tersebut ke rumah Ida dengan penampilan santai bersandal jepit, mengira ia akan bertemu gadis desa bernama “Een” (panggilan Ida di antara teman-temannya). Namun, yang ia temui adalah sosok model cantik yang cerdas.
Meski setelah itu komunikasi mereka tak berlanjut, jodoh berkata lain. Bersela dua-tiga tahun dari pertemuan pertama mereka, Purbaya melihat Ida pergi nonton di bioskop berdua dengan sang adik.
Pertemuan ini memercik keberanian Purbaya untuk kembali mendekati Ida, karena ia yakin, Ida sendiri tidak memiliki kekasih. “Malam Minggu, nonton berdua sama adik, pasti nggak punya pacar,” cerita Ida, tertawa.
Cinta mereka tumbuh bukan karena romansa yang berlebihan, melainkan karena rasa hormat Ida terhadap karakter Purbaya yang berbeda dari banyak teman pria yang ia temui. “Saya merasa dia ini lain. Baik dan bisa dekat sama Ibu saya. Ibu saya itu galak banget, tapi kalau ada dia datang ke rumah, malah diajak ngobrol, disuguhi teh,” kata Ida.
Karakter lain yang membuat Ida yakin dengan lamaran Purbaya adalah rasa sayangnya kepada orang tua. “Ia sangat menyayangi ibunya. Setelah bekerja, dia mengumpulkan gaji hanya untuk membelikan ibunya mobil. Di situ saya terenyuh,” ungkap Ida.
“Saya selalu ingat pesan ayah, ‘Istri itu harus ikut ke mana pun suaminya pergi’. Jadi, saat itu saya ikut menemani dia belajar ke Amerika Serikat,” kata Ida.
Di sana, Ida yang terbiasa dibantu asisten rumah tangga di Indonesia harus bertransformasi menjadi “Upik Abu.” Ia mencuci piring, memasak, menjadi sopir, hingga berjualan baju di eBay untuk membantu keuangan keluarga yang terbatas.
Setiap hari Ida melakukan semua pekerjaan rumah tangan sekaligus mengantar jemput sang suami. Sedangkan Purbaya sibuk dengan buku dan perkuliahannya. Bahkan, menurut Ida, pergi jalan-jalan pun mereka jarang, karena Purbaya di hari libur tetap belajar.
“Pak Purbaya itu pekerja keras, gila-gilaan, kalau belajar nggak berhenti, bisa sampai malam,” ungkap Ida.
Tidak hanya itu, selama tinggal di AS, mereka juga harus pintar-pintar berhemat. “Karena keuangan terbatas, kami jarang keluar rumah. Hiburan kami kalau malam Minggu sewa video silat 1 dolar, sama beli pizza 9 dolar. Itu hiburan 10 dolar kami. Plus kola 1 dolar,” kenangnya sambil tertawa.
Perempuan inti keluarga
Bagi Ida, peran istri tidaklah pasif. Ia memilih menjadi pendukung utama sekaligus kritikus bagi suaminya. “Waktu di Amerika, saya bilang ke dia, saya sudah habis-habisan mengurus rumah, maka dia harus serius kuliahnya. Saya tidak suka laki-laki yang lemah,” tegasnya.
Ia bahkan sempat mengeluarkan ancaman bercerai, jika Purbaya berhenti kuliah dan kembali ke Indonesia. Dalam sebuah wawancara podcast, Purbaya sempat mengakui gertakan Ida tersebut sebagai pelecut semangatnya untuk menyelesaikan studi S3-nya.
Di Amerika kesabaran mereka juga penuh ujian, namun masa-masa itu justru memperkuat komunikasi dan keterbukaan mereka sebagai pasangan. Ida meyakini bahwa dalam pernikahan, keterbukaan adalah kunci. Baginya, tidak perlu pamer kemesraan di depan publik jika di dalamnya tidak ada kejujuran.
“Saya kalau bicara apa adanya. Kalau ada yang nggak suka bilang, nggak perlu sakit hati. Kita terbuka untuk saling memperbaiki. Setelah ada kecocokan, kami saling mengingatkan soal agama,” kata wanita yang sempat bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, sebelum pindah ke AS.
Kembali ke Indonesia, Ida memutuskan untuk fokus pada keluarga. Apalagi tak lama setelah menetap di Jakarta, mereka dikaruniai anak pertama setelah 5 tahun menanti.
Sebagai ibu dari dua anak, Ida menerapkan pola asuh yang mengutamakan keseimbangan antara IQ, EQ, dan agama. Ia juga percaya bahwa dalam mengasuh, anak-anak harus melihat praktik nyata dari orang tua mereka, bukan sekadar kata-kata.
“Anak-anak dari kecil belajar, membangun kebiasaan baiknya, dengan melihat apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Kepada anak-anak kami mengajarkan tentang kerja, usaha yang keras, meminta kepada Allah apa yang kamu inginkan, dan restu orang tua. Apa yang kita mau pasti datang,” ungkap Ida.
Ia meyakini bahwa keberhasilan keluarga itu terutama dipegang oleh perempuan. “Istri atau ibu itu core-nya. Inti permasalahan. Jadi perempuan itu harus sekolah, taat beragama, sayang dengan orang tua. Pakemnya hanya itu,” kata Ida.
Kini, di tengah kesibukan mendampingi suami yang mengemban tugas negara, Ida tetap sosok yang membumi. Ia menemukan kedamaian dalam me-time sederhana seperti pergi ke salon atau sekadar melamun untuk merefleksikan diri.
Ida Yulidina adalah bukti bahwa seorang perempuan bisa memiliki banyak peran tanpa kehilangan prinsipnya. Baginya, kebahagiaan sejati bukan terletak pada lampu sorot panggung, melainkan pada keberhasilannya menjaga keluarganya. (f)
Baca juga:
Derry Wijaya: Memberdayakan Perempuan Lewat Teknologi AI
Dewi Makes Berkarya dengan Hati
Thresia Mareta Menerima Penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres
Faunda Liswijayanti
Topic
#hariibu, #peranibu, #wajahfemina, #berdayabergayaberbudaya