TENTANG YOS, IMEL BERUJAR, “Ketika kami bertemu kemarin, Yos tidak menunjukkan gelagat yang menjelaskan kepergiannya. Ia begitu senang dan bersemangat bercerita tentang rencana pernikahan kalian. Sebuah pesta sederhana yang berlangsung khidmat, juga impian tentang rumah mungil dengan interior yang akan didesainnya sendiri.”
Ponsel dengan nomor yang tidak aktif. Rumah kontrakan yang kosong. Pun absen di kantor tanpa keterangan apa pun dengan wajah-wajah heran dari semua teman kerja Yos yang kutanyai.
Sudah pula kutelusuri kronologi yang tersaji pada alur waktu, meski selalu berakhir buntu. Hanya ada janji makan siang bertiga di resto langganan kami. Tidak ada yang aneh dengan itu, sebab peristiwa yang sama sudah berulang kali terjadi. Saking seringnya, jumlah yang pasti tidak pernah bisa kudekati dengan nilai kira-kira sekalipun.
Sebuah insiden kecil yang akhirnya membuat rencana itu tidak benar-benar terjadi seperti yang diprediksi. Jadwal meeting yang dimajukan membuatku tidak punya cukup waktu untuk menjangkau lokasi resto yang cukup jauh. Aku harus melakukan persiapan ulang dengan sisa waktu istirahat yang begitu singkat. Aku bahkan hanya sempat menenggak beberapa teguk air putih saja untuk memberi efek damai di perut dan pikiran.
“Tidak apa-apa, ‘kan?” tanyaku di ujung penjelasan, yang juga berisi permohonan untuk dimengerti.
“Tentu saja tidak apa-apa. Yang terpenting kamu jangan sampai tidak makan. Ini Imel juga baru datang. Masih lebih baik, karena aku tidak tinggal bersama begitu banyak menu yang telanjur kupesan. Bisa mati pingsan aku kalau menghabiskan semuanya,” seloroh Yos di seberang. Candaan pada ujung kalimatnya bahkan dipertegas dengan tawa kecil. Aku merasa lega dengan fokus pikiran langsung tertuju pada persentasi sebentar lagi.
IMEL ADALAH SAHABATKU sejak SMA. Orang tuanya di daerah mengirimnya ke kota besar dengan tujuan untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tidak ada satu kenalan atau kerabat yang ia miliki di tempat yang baru. Aku dan keluargakulah yang lalu menjadi orang-orang terdekat Imel. Orang tuaku menyayangi Imel layaknya anak sendiri. Imel bahkan ditawari tinggal di rumah kami, meski ditolaknya tanpa alasan yang jelas. Aku hanya bisa meraba-raba tentang kemungkinan rasa sungkan. Atau, keinginan untuk hidup mandiri. Imel lebih memilih tinggal di tempat kos dekat sekolah kami, meski juga sering menginap di rumahku pada kesempatan tertentu.
Sementara Yos adalah senior Imel di sebuah kampus ternama. Mereka saling tahu sebagai pelajar di universitas yang sama, tapi belum berujung saling mengenal dengan baik dan bahkan berteman. Pertemanan baru dimulai beberapa bulan setelah Imel lulus, tepatnya setelah Imel bertemu kembali dengan Yos karena faktor kebetulan.
Pertemananku dengan Imel dan pertemanan Imel dengan Yos, membawaku pada jalan hidup untuk mengenal Yos. Perkenalan yang akhirnya mengantarkan kami pada hubungan kekasih. Tidak ada yang berubah dari persahabatan Imel dan Yos dengan hadirnya aku sebagai kekasih Yos. Kehadiranku justru makin memberi warna pada keakraban mereka. Imel tidak pernah merasa risi berada di antara aku dan Yos. Kami bertiga bahkan sering pergi bersama.
