KARENA AKU LAHIR dan dibesarkan di kamar yang sempit, maka nanti aku pun akan tinggal di kamar yang sempit pula, atau sebuah rumah dengan kamar-kamar yang sempit jika ada sedikit keajaiban. Begitu yang dikatakan Ibu ketika suatu kali aku bermimpi tentang rumah bertingkat dengan kaca-kaca yang ramah sinar matahari, kebun bunga, dan sebuah kolam berair biru jernih yang mengingatkan akan laut dengan karang-karangnya meski air di kolam itu tak mengombak.
Maka, di dalam kamar yang sempit, di mana Bapak, Ibu, aku, dan seorang adikku, mencari-cari napas di antara jejalan barang-barang yang meski tak seberapa banyak namun sungguh menyita ruang ini, aku meyakinkan diriku tentang sebuah sayap halus yang tumbuh di punggungku. Sayap ini tumbuh pada suatu malam, yang meski hanya terasa seperti dikilik-kilik namun membuatku sungguh merasa gelisah. Mataku tak bisa terpejam, dan rasanya aku lebih memilih digigit kepinding yang banyak bersarang di tikar alas tidurku atau nyamuk di kamar ini yang besar-besar, sebab aku rela membagi darahku.
Aku telah menghitung kambing sampai seratus sambil membayangkan padang rumput yang menurut cerita ibu begitu luas di kampungnya yang entah di mana, namun aku masih tak bisa tidur. Aku pun telah menghitung butir-butir nasi sampai entah berapa ratus, di mana sebutir nasi telah kuhitung kubayangkah pula mengisi busungku satu persatu sehingga tak satu pun ruang tersisa, dan aku masih juga tak bisa tidur. Memang akhirnya, entah karena apa, sebab aku selalu tak bisa mengingatnya, tapi mungkin saja karena aku mulai menikmati rasa geli di punggungku itu, aku pun tertidur.
KETIKA AKU BANGUN keesokan paginya, kurasakan ada yang mengganjal di punggungku yang terasa lembut seperti kapas ketika kusentuh. Sungguh, aku meloncat-loncat kegirangan ketika kudapati sepasang sayap mungil di punggungku setelah dengan susah payah kuputar leherku agar bisa melihatnya. Sayap-sayap mungil itu bergerak-gerak lembut ketika aku mengejang-ngejangkan otot-otot punggungku sambil menatapnya berlama-lama dari cermin ketika Bapak dan Ibu tak di rumah sementara adik kusuruh bermain di luar. Tentu saja aku menggunakan dua cermin, satu cermin di rumahku dan satunya cermin di kamar sebelah yang kupinjam diam-diam ketika penghuninya, seorang lelaki paruh baya yang hidup sendiri, sedang mandi di sumur belakang yang kutahu sangat lama. Sungguh indah sepasang sayap itu, putih bersih dan hangat dengan bulu-bulu halus yang tak seperti sayap ayam yang keras dan kasar.
Dengan sayap di punggungku, aku harus berhati-hati, tak bisa sembarangan bersandar atau tidur terlentang, agar sayap itu tidak rusak atau patah sehingga tidak mau tumbuh, dan yang paling mengerikan tentu saja kalau sayap itu terlepas sehingga darahku akan memancur habis dan aku pun akan mati seperti seorang tetanggaku yang menyewa kamar paling ujung yang mengerat urat nadi di tangannya suatu malam dan ditemukan keesokan paginya dengan tubuh yang pucat dan rasanya agak mengerut. Maka, tiap pagi aku pun terbangun dengan kekhawatiran akan sayapku setelah semalaman tidurku gelisah. Aku pun harus berhati-hati agar sayapku jangan sampai diketahui orang lain, termasuk Ibu, sehingga suatu kali ia mencubit pahaku sebab geram melihatku yang selalu repot membuka baju dengan membungkus diri dalam kain sarung. “Kau belum dewasa, payudaramu masih sekecil kacang kedelai, jadi jangan macam-macam!” begitu kata Ibu selalu.
Sejak saat itu aku tak lagi membuka baju dalam bungkusan kain sarung, melainkan membuka dan menggantinya di balik semak-semak di belakang. Sampai suatu hari, ketika aku sedang mengagumi sayap-sayapku melalui dua cermin, kudapati Ibu, yang entah sejak kapan telah berada di kamar, menatapku dengan heran, lalu mencubit lenganku.
“Sudah kukatakan jangan macam-macam, kau belum dewasa!” kata Ibu, merebut cermin dari tanganku. Aku gembira, ternyata Ibu tak bisa melihat sayap di punggungku, pun Bapak dan adikku.
SUATU HARI aku bertanya pada Ibu, ketika timbul keinginan yang sangat kuat untuk menunjukkan kalau aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Bu, apakah manusia bisa memiliki sayap?”
“Hanya burung dan malaikat yang memiliki sayap,” ujarnya.
“Tapi aku memiliki sayap,” kataku membuka baju dan menunjukkan punggungku padanya. Ibu tertawa dan mengusap punggungku. Apa yang akan kau lakukan dengan sayapmu? Jika sayap ini telah besar dan telah bisa kukepakkan, aku akan terbang dari kamar sempit ini, mencari tempat yang luas dengan padang rumput di mana kambing-kambing berkejaran, lalu aku akan membawa Ibu, Bapak, dan adik ke sana. Lalu, apa yang akan kita lakukan di sana? Kita bisa membangun rumah yang besar di sana. Ibu dan Bapak bisa berkebun seperti yang dulu Ibu lakukan di kampung Ibu sehingga kita tak lagi kekurangan nasi, sementara aku dan adik bisa menggembalakan kambing sehingga kita juga bisa selalu makan daging. Ibu lalu memelukku dengan erat dan basahlah bahuku oleh air matanya, namun aku tahu Ibu tak memercayai sayap-sayapku.
