Dewi membaca sekali lagi resep sayur asem dari buku resep masakan yang sengaja ia beli. Mungkin saja ada bumbu atau bahan yang terlewat karena untuk kesekian kalinya rasa masakan sayur asem buatan Dewi tidak seenak sayur asem buatan Ibu yang pernah dijadikan menu suguhan makan siang beberapa tahun yang lalu, ketika Andre dan orang tuanya datang ke rumah melamar Dewi. Andre dan orang tuanya memuji masakan Ibu waktu itu. Dewi baru tahu kalau ternyata ibunya yang jarang masak bisa membuat sayur asem seenak itu. Mungkin kalau Ibu masih ada, Dewi bisa minta resep rahasianya.
Dewi yang terbiasa membeli masakan matang di kantin langganannya, terpaksa harus menuruti permintaan Andre untuk dibuatkan sayur asem. Andre yang tidak pernah protes dengan masakan yang dibeli Dewi tiba-tiba bilang kalau ia bosan dan ingin makan sayur asem seperti buatan Ibu.
“Kalau bisa rasanya seperti yang dihidangkan Ibu saat makan siang dulu, tujuh tahun yang lalu….”
Ucapan Andre beberapa waktu yang lalu membuat Dewi urung membeli sayur asem di kantin langganannya. Rasanya jauh berbeda dengan masakan Ibu.
Menyesal sekali rasanya karena sebelum menikah Dewi jarang belajar memasak. Nyaris tidak pernah karena ia fokus pada kariernya waktu itu. Bekerja di sebuah perusahaan properti dan baru keluar setelah menikah dengan Andre. Sayur asem permintaan Andre membuat Dewi harus mengumpulkan banyak resep. Sayangnya, hasil masakannya tidak pernah seenak masakan ibunya.
DEWI BARU SAJA MEMERIKSA tas sekolah milik Lily. Ia menemukan bungkusan makanan yang berisi rainbow cake. Heran karena uang saku Lily tidak mungkin cukup untuk membeli rainbow cake, maka Dewi langsung bertanya.
“Lily beli kue ini di mana?”
“Dikasih sama Bu Guru Nana, Ma,” jawab Lily, sambil merebut kue tersebut dari tangan Dewi, lalu memberikan sepotong kepada papanya.
Andre yang kebetulan sedang cuti bekerja, menerima potongan kue dari Lily dan memakannya. “Enak,” kata Andre sambil mengacungkan jempolnya.
Rupanya, guru baru itu mengajar di TK Lily. Guru baru yang sempat membuat Dewi kesal karena di hari pertamanya mengajar ia malah membagi-bagikan brosur daftar makanan dari bisnis kateringnya. Andre yang pada waktu itu kebetulan ikut mengantar Lily, mengatakan bahwa Bu Nana pasti pintar memasak. Dewi yang selalu gagal memasak sayur asem jadi sensitif sekali ketika Andre memuji perempuan lain karena kepandaian memasaknya.
“Belum tentu kuenya bikinan Bu Nana. Bisa saja dia beli di toko kue!” ujar Dewi, sambil beranjak ke luar karena tukang sayur langganannya lewat. Bukan untuk membeli bahan dan bumbu untuk masak sayur asem, tapi mau bilang kalau hari ini dia tidak belanja. Berkali-kali gagal membuat sayur asem membuatnya malas memasak.
“MAMANYA LILY?”
Dewi menoleh. Seorang perempuan seusianya sedang membawa keranjang makanan sambil tersenyum ramah kepadanya.
“Mamanya Lily, ‘kan?” tanyanya sekali lagi, sambil menaruh keranjangnya. Dua keranjang makanan di tangan kanan dan kirinya sepertinya cukup berat.
“Ah, ya, Bu Nana. Saya mamanya Lily.”
Bu Nana kemudian membuka salah satu keranjang makanannya. Ia mengambil sepotong bolu rasa cokelat. “Untuk Lily,” ujarnya seraya memberikannya kepada Dewi.
Keranjang itu tidak hanya berisi kue. Dewi melihat ada aneka masakan yang sudah dikemas dalam wadah. Mulai dari tumis sampai yang berkuah. Dewi langsung melirik pada masakan dengan kuah bening agak kecokelatan. Masakan yang mengingatkan Dewi pada mendiang ibunya. Hari Minggu seperti ini Bu Nana memang sengaja mengantar pesanan sendiri. Kurir yang biasa membantunya libur.
“Saya bisa pesan sayur asemnya, Bu?” tanya Dewi.
“Bisa, Bu. Untuk hari apa?”
“Dua porsi saja untuk makan siang nanti.”
SATU MANGKUK SAYUR ASEM sudah tersaji di meja makan. Sayur asem buatan Bu Nana, dan Andre tidak tahu. Rasanya mirip dengan sayur asem yang dihidangkan Ibu tujuh tahun yang lalu. Rasa manis dan asamnya pas. Harganya juga terjangkau.
“Enak?”
Andre mengangguk. “Ya, enak.”