Tetapi Imel tidak pernah kudapati memiliki kekasih, meski ada beberapa lelaki berusaha mendekatinya. Imel sebetulnya gadis yang pintar dan cukup menarik. Para lelaki yang mengincarnya mengetahui kami sebagai sahabat baik, sehingga menjadikan aku sebagai tempat menggali informasi tentang Imel. Karena itulah aku mengenal siapa saja lelaki yang pernah menyukai Imel. Yang kuheran, tidak ada satu pun dari para lelaki itu yang dipilih menjadi kekasihnya.
“Memangnya, seperti apa tipe pria idamanmu?” Aku mulai jengah atas serangkaian kegagalan mencomblangi Imel.
Bukannya menjawab atau bereaksi tegas, Imel justru menyimpul senyum teka-teki.
Imel memang menutup diri dari beberapa sisi. Nyaris tak ada yang ia kisahkan tentang orang-orang di kampung halamannya. Tiap kali kembali dari mudik, hanya buah tangan khas daerahnya yang ia bawa tanpa sekelumit cerita yang melengkapi.
Begitu juga dengan pasangan. Imel sebenarnya memiliki cukup banyak teman perempuan dan lelaki. Tapi ia hanya memilih bergaul dengan lelaki yang tidak memiliki potensi untuk menyukainya. Kebanyakan dari teman lelaki Imel adalah pria beristri, berusia jauh lebih muda atau tua, juga pria-pria yang jelas-jelas memiliki ketunggalan hati untuk kekasihnya. Imel akan langsung menjauh begitu seorang pria menunjukkan sinyal tertarik padanya.
“Apa kamu tidak berpikir ada sesuatu yang aneh pada Imel?” tanyaku pada Yos, dalam sebuah kesempatan berdua saja.
“Maksudmu?”
“Ya, bayangkan saja. Tidak pernah memiliki satu kekasih pun sampai dewasa. Apa ada alasan paling rasional selain kelainan seksual?”
Yos terdiam sejenak. “Kamu kan lebih dekat dengan Imel. Tidak hanya secara emosional, tetapi juga fisik. Kalian pasti sekamar jika Imel menginap di rumahmu. Apa ada perilaku tertentu darinya yang mengarah pada kecurigaanmu?”
Aku berbalik terdiam. Seingatku, pembicaraanku dengan Yos waktu itu tidak berakhir dengan kesimpulan yang pasti. Kami tidak lagi membahas Imel dari sisi kehidupan pribadinya. Kami berusaha menghargai pilihan melajang Imel sebagai cara baginya untuk mendapatkan kebahagiaan.
TETAPI IMEL AKHIRNYA MENEMUKAN PASANGAN HIDUP. Aku sangat terkejut mengingat bagaimana ia sebelumnya. Imel memang memilih berhenti dari profesinya sebagai tenaga pengajar di sebuah lembaga kursus. Ia kembali ke kota kecilnya dan berniat mencari pekerjaan baru di sana.
“Aku ingin menjaga Bapak. Di masa tuanya, beliau sendirian dan sakit-sakitan,” pamit Imel ketika itu. Kami tidak pernah bertemu sesudahnya. Komunikasi pun dikhususkan untuk sesuatu yang sangat perlu.
Suatu hari aku dikejutkan oleh kedatangan Imel yang tanpa lebih dulu mengirim kabar. Mama yang menemaninya mengatakan padaku bahwa Imel telah bertamu sejak satu jam yang lalu. Beliau kemudian meninggalkan kami dalam keadaan berdua, memberi ruang pada sahabat lama untuk bernostalgia.
“Aku akan menikah sebulan lagi,” katanya memberi tahu, setelah beberapa masa kami habiskan untuk berputar di topik kesibukan terkini, teman-teman lama dan baru, juga peristiwa sehari-hari yang sedang update.
“Dengan siapa?” responsku cepat. Sejenak kemudian aku menyesali pilihan kata-kata itu. Terkesan tak bernilai estetika.