Orang yang ingin kuceritai tentang sayap-sayapku adalah lelaki paruh baya yang menyewa kamar sempit di samping kamar kami. Ia sangat baik padaku dengan menceritakan dongeng-dongeng dari negeri-negeri yang jauh dengan keindahan yang akan hadir di dalam mimpi-mimpi malamku. Sejak mendengar cerita-cerita itu, aku pun berdoa pada Tuhan sebelum tidur agar menumbuhkan sepasang sayap di punggungku agar aku pun bisa pergi jauh terbang menjelajahi negeri-negeri jauh tersebut. Doa itu selalu kuulang-ulang, seperti menghitung kambing atau butir-butir nasi agar mataku bisa pejam, namun terus saja kuucapkan ketika mataku telah terpejam, hingga suatu malam adikku yang tidur di sampingku terbangun dan menangis.
“Tapi, nanti setelah sayapku besar dan kuat. Kakak punya sayap?”
Aku mengangguk dan memperlihatkan punggungku, meski kutahu ia tak bisa melihatnya. Dan, ia pun kembali menangis, sehingga aku terpaksa mengangkatnya berkeliling seolah-olah ia sedang terbang sampai ia tertawa lalu meminta lagi dan lagi.
SUATU MALAM, ketika sayapku telah bisa dikepakkan dan aku telah bisa terbang meski belum selincah burung-burung, aku terbang dengan takut-takut. Takut jatuh dan takut terlihat oleh anak-anak sepertiku yang sering melempari burung-burung. Ternyata semua tampak lebih indah dari angkasa. Aku menukik di sebuah taman dan dengan sukar membelok arah kembali ke atas sehingga tubuhku menerabas pucuk pohon dan sepasang orang yang sedang berpelukan di bangku beton menoleh namun aku telah bersembunyi di kelam malam.
Itu Ibu, berdiri di bawah lampu. Ia tampak cantik malam ini dengan lipstik dan bedak yang membuat wajahnya penuh warna, serta pakaian yang begitu terbuka di paha dan dada, yang tak pernah kutahu ia punya. Ah, mata Ibu begitu menggoda dengan tangan yang selalu terjulur ketika mobil-mobil melintasnya. Ketika mobil itu menepi, Ibu lalu menghampirinya, dengan gaya yang juga tak pernah kulihat sebelumnya, lalu berbicara sambil tertawa dari kaca jendela yang diturunkan. Apa yang Ibu cari dari pengendara mobil-mobil itu?
Dan, di manakah Bapak? Sebuah mobil kembali menepi, Ibu kembali menghampiri, berbicara dan tertawa lebih lama sambil sesekali menghindari tangan yang terjulur hendak singgah di dadanya yang seperti buah pepaya. Ibu lalu menunjuk dan keluarlah seorang lelaki (itu Bapak!) menghampiri, berbicara, membukakan pintu mobil untuk Ibu yang segera masuk, dibawa pergi, lalu hilang di tikungan. Aku hendak mengikuti mobil itu ketika kulihat Bapak kembali melangkah yang rasanya akan pulang kembali ke kamar sempit kami, sehingga aku dengan terburu terbang pulang juga, sebab jika adik terbangun dan menangis mendapati dirinya sendirian, aku masih bisa menenangkannya sebelum Bapak sampai.
SESEORANG, tak bisa kupastikan lelaki atau perempuan, membangunkan tidurku malam itu dengan senyumnya ketika dari sela-sela jendela kulihat langit telah memerah sementara Ibu, Bapak, dan adik masih lelap. Di dalam kamar sempit yang remang ini sayapnya yang bercahaya menerangi kamar sehingga dengan jelas terlihat piring-piring, gelas, panci dan kompor di sudut beberapa jengkal dari kaki Ibu, baju-baju yang ditumpuk di sudut lain, kardus-kardus tertutup rapat yang tak pernah kutahu apa isinya, mobil-mobilan plastik adikku yang berwarna hijau dan merah, dan tanggalan tua bergambar seorang wanita sedang duduk di mobil yang digantung di dinding papan di samping poster kuda berkepala perempuan cantik.
“Waktumu sudah tiba,” ujar lelaki itu padaku yang masih terpana melihatnya. “Ayolah, kau telah ditunggu sejak tadi.”
“Siapa yang menungguku?”
“Teman-temanmu yang juga memiliki sayap-sayap cahaya sepertimu.”
Kubuka bajuku dan kulihat sayapku bercahaya sehingga kamar sempit itu makin-makin terangnya.
Maka, terbanglah kami di angkasa bergandengan, membelah langit yang dengan halus mengusir kelam. Beberapa ekor burung ikut pula bersama kamu sampai burung-burung itu menemukan tempat untuk hinggap dan mencari makan. Kemudian aku teringat akan keluargaku. Bolehkah aku kembali? Aku belum berpamitan pada Ibu yang tentu akan mencubitku jika aku pergi begitu lama. Kami pun kembali ketika pagi telah benar-benar sempurna. Kenapa Ibu menangis begitu rupa, menjerit-jerit memanggil namaku? Ah, Ibu ternyata sangat sayang padaku. Ibu, aku pulang. Di muka pintu aku terpaku, melihat Ibu mengguncang-guncang tubuhku yang terbaring di atas tikar dengan tersenyum, di samping Bapak yang selalu membisu. Mari kita pergi, jangan sampai mereka menunggu kita terlalu lama. Kulihat adikku di sudut kamar sedang membelai sepasang sayap mungil di bahunya.
Yose Rizal Triarto