Health & Diet
Mimpi Buruk Pengejar ‘Cantik’

23 Jul 2019

 
Foto: Dok. Pribadi


dr. Tompi, Dokter Bedah Plastik, Klinik Beyoutiful

Kenali Batas Aman

Kasus-kasus beauty disaster yang berkaitan dengan bedah plastik yang membutuhkan koreksi, yang paling marak adalah thread lift atau tanam benang dan filler. Sekarang praktik ini mulai menjamur, tidak hanya dikerjakan tenaga medis yang memang menguasai teknik ini, tapi juga salon-salon, dengan dalih sulam alis. Mereka ‘jualan’ sulam alis, tapi yang dikerjain prinsipnya seperti tanam benang, membuat sayatan kecil. Walaupun kecil, namanya sayatan, begitu sudah invasif, seharusnya sudah bukan ranah mereka lagi. 

Sebenarnya, tanam benang yang dilakukan oleh kalangan nonmedis, sudah menyalahi prosedur. Sama halnya dengan tindakan menyuntik, seperti suntik vitamin C dan pemutih, tidak boleh dilakukan oleh orang awam. 

Apakah risiko itu ada? Jelas ada. Misalnya, suntik obat pemutih dengan campuran seperti tationil. Jika kita kurang minum, menjadi salah satu pendorong munculnya penyakit batu ginjal. Kita perlu hati-hati memilih tindakan. 

Tanam benang dan filler bukanlah prosedur ilegal, jika dilakukan dengan mengedepankan efek keamanan pasien. Problemnya, ketika tindakan ini dilakukan secara berlebihan dan tidak sesuai indikasinya, akan menjadi masalah. Tindakan filler ada batasannya. Benang juga ada penempatannya, kapan bisa dikerjakan. Tidak bisa pada semua kasus, pada semua keadaan. 

Contoh keliru penggunaan filler adalah pada pasien yang ingin memancungkan hidung. Kalau pasien datang dengan keluhan hidung tidak rata, ingin diratain, filler adalah tindakan tepat. Jika diumpamakan, di depan rumah Anda ada lubang, lalu ingin ditambal. Nah, itulah fungsinya filler, untuk meratakan. 

Permasalahannya, jarang ada yang datang dengan indikasi seperti itu di Indonesia. Lain halnya di Barat, tulang hidung mereka tinggi-tinggi, tapi enggak rata. Itu masuk akal. 

Di Indonesia, bukannya ingin ‘menambal lubang’, tetapi malah ingin membangun ‘polisi tidur’. Jalannya rata, lalu ingin dibuat tonjolan lebih tinggi. Yang pesek ingin hidungnya ditinggiin supaya terlihat mancung. Ingat, filler tidak bisa ditumpuk. Hidung pesek ingin ditambah sedikit, hasilnya tidak akan meninggi ke atas, tapi melebar ke samping. Makin ditambah,  makin  melebar ke samping. Itulah kesalahan yang paling sering ditemui. 

Ada yang bilang, nanti filler akan hilang dengan sendirinya. Filler punya sifat resorbable. Bisa diserap oleh tubuh kita. Betul demikian, tapi dengan catatan, jika diberikan dalam batas tertentu. Pengalaman saya, pernah membongkar hidung orang yang sudah menjalani filler selama 2-3 tahun, cairan filler-nya masih ada di dalam. 

Dalam jumlah sedikit, tubuh masih bisa menyerap filler. Begitu kita memasukkan lebih banyak, kemampuan tubuh menyerap akan kalah dengan kemampuan tubuh membentuk bio filler-nya. Jika sudah terbungkus, filler sudah terproteksi di dalam. Satu-satunya cara untuk menghilangkan filler adalah dengan cara dibuka, dibedah, dan dipotong bersih. 

