Foto: Gustavo Fring from Pexels
Selain penularan COVID-19, orangtua pun harus mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang mengintai si kecil.
Bukannya tanpa sebab, saat ini Indonesia masih berada dalam periode musim hujan. Sementara itu musim penghujan merupakan masa di mana nyamuk Aedes aegypti, yang merupakan penyebab penyakit DBD berkembang biak.
Nyamuk dengan ciri khas berwarna hitam belang putih itu biasanya banyak bermunculan di genangan air. Nyamuk juga ditemukan bersarang di tempat-tempat gelap seperti tumpukan baju kotor yang digantung.
Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, dokter spesialis anak dan dosen di Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK-KMK UGM, dr. Eggi Arguni memaparkan dalam menghadapi situasi ini orangtua perlu memberikan perhatian ekstra kepada sang buah hati karena menurutnya anak-anak merupakan kelompok rentan penyakit DBD.
Lalu apa saja tanda-tanda seorang anak terkena DBD? Berikut beberapa gejala yang bisa dikenali:
1/ Anak mengalami demam tinggi
2/ Nyeri atau pegal-pegal pada otot dan sendi
3/ Nyeri di belakang mata
4/ Wajah merah dan muncul bintik-bintik di kulit.
5/ Mual dan muntah serta kelelahan
6/ Pada kasus yang parah dapat terjadi pendarahan hebat dan syok. Kondisi ini dapat membahayakan nyawa.
Dr. Eggi juga menjelaskan mungkin ada beberapa orangtua yang merasa kebingungan apakah anak merek a terkena DBD atau tidak. Ini wajar, pasalnya ada banyak penyakit yang disertai demam.
Namun bila anak mengalami gejala di atas, orangtua lebih baik segera membawa si kecil ke rumah sakit supaya mendapatkan penanganan medis dengan cepat dan tepat.
Perawatan pasca rumah sakit
Usai anak diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dr. Eggi menyebut masih ada beberapa hal yang harus perlu diperhatikan oleh orangtua untuk menjaga kondisi anak supaya lekas pulih. Pertama pastikan anak beristirahat dengan cukup, jika masih demam anak bisa dikompres menggunakan air hangat.
Selanjutnya, perhatikan pula asupan cairan anak. Orangtua bisa memberikan susu atau jus buah, tapi jangan terlalu manis. Untuk itu lebih baik hindari susu atau jus buah produk kemasan karena cenderung mengandung kadar gula yang tinggi. Untuk air putih tawar, dr. Eggi tidak menyarankan anak diberikan terlalu banya karena akan menyebabkan gangguan elektrolit.
Lalu yang tak kalah penting adalah mewaspadai sumber DBD yang ada di sekitar rumah. Orangtua bisa melakukan pencegahan dengan menerapkan 3M Plus.
Mencegah DBD
Hingga saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah DBD. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah tentu saja dengan mencegahnya. Kementerian Kesehatan menghimbau untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3 M Plus.
Termasuk dalam 3M adalah:
1/Menguras dan membersihkan tempat penampungan air secara rutin.
2/ Menutup rapat-rapat tempat penampungan air.
3/ Mendaur ulang atau memanfaatkan barang-barang yang dapat menampung air hujan.
Sementara pengendalian DBD juga dilakukan dengan upaya plus untuk mencegah gigitan dan perkembanganbiakan nyamuk, yakni:
1/ Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
2/ Menanam tanaman pengusir nyamuk seperti Zodia, lavender, kemangi dan sereh.
3/ Tidur menggunakan kelambu
4/ Memasang kawat kasa di lubang ventilasi
5/ Menggunakan repellent atau losion anti nyamuk
6/ Tidak menggantung pakaian yang sudah dipakai
7/ Memasang mosquito trap
8/ Larvasidasi di tempat yang sulit dikuras atau ditutup (f)
Baca Juga:
5 Kondisi Anak Tidak Bisa Diberi Vaksin COVID-19
Penyakit Jantung Bawaan Menyumbang Angka Kematian Bayi
5 Tip Menjaga Kesehatan Anak di Tengah Potensi Gelombang Kedua COVID-19
Topic
#DBD, #DBDpadaAnak, #MusimHujan