Foto: 123RF
Di Indonesia, bahan pangan polong-polongan ini sangat mudah ditemukan dalam berbagai produk olahan, mulai dari tempe, tahu, kecap, susu kemasan, protein bar, hingga suplemen. Meski populer, tidak sedikit yang ragu dan mempertanyakan efek samping dari mengonsumsi kedelai. Terutama karena kadar fitoestrogen atau isoflavon yang cukup tinggi dalam kedelai.
Dua ‘Sisi’
Keraguan itu dirasakan Via Fadilla (24), yang berhenti mengonsumsi kedelai sejak dua tahun lalu. “Waktu itu, di hasil USG ada tumor jinak di payudara. Kata dokter, salah satu penyebabnya adalah hormon enggak seimbang,” ujar wanita yang bekerja di agensi periklanan itu. Dari hasil penelusurannya, Via kemudian menemukan bahwa mengonsumsi kedelai turut menjadi penyebab ketidakseimbangan hormon.
Sharon Malina (30), ibu satu anak, juga sempat berhenti mengonsumsi kedelai saat hamil dulu. “Kata teman-teman, minum susu kedelai saat hamil anak laki-laki bisa membuat anak itu jadi keperempuan-perempuanan karena katanya kedelai mengandung estrogen, ya?” tanya Sharon, ragu.
Ya, mitos kedelai seperti yang didengar Via dan Sharon memang banyak beredar. Namun, tidak adil rasanya jika Anda tidak memberikan kesempatan pada kedelai untuk ‘membela diri’. Pada dasarnya, kedelai mengandung dua jenis zat alami. Pertama, zat gizi seperti protein, lemak nabati, karbohidrat, vitamin B2, dan vitamin K. Kedua, zat non-gizi, seperti serat, saponin, dan fitoestrogen.
Fitoestrogen merupakan zat yang mirip hormon estrogen. Kemiripannya pada hormon estrogen inilah yang membuatnya banyak dicurigai memberikan efek samping pada hormon orang yang mengonsumsinya. Pada kedelai, jenis fitoestrogen yang mendominasi adalah genistein dan daidzein. Kadarnya pada makanan dan minuman berbeda-beda, tergantung pada teknik pengolahannya.
Merujuk pada penelitian Wendy N. Jefferson, Ph.D., pakar ilmu biologi dari National Institute of Environmental Health Sciences di Amerika Serikat yang tercatat dalam The Journal of Nutrition, beberapa contohnya yang paling populer adalah:
- Serealia: 10-40 mg genistein dan daidzein/100 gram
- Sup miso: 16 mg genistein dan 43 daidzein/100 gram
- Makanan/minuman kemasan berbahan dasar kedelai: 75 mg genistein dan daidzein
Menurut dr. Christina, pada wanita muda dan wanita pre-menopause misalnya, konsumsi kedelai sebanyak 40-45 gram selama 2-4 minggu (atau setara dengan 100 mg fitoestrogen) berdampak pada perubahan kadar hormon kedua wanita tersebut. Kadar luteinizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH), yang berfungsi mematangkan sel telur, menjadi menurun. Efeknya, wanita muda menjadi infertil (tidak subur), sedangkan wanita pre-menopause mengalami perpanjangan siklus menstruasi.
Efek tersebut, ditekankan oleh dr. Christina, bukanlah efek permanen. Jika porsi dikurangi atau bahkan dihentikan, maka efeknya pun berangsur menghilang. Efek samping baru akan muncul jika kedelai dikonsumsi sebanyak 40-45 gram per hari dan dalam jangka waktu lama. “Kalau hanya dikonsumsi selama 1-2 hari, efeknya tidak ditemukan. Sebaliknya, kebutuhan nutrisi akan terpenuhi dengan baik,” ujarnya.(f)
Topic
#manfaatkedelai