‘Untungnya’, filler berbeda dari silikon cair. Bisa ditemukan ada pihak yang menyuntikkan silikon cair ke wajah. Penggunaan silikon cair jelas-jelas kriminal. Silikon cair tidak pernah digunakan untuk keperluan estetis maupun nonestetis. Penggunaan silikon cair adalah penyimpangan. Silikon cair memberikan efek menumbuhkan jaringan baru sehinga hasilnya wajah malah jadi bentol tidak keruan. Misal, silikon yang disuntikkan sebanyak 1 cc. Efeknya, wajah jadi besar seperti habis disuntik cairan sebanyak 1 liter. Pada filler, tidak ada efek seperti itu. 

Hyaluronicacid --cairan yang terkandung di dalam filler-- yang dibuat untuk medis memang aman digunakan. Hanya, disalahgunakan jumlah pemakaiannya. Efeknya, bentuknya jadi tidak bagus. Wajah jadi kegedean atau melebar. Filler tidak akan berefek pada terbentuknya jaringan baru di dalam tubuh. 

Untuk tanam benang, yang paling sering bermasalah adalah benang kepanjangan. Akibatnya, benang akan menekan kulit, sehingga muncul jerawat atau bisul berulang. Ada cerita pasien, sudah bolak-balik perawatan, hanya diberi antibiotik. Sembuh sebentar, lalu muncul lagi. 

Wajah yang di-filler atau menjalani tanam benang bisa dilihat secara kasatmata: di ujung hidungnya terlihat satu titik dekok atau ada bekas jerawat yang tidak kunjung hilang. Untuk menambah panjang hidung, lalu dipasang benang yang lebih panjang sedikit. Betul bahwa nanti hidungnya akan terangkat, tapi kulitnya tidak bisa menahan. Adanya pointing tension itu akan membuat jebol. Akibatnya, muncul nanah berulang. Lama-kelamaan, tulang rawan di dalam bisa rusak semua. Kalau sudah muncul abses, infeksi, itu artinya harus dibongkar. 

Apakah tanam benang bisa dicabut kembali? Bisa, tapi tidak gampang. Seperti mencari jarum dalam jerami. Benang yang ditanam hanya sehelai dan kita tidak tahu di mana letaknya. Jika sudah terjadi infeksi, itu artinya luka terbuka. Penyembuhannya, harus disayat. Untuk pembetulannya, pasti akan memberi sisa bekas sayatan yang cukup panjang, lebih panjang dibandingkan dengan bekas tindakan itu sendiri. 

Jika terjadi keluhan setelah tindakan filler dan tanam benang, sebaiknya jangan tunggu sampai hancur. Sebab, tingkat kesulitan untuk pembetulannya sangat tinggi. Tapi, selama masih di awal-awal tindakan, masih sangat mungkin untuk mencapai hasil yang lebih estetis daripada normal. 

Demikian juga untuk kasus komplikasi karena bedah plastik. Tindakan apa pun yang dikerjakan, baik operasi maupun tanpa operasi, pasti ada risiko gagal. Kegagalan tersebut masih bisa dikoreksi apabila datang ke tangan yang tepat, waktu yang tepat, dengan eksekusi yang baik. Dokter bedah plastik dituntut tidak hanya bisa  ‘mengerjakan’, tetapi juga memperbaiki. 

Ada beberapa hal yang bisa memicu hasil operasi yang tidak menyenangkan. Pertama, kesalahan secara prosedural, terdapat ketidaksempurnaan dalam pengerjaan. Kedua, keinginan pasien yang berlebihan. Sayangnya, keinginan yang berlebihan ini sering kali disanggupi oleh tenaga operatornya. Jika ada pasien seperti ini datang ke saya, “Dok, saya maunya begini,” kalau menurut saya itu tidak mungkin dilakukan, saya akan bilang, “Maaf, tidak bisa.” Kalau tidak bisa, yang tidak bisa. Bukan perkara bisa bayar atau tidak. (f)


Baca Juga: 
Pahami Cara Kerja 4 Sulam Kecantikan Paling Diminati Wanita

Advertisement
Botox, Filler, dan Thread Lifting. Mana yang Paling Sesuai Untuk Anda?
Operasi Plastik, Dulu Tabu Sekarang “Diserbu”




 




Topic

#bedahplastik

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?