Profile
Alfath Alima Hakim: Perempuan Merdeka Punya Pilihan

28 Mar 2026

Alfath Alima Hakim, Pemenang II Wajah Femina 2025, tumbuh bersama Femina dan kini jadi bagian Femina yang menginspirasi perempuan muda Indonesia. Foto: IG @alfathalima


Di tengah perubahan zaman, Femina berusaha terus memegang peran, tanggung jawab, dan daya hidup pers.

Bagi Alfath Alima Hakim, Pemenang II Wajah Femina 2025, Femina jadi media yang ikut membentuk dirinya, lalu kembali ke dalamnya sebagai bagian dari cerita.

“Yang ada di benakku waktu pertama kali jadi bagian dari Wajah Femina dan keluarga besar Femina itu kayak, ini nyata nggak, sih?” kenang Alfa. 

Ia bercerita tumbuh besar bersama oma dan ibunya yang berlangganan Majalah Femina. Ia pun belajar membaca, menyerap cerita, dan mengenal dunia perempuan dari berbagai lapis. “Tidak menyangka aja, aku belajar baca dari Femina, dan sekarang bisa jadi cover-nya. Itu kebanggaan tersendiri. Rasanya kayak takdir yang unik banget.”

Sebagai Gen Z, Alfa melihat ruang redaksi dan dunia jurnalistik semakin diisi oleh generasinya sendiri. “Orang sekarang mengonsumsi media bukan cuma yang kelihatannya rumit, tapi yang relate. Ada keresahan, pain point, dan touch point yang bisa dirasakan langsung,” ujarnya. 

Percakapan tentang perempuan pun menjadi bagian penting dari refleksi tersebut. Alfa memandang isu feminisme sebagai spektrum luas yang sering kali disalahartikan. 

“Feminisme itu kompleks dan berlapis. Dari awalnya memperjuangkan hak politik perempuan, sampai sekarang dengan berbagai tafsir, termasuk yang ekstrem,” katanya. 
Advertisement

Baginya, esensi feminisme justru sederhana dan membumi: Pemberdayaan dan pilihan. “Perempuan yang berdaya itu perempuan yang punya pilihan dan otoritas atas dirinya sendiri. Mau jadi perempuan karier atau ibu rumah tangga, selama itu pilihan sadar atas kemerdekaan dirinya, itu juga feminisme.”

Pengalamannya ikut berbagai kompetisi memberikan tanggung jawab baru untuk menjembatani budaya, generasi, dan peluang. Foto: IG @alfathalima

Pandangan ini sejalan dengan nilai yang ia lihat sejak lama di Femina. Ia juga kagum pada tiga pendiri Femina—para jurnalis perempuan yang kritis dan berani pada masanya, yaitu Mirta Kartohadiprodjo, Widarti Gunawan, dan Atika Makarim.

“Femina itu dari awal sudah mengangkat isu perempuan yang waktu itu sensitif dan jarang dibahas. Tapi esensinya sampai sekarang masih terasa: memberi ruang, suara, dan keberdayaan untuk perempuan,” kata Alfa. 

Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan—bidang yang kerap dianggap maskulin—ia ingin membuka pintu bagi lebih banyak perempuan muda ke dunia STEM, “Biar nggak ngeri masuk teknik. Kita butuh perspektif perempuan di sains dan teknologi, dan sebenarnya banyak tokoh perempuan di sana, hanya kurang terpublikasi,” kata Alfa. (f)

Baca juga:
Ida Yulidina Menemukan Inti Diri dalam Pengabdian untuk Keluarga
Nawasi Laisha Ramadhania: Mengasah Empati dengan Membaca
Pemenang II Wajah Femina 2025, Alfath Alima Hakim, Ingin Suarakan Keberlanjutan dan Keberdayaan

 

Laili Damayanti


Topic

#HariPersNasional, #WajahFemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?