Foto: Freepik
Tidak Menimbulkan Gejala Namun Berbahaya
Spesialis paru dari RS Persahabatan, dr Erlina Burhan MSc, SpP, mengatakan happy hypoxia bisa terjadi karena adanya kerusakan pada saraf yang mengantarkan sensor sesak ke otak. Hal ini mengakibatkan otak tidak dapat memberikan respons sehingga tak mengenali bahwa terjadi kekurangan oksigen dalam darah.
Normalnya, saat terjadi kekurangan oksigen, otak akan mengirim sinyal ke tubuh untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan cara bernapas cepat sehingga terlihat sesak. "Tapi pada beberapa pasien COVID-19, kondisi ini (sesak) tidak terjadi karena sudah ada kerusakan pengiriman sinyal ke otak," kata dokter Erlina dalam siaran Youtube BNPB, pertengahan September lalu.
Lalu, bagaimana cara mengetahui tanda-tanda happy hypoxia pada pasien COVID-19? Menurut dokter Erlina, gejala COVID-19 sangat bervariasi. Ada yang hanya anosmia, ada yang hanya pusing. Yang perlu diperhatikan adalah bila gejanya bertambah, batuk menetap, ada keluhan makin lemas. Selain itu warna bibir atau ujung Jari yang mulai kebiruan juga bisa menjadi tanda pasien COVID-19 mengalami happy hypoxia.
Bagi mereka yang menjalani isolasi mandiri diimbau untuk mewaspadai kondisi ini karena tidak mendapat pengawasan 24 jam dari tenaga kesehatan. Apa yang bisa dilakukan untuk mendeteksi dini happy hypoxia? Ahli Patologi Klinis yang juga Direktur dan Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS, Surakarta, Jawa Tengah, Tonang Dwi Ardyanto, seperti dikutip dari kompas.com mengatakan, ada dua cara untuk mengantisipasi dan mendeteksi dini happy hypoxia syndrome, yaitu:
1. Tarik napas dalam-dalam 2-3 kali. Lakukan secara berkala, minimal pagi-siang-sore-malam.
3. Menggunakan alat Pulse Oxymetri di ujung jari, untuk mengukur saturasi oksigen.
Mengingat happy hypoxia sangat berbahaya bila tidak ditangani segera, penting bagi pengidap COVID-19 untuk mewaspadai gejala kondisi tersebut. Kondisi hipoksia, baik yang yang bergejala maupun tidak, perlu segera ditangani oleh dokter. Untuk menangani hipoksia, dokter akan memberikan terapi oksigen serta menangani penyakit atau kondisi yang menyebabkan penurunan kadar oksigen tersebut.
Pada penderita hipoksia yang masih dapat bernapas, hipoksia bisa ditangani dengan pemberian oksigen melalui selang atau masker oksigen. Sedangkan pada penderita yang sudah mengalami penurunan kesadaran atau tidak dapat bernapas, dokter akan memberikan oksigen melalui ventilator dan melakukan perawatan di ruang ICU. (f)
Baca Juga:
Obat Favipiravir dan Remdesivir Dapat Digunakan oleh Pasien Covid-19 dalam Kondisi Darurat
Ganti Masker Lebih Sering dalam Kondisi Ini
Kenapa Harus Cuci Tangan Dengan Sabun?
Faunda Liswijayanti
Topic
#IngatPesanIbu, #3M, #satgas, #corona, #covid-19