"Maaf, apa aku mengganggumu?" tanya wanita itu.
Pria itu menggeleng, lalu meneguk minumannya. Wanita berkulit pucat itu tersenyum. Tanpa ragu ia bergerak untuk memperpendek jarak di antara dia dan pria yang duduk dengan satu kaki tertekuk ke atas.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini?" tanya wanita itu.
"Minum, itu saja," sahutnya. Suaranya lembut, namun sedikit serak. Cahaya remang tengah malam seolah tirai tipis yang menghalangi pandangan. Wanita muda itu tak bisa melihat wajahnya lebih jelas. Pakaiannya lusuh, berwarna gelap. Rambutnya gondrong dan mengenakan topi bercupang agak lebar.
"Boleh aku duduk di sebelahmu?" pinta wanita itu. Pria itu mengangguk. Kemudian wajahnya terlihat sedikit lebih jelas. Wajah yang berusia tak jauh berbeda dengannya.
PLAK! Suara kayu panjang padat berdiameter tiga sentimeter mendarat lagi di tubuh Nana. Matanya terpejam. Sakit yang dirasakannya berkumpul berupa titik-titik di sudut matanya, yang akan berjatuhan bila kelopak matanya tak lagi sanggup menahannya.
"Perhatikan temponya! Kau bermain terlalu cepat!" bibunya. Kemudian Nana menggesekkan lagi busurnya ke senar-senar biolanya.
Nada-nada itu menyeruak kembali ke udara. Terkadang pelan, terkadang cepat, terkadang berteriak, bahkan terkadang seperti menyayat. Permainan Nana mungkin bisa memikat hati orang-orang awam untuk mendengarnya. Hanya saja berbeda dengan yang didengar oleh telinga Herna, ibunya. Berdecit sedikit saja, atau nada yang terdengar tak sesuai dengan partiturnya, sebilah tongkat akan langsung bersarang ke tubuh Nana.
Plak! Lagi. Tongkat itu mengayun dan mencumbui tubuh Nana. Menyisakan lebaman merah yang merekam rasa perih di kulit. Busurnya lepas dari genggaman. Dengan tangan yang bergetar, Nana memungutnya
"Ulangi lagi dari awal! Kau tidak dengar ucapanku? Perhatikan temponya!"
Nana menggigiti bibirnya. Diusapnya kedua matanya dengan sebelah tangan yang masih bergetar menggenggam busur. Bola matanya segera mengarah ke lembaran not musik yang terpasang pada penyangga. Tapi percuma, tatapannya kian samar dengan bulir air mata yang masih keluar dan tertahan di kelopak matanya. Ia hanya bisa bergantung pada ingatannya untuk menggesekkan busurnya pada senar biola.
Herna, mantan violinis cukup ternama di masa mudanya. Karirnya terhenti saat jemari kirinya tak lagi bisa bergerak lihai akibat suatu kecelakaan. Ia tak mampu bangkit. Menarik diri dari dunia yang telah membesarkan namanya. Kemudian pasrah untuk dinikahi oleh lelaki pilihan orang tuanya. Seorang bayi cantik terlahir dari rahimnya. Nana. Awalnya Herna mengajarkan biola pada Nana hanya untuk mengisi kekosongan. Hingga akhirnya bisikan-bisikan itu mengudara, singgah dan tak beranjak dari telinganya. Bisikan-bisikan dari teman-teman pemusiknya. Bisikan-bisikan yang kerap membuatnya tak nyenyak tidur. Masing-masing temannya membanggakan anak-anak mereka yang berulang kali memenangkan berbagai kompetisi musik. Kabar itu datang silih berganti. Dan bersarang di kepala Herna bagai burung yang tak berhenti bertelur. Yang mendesak-desak Herna untuk melakukan hal yang sama pada Nana.
"Kau tidak boleh makan malam sebelum memainkannya dengan benar!" Ancam Herna. Ujung tongkat panjang itu mengacung ke wajah Nana. Ujung tongkat itu seperti mewakili hasrat Herna. Bila tak dituruti maka akan melumat tiap inci kulit Nana.