“Dengan anak dari teman Bapak. Kami sudah dijodohkan sejak lama.”
“Oh….”
Lebih lanjut Imel kemudian melebar kepada segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan itu. Diawali dari ibunya yang meninggal sejak ia di ambang remaja dan diikuti dengan keputusan orang tua lelakinya yang tidak menikah lagi. Latar belakang ayahnya yang dari militer membuatnya bersikap otoriter pada anak-anaknya. Untuk urusan penting dalam hidup anak-anaknya, lelaki itulah yang menentukan. Dari soal sekolah sampai pendamping hidup. Kakak Imel pun telah menikah dengan perempuan pilihan ayahnya. Dan mungkin juga adik Imel suatu hari nanti.
Apa yang dikatakan Imel sekaligus menjawab pertanyaanku terdahulu. Aku menjadi tahu mengapa Imel menutup rapat-rapat akses masuk ke kehidupan keluarga dan pribadinya.
“Aku pasti datang di momen terpenting sahabat baikku.” Kami berpelukan sebelum berpisah.
Tapi ingatanku tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang kursi pelaminan Imel yang megah dan berukir indah. Seharusnya aku dan Yos lebih dulu menikah ketimbang Imel, sehingga bisa datang di acara pernikahan itu dengan status yang telah berubah.
Sulit kuterima apa yang dilakukan Yos sebagai sesuatu yang masuk akal. Tahun-tahun panjang kebersamaan kami menyimpul makna tentang dirinya sebagai kekasih yang setia, penyayang dan bertanggung jawab. Lalu, mengapa ia tiba-tiba mengubah karakteristik dengan dramatik?
Kekontrasan ternyata bisa terjadi hanya dalam hitungan sekali putaran jarum jam. Kepergian Yos begitu mandiri, tanpa penyebab apa pun yang mendahuluinya. Aku dipaksa untuk percaya bahwa seseorang yang benar-benar baik bisa langsung berbalik menjadi benar-benar buruk. Tidak harus ada proses dan waktu di antara dua keadaan itu.
LALU APA YANG DIKEHENDAKI TAKDIR dengan mengembalikan Yos ke hidupku? Lewat sebuah ketukan oleh seseorang di senja yang masih merah. Aku sendiri yang membukakan pintu. Tak ada selintas duga di pikiranku tentang sosok Yos sebagai tamu di luar pintu. Karena itu, tak ada yang kupersiapkan dariku. Baik mental maupun susunan kata-kataku dalam menyambut kedatangannya setelah sekian lama.
Kami berhadap-hadapan dalam sikap saling diam. Mata kami saling beradu tanpa memberi tahu apa yang ada di kepala masing-masing. Hingga akhirnya kudengar bunyi ranting patah dari arah bebungaan di tengah halaman. Mungkin akibat ulah angin yang bertiup kelewat kencang. Atau, karena ranting itu yang sudah rapuh melapuk. Bisa juga perpaduan keduanya. Tetapi yang pasti, kesadaranku terbit seketika itu. Aku menjadi tahu telah bersikap buruk sebagai pemilik rumah.
“Mari masuk,” ajakku dengan nada suara bergetar.
Bahkan setelah berada di ruang tamu yang nyaman, tak ada yang berubah dari aku dan Yos. Kami tidak seperti dua orang yang saling mengenal. Tidak juga sebagai dua orang yang belum mengenal. Belum ada sikap tertentu yang kutemukan. Sebuah sikap yang bisa sekaligus menaungi rasa benci, marah, kecewa, juga muak.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Yos akhirnya, tepi dari kebuntuan situasi di antara kami.
Aku bahkan tidak menjawabnya. Entah apa itu pilihan sikap yang tepat. Apa yang sudah dilakukannya adalah kesalahan yang mahaberat, mustahil bisa dicairkan dengan basa-basi sekonyol itu.
