Umumnya, reaksi alergi yang kerap menghampiri para penderitanya berupa rasa gatal, bengkak pada mata maupun bibir, sesak napas, rasa mual, hingga ingin muntah, pilek, dan batuk. Reaksi tersebut dapat muncul dua jam atau kurang, terhitung sejak Anda mengonsumsi makanan alergen tersebut. Untuk beberapa kasus tertentu reaksi alergi bisa sampai mengancam nyawa penderitanya.
Maka dari itu, penderita alergi harus menghindari makanan yang bersifat alergen sebagai upaya mencegah timbulnya reaksi alergi dalam tubuh. “Tapi, jika ternyata Anda tak mampu menghindari makanan alergen tersebut, Anda bisa mengonsumsi obat antihistamin dengan resep dokter,” papar dr. Mustopo Widjaja dari Klinik Asma dan Alergi dr. Indrajana Jakarta.
Namun, bila antihistamin belum juga mempan, dokter biasanya akan memberikan steroid berupa suntikan maupun obat oral berbentuk tablet, kapsul ataupun sirup, dengan dosis tergantung kondisi penderita alergi. “Dua jenis obat tersebut tidak berfungsi menyembuhkan alergi secara total, tapi hanya bertujuan untuk meredakan reaksinya,” pungkas dr. Mustopo.
Alergi VS Intoleransi
Secara kasatmata, alergi dan intoleransi makanan terbilang sama. Terlebih lagi, keduanya menunjukkan reaksi yang nyaris sama. Meski begitu, alergi dan intoleransi makanan adalah dua hal yang berbeda. Alergi makanan akan memicu reaksi sistem imun yang memengaruhi beberapa organ tubuh. Sementara gejala intoleransi makanan hanya memengaruhi sistem pencernaan saja, khususnya lambung dan usus. Walau tidak terlalu berbahaya, reaksi tubuh akibat intoleransi makanan pasti dialami oleh penderita alergi. (f)