Serupa bisikan-bisikan yang menetap di telinga Herna, kata-kata Herna juga mendiami isi kepala Nana. Ucapan itu pula yang terus berdampak pada kualitas alunan biola Nana. Suara biola itu adalah suara ketakutan Nana. Suara biola yang tak beraturan itu adalah cerminan diri Herna. Namun Herna tak pernah tahu. Yang ia tahu hanyalah Nana takkan bisa membanggakannya bila terus menghasilkan suara seperti itu.
“TENGAH MALAM seorang diri datang ke tempat ini, kau tidak takut?"
Nana menggeleng. Lengkungan halus ia sunggingkan di sudut bibirnya. Derik jangkrik bersahut-sahutan dari sudut ke sudut. Suara burung hantu terdengar beberapa kali dari atas pohon. "Kamu sendiri bagaimana? Kamu tidak takut?" Balasnya.
Nana menggeleng lagi. "Aku pergi dari rumah. Sekarang aku tak punya rumah lagi."
Pria itu menyeringai. "Aneh," ungkapnya. Lalu ia menuangkan cerek berisi air ke dalam sebuah gelas. "Mau minum?"
Nana mengangguk. Kedua tangannya meraih gelas yang disodorkan pria asing itu. Gelasnya hangat. Hidung Nana mencium bau yang harum. Diteguknya perlahan-lahan, wajahnya berseri. Kehangatan mengalir lewat kerongkongannya, menjalar ke bagian dalam tubuhnya.
"Bagaimana?"
"Enak," jawab Nana. "Nama kamu?" tanya Nana lagi.
"Panggil saja aku sesukamu."
Nana menatap wajah pria yang baru ditemuinya itu lekat. Mungkin untuk menyimpannya dalam ingatan dalam-dalam. Lalu meneguk minuman itu sampai habis. Nana meletakkan gelasnya di dekat cerek yang yang terletak. Ia menekuk kakinya, kemudian bangkit. Kepalanya menengadah lagi. Perlahan-lahan tangan dan kaki Nana merangkak naik ke pohon itu ke dahan yang paling dekat bisa dicapainya. Kedua kakinya memeluk dahan yan yang dicapainya. Sebuah gulungan kecil ia keluarkan dari dalam sakunya. Menyimpulnya di beberapa bagian, dan mengikatnya ke dahan pohon yang sedang ia duduki. Pria itu mengamatinya dari bawah.
"Kau tak ingin mencegahku?" ujar Nana. Suara burung hantu terdengar kian mengintimidasi.
Pria itu meneguk kembali minumannya. "Buat apa? Bukankah sudah kukatakan? Panggil aku sesukamu. Lakukan apa saja sesukamu. Aku sudah sering melihat kejadian serupa. Aku sudah terbiasa dengannya."
"Benarkah?"
"Puluhan, bahkan ratusan kali orang datang ke tempat ini untuk melakukan hal yang sama denganmu. Waktu serasa berhenti, seolah terus menyuruhku menyaksikan kejadian yang sama berulang-ulang."
Pergerakan Nana terhenti. Perlahan-lahan, kaki dan tangannya kembali meraba untuk turun dari atas dahan pohon. Lalu melompat saat dirasanya sudah sampai pada dasar pohon untuk sekedar mempercepat pendaratannya. Pria itu kembali didekatinya. Kembali duduk di sebelahnya, dengan posisi yang sama pula.
"Kalau begitu, hari ini kau akan melihat hal yang berbeda," ujar Nana dengan senyum yang berbinar. Wajahnya kali ini lebih terlihat segar daripada saat kedatangannya tadi.
"Kau ini memang aneh."
KEMUDIAN TERSEBAR BERITA di sekitar kota. Tentang seorang wanita muda yang selalu berbicara seorang diri pada sebatang pohon besar. Di pinggir kota. Tempat yang biasa ditemukan jasad-jasad tergantung dengan tatapan tanpa harapan.
An Hasibuan