“Aku lebih senang jika kamu langsung kepada tujuanmu!” kataku ketus.
“Maaf…” Yos membalas dengan sikap kikuk. Dihelanya napas panjang sebelum kemudian melanjutkan, “Aku tahu kamu pasti marah karena meyakini sebagai satu-satunya orang yang tersakiti. Tapi asal kamu tahu, semua dari kita memiliki luka yang rata. Dimulai dari siang itu, ketika secara tiba-tiba Imel mengatakan perasaan dirinya yang sesungguhnya. Bahwa ia sebenarnya mencintaiku. Imel mengaku sudah berada di ujung pertahanan dan berakhir menyerah. Ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak terluka di depan kemesraan kita. Sudah terlalu lama ia menyimpan beban itu sendirian.”
Aku tercekat tanpa kata. Kutatap wajah Yos yang tetap tampan untuk mendapatkan penegasan. Apakah ada gurat tawa di ujung bibir, atau mimik wajah yang dibuat serius. Hasilnya, nihil. Apa yang kudengar adalah sesuatu yang sama persis dengan apa yang Yos katakan.
“Kejujuran Imel mengantarkanku pada kebingungan luar biasa. Aku tidak bisa lagi bersikap seperti sebelumnya, setelah mengetahui itu. Di depanmu, juga di depan Imel. Tetapi aku juga tidak bisa memberi keadilan pada kalian berdua dalam bentuk kebahagiaan. Pasti akan ada hati yang tersakiti. Karena itu aku memilih memberi keadilan dengan cara memberi luka pada kita semua. Untukmu, Imel dan diriku sendiri. Aku memutuskan untuk pergi begitu saja.”
Bulir-bulir kesejukan yang biasanya dikirim perangkat AC di sudut ruangan, kali ini dialih fungsi oleh suasana hati menjadi rasa panas yang membekaskan bilur-bilur nyeri sampai ke ulu hati.
“Aku sempat berjanji pada diriku sendiri, tidak akan menemui kalian lagi. Kuterima konsekuensi benci darimu. Tapi kematian Imel telah….”
“Imel meninggal?” potongku, shock.
Yos mengangguk. “Kena leukemia. Sebelumnya ia memang telah tervonis tidak akan berumur lama. Di sisa hidup, Imel membuka kebenaran ini di depan suaminya. Di luar dugaan, lelaki itu justru menerima dan memaafkannya. Ia juga yang berusaha keras mencari keberadaanku. Kami bertemu dua minggu lalu, seminggu sebelum kematian Imel.”
Dulu aku memang sangat ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Karena kupikir kemengertian akan membuat keadaan seseorang lebih baik. Tapi ternyata aku salah. Setidaknya itulah yang kurasakan. Aku tetap merasa buruk di depan kenyataan yang ada.
“Imel memintaku untuk menceritakan semuanya padamu. Rasa bersalah telah menghukumnya begitu rupa, sampai-sampai merasa tidak pantas untuk bertemu denganmu. Ia percaya aku adalah penyambung lidah yang tepat untuk memohonkan maaf. Ia juga ingin kita dapat kembali bersama seperti dulu. Dengan begitu, Imel merasa dirinya telah termaafkan dan bisa berbahagia di alam sana.”
Kata-kata Yos yang mengalir lancar dan lirih merasuki diriku bersama aliran darah. Dengan dramatis pula ia kembali menjadi sosok benar-benar baik yang pernah kukenal. Tapi ada sesuatu yang mendadak muncul dan mengganjal hatiku.
“Terlepas dari permintaan Imel, aku memang masih sangat mencintaimu dan berharap dapat memperbaiki hubungan kita. Kamu mau, ‘kan?” Yos menatap teduh ke wajahku.
Aku terdiam dalam bimbang. Di benakku berseliweran wajah… Bram. Lelaki santun dan berwibawa itu sejak tiga minggu yang lalu mengisi hidupku.
Pasini