Foto: Fotosearch
“Hipetensi jarang sekali merupakan penyakit tunggal, karena lebih dari 80 % penyakit ini komorbid dengan penyakit lain, seperti hiperlipidemia hingga diabetes. Sebagian besar penderita hipertensi datang ke fasilitas kesehatan sudah dengan komplikasinya, padahal penyakit ini dapat dicegah,” tutur Dr. dr. Yuda Turana, SpS pada hari peringatan World Hypertension Day 2016 pada 18 Mei 2016 lalu di Jakarta.
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan arteriosclerosis, yaitu penebalan dan pengerasan dinding pembuluh darah termasuk yang berperan pada proses ereksi. Proses tersebutlah yang akhirnya menyebabkan perubahan fungsi dan perubahan struktur pembuluh darah (vasculophathy) dan yang juga menyebabkan gangguan disfungsi ereksi.
Lebih dari itu, ternyata wanita memiliki risiko hipertensi lebih besar dibandingkan pria. Seperti yang dipaparkan dr. Arieska, bahwa prevalensi wanita dengan hipertensi mencapai angka lebih dari 50 persen. “Saat memasuki masa menopause, wanita memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk menderita hipertensi. Hal ini juga dipengaruhi beberapa faktor, seperti angka harapan hidup wanita yang lebih panjang, kenaikan insiden hipertensi kronik selama kehamilan yang merupakan akibat dari tren penundaan atau perencanaan masa kehamilan,” tuturnya lagi.
Maka dari itu, para penderita hipertensi dihimbau untuk menerapkan pola hidup sehat, melakukan kontrol tekanan darah, membatasi penggunaan garam, mengonsumsi obat-obatan secara teratur, dan melakukan berbagai upaya yang menopang prinsip pengobatan capai target. Dan jangan lupa untuk berolahraga dengan intensitas moderat yang sangat berperan dalam membantu mencegah dan menurunkan hipertensi. (f)