“Besok kamu mau makan sayur seperti ini lagi?”
Andre hanya tersenyum. Lalu menyeruput kuah sayur asem dari mangkuknya. Kalau tahu begini, dari dulu Dewi pesan masakannya Bu Nana. Lagi pula, Andre tidak akan tahu itu masakan orang lain atau masakannya sendiri.
MALAM INI MEJA MAKAN KOSONG. Dewi tidak menyediakan makan malam untuk Andre. Bahkan, tidak ada segelas teh manis untuk menyambut Andre yang baru datang dari kantor. Beberapa minggu ini Andre memang sering pulang terlambat. Urusan kantor membuatnya tidak bisa pulang seperti biasanya. Awalnya Dewi percaya. Tapi, kepercayaannya itu lenyap begitu saja karena tadi teman kerjanya Andre mengirim foto ke ponselnya. Foto yang membuat Dewi malah membanting pintu ketika kurirnya Bu Nana mengantar pesanan sayur asem tadi siang. Foto yang membuat Dewi berpikir kalau Andre selama ini tidak lembur, tapi berdua dengan perempuan lain. Perempuan yang sering membagikan kue kepada murid-muridnya, termasuk Lily.
Andre sempat berpikir Dewi marah hanyalah salah satu bentuk kejutan di hari ulang tahunnya. Tapi ternyata tidak. Sampai waktu sudah lewat dari pukul dua belas malam, Dewi masih membiarkan Andre tidur di sofa. Foto itu membuat Dewi mengunci kamar sebelum Andre pulang kerja tadi. Dan malas membukanya, meski Andre mengetuk pintunya berkali-kali.
“Aku tidak pernah berbagi apa pun dengan perempuan lain dari pinggan yang sama, Wi.”
Andre kemudian pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Ia tahu Lily tidak pernah mengunci kamarnya. Malam ini hujan. Udara dingin membuat Andre tidak sanggup tidur di sofa. Dewi menggigit bibirnya. Lalu membuka sedikit pintu kamarnya. Menatap Andre yang berjalan ke kamar Lily.
KURIR YANG MEMBANTU Bu Nana datang ke rumah Dewi. Ia tidak mengantar sayur asem seperti biasanya. Tapi mengantar sebuah surat dari Bu Nana untuk Dewi.
“Dari Bu Nana.”
Cemburu membuat Dewi malas tersenyum pada kurir itu.
SURAT ITU DILIPAT dan Dewi selipkan di tengah-tengah buku resep masakannya. Surat dari Bu Nana itu akan menjadi halaman yang paling sering ia baca. Berkat surat itu, ia bisa membuat sayur asem yang ia yakin rasanya pasti seperti buatannya Bu Nana. Sampai-sampai Dewi begitu percaya diri tanpa harus mencicipinya. Sebuah pesan singkat juga sudah ia kirim untuk Bu Nana. Isinya adalah berterima kasih karena sudah mau berbagi resep rahasia sayur asemnya. Sayur asem yang tujuh tahun lalu ternyata dipesan Ibu untuk menjamu Andre dan keluarganya. Katering keluarga Bu Nana sejak dulu memang terkenal dengan sayur asemnya yang enak.
Semangkuk sayur asem Dewi sajikan di meja makan. Tempe goreng dan ikan peda membuat Andre berkali-kali memuji masakan Dewi, meski belum mencoba masakan itu. Ini adalah makan malam pertama setelah malam-malam sebelumnya Andre makan di kantor. Lalu teman kerjanya usil mengambil foto ketika Andre sedang ngobrol dengan Bu Nana yang kebetulan sedang mengantar makanan untuk karyawan di tempat Andre bekerja. Katering Bu Nana sekarang dikontrak oleh pihak kantor untuk menyediakan makanan karyawan.
“Bu Nana mengundang kita di acara pembukaan rumah makannya yang baru. Rumah makan yang menu utamanya sayur asem. Kamu tidak keberatan kalau kita datang ke sana kan, Wi?” tanya Andre, sambil menyeruput kuah sayur asem buatan istrinya.
“Tentu saja tidak. Dan makan malam dengan menu masakanku ini menjadi kado ulang tahunmu. Tapi maaf, ini terlambat. Ulang tahunmu sudah berlalu.”
Andre tiba-tiba saja tersedak. Bukan karena bentuk kado yang Dewi berikan untuknya, tapi ia merasa mual setelah makanan itu masuk ke perutnya. Cepat-cepat Dewi menyodorkan air putih untuk Andre.
“Kenapa? Pelan-pelan makannya.”
Andre hanya tersenyum. Sakit maag-nya bisa mendadak kambuh kalau harus menghabiskan masakan Dewi yang rasanya asam sekali. Haid yang tidak kunjung datang membuat Dewi jadi lebih menyukai makanan asam. Sehingga, ia menambahkan banyak asam, meski di resep Bu Nana sudah ditulis jumlah asam yang harus dimasukkan ke dalam masakannya.(f)
Linda Hartanti