Sebutir aspirin sudah kutelan.
Biasanya aku akan tidur setelah meminum aspirin. Perutku terasa panas dan mulut menjadi kering. Kurasa itu adalah efek samping dari obat yang kuminum. Kendati begitu, tetap saja aku selalu bergantung pada butiran-butiran tablet kecil putih itu tiap kali sakit kepala hebat menderaku. Aspirin juga obat termudah yang bisa cepat didapatkan jika terkena serangan jantung. Maka, aku menaruhnya di tas. Sebagai persediaan.
Luka bekas operasi di kakiku belum sembuh betul. Nanti sore aku harus menjalani perawatan lagi. Kuharap ini rawat jalan yang terakhir. Dokter sudah mencabut jahitan lukaku, hanya menyisakan satu jahitan di tengah. “Untuk menahan supaya lukanya tak sobek lagi,” begitu ungkap dr. Richard, dokter yang mengoperasiku.
"Berapa biayanya?" Pertanyaan itu kembali mengiang di telingaku. Aku mengingat kembali sekelumit percakapanku dengannya. Beberapa jam sebelum aku masuk ruang operasi. Orang tua itu meneleponku setelah aku mengirim pesan singkat. Tumben, biasanya pesan-pesanku tak berbalas.
"Asuransi sudah menanggungnya." Ah, bisa saja kusebut sejumlah angka dan memohonnya mengirim lewat rekeningku. Bisa saja. Tapi, aku selalu tak bisa berbohong. Satu lagi, aku bukan makhluk yang suka mengambil keuntungan dari penderitaanku. Mungkin orang-orang akan menyebutku naif, jujur, apa pun itu. Dan karena itu, kehidupanku selalu sulit. Anehnya, meski aku kekurangan dana untuk mengambil perumahan, aku tetap tidak menerima tawaran orang tua itu untuk membantuku. Apakah karena faktor gengsi? Bukan juga.
Aku belum pernah bertemu dengannya. Sekali pun belum pernah. Aku tak ingin dianggap melulu mencari keuntungan materi dari garis kekerabatan. Meski untuk banyak hal, dia harus bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas kehidupanku sekarang ini.
BAU cendana di almari Nenek, membuat aku suka duduk lama-lama di kamar Nenek. Apalagi jika Nenek sedang memilah-milah pakaian. Tumpukan pakaian itu, kata Nenek, usianya jauh lebih tua dariku. Disimpan sejak pindah dari kota. Nenek tak pernah lagi membeli pakaian sejak di desa. Sudah cukup banyak lembaran kain tertata di almari. Pakaian tak dibawa mati, kata Nenek.
Aku suka melongok isinya. Seragam veterannya diletakkan di laci paling atas, bersama tanda-tanda penghargaannya. Sebilah keris kecil tanpa sarung, digantung dalam kain putih di sudut atas lemari. Pemberian seorang haji, kata Nenek.
Ya, tiap awal bulan, aku pulang ke rumah. Selain menerima jatah uang bulanan untuk biaya kuliahku, aku juga cucu yang paling setia menemani Nenek ke rumah sakit. Periksa rutin, Nenek kena diabetes melitus, kencing manis. Aku menemaninya tanpa pernah mengeluh. Justru, perempuan tua itulah yang kerap berlinang air mata bercerita, mengadukan betapa anak-anaknya tak peduli lagi dengan kehidupan orang tua mereka. Apalagi cucu-cucunya, tentunya selain aku. Dan Kang Parmin, pengayuh becak itu, semacam perekam tiap kata dari perbincangan kami di atas becaknya. Aku tahu, Kang Parmin tak pernah membocorkan perbincangan kami. Dia, sangat pendiam. Itulah sebabnya, ia jadi tukang becak langganan Nenek, ke mana pun Nenek pergi.
Ingatanku pada sosok perempuan tua itu tak pernah lekang. Di tangannya, aku tumbuh dari bayi hingga dewasa. Tak salah bukan, kalau aku menganggapnya ibu, orang tua. Sedang orang tuaku sendiri, entah ke mana. Ibu kandungku sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri, dan ayahku tak pernah muncul sejak aku hadir di dunia. Tak pernah sekali pun kulihat raut wajahnya. Wahai, itu bukan masalah besar. Telah cukuplah Nenek sebagai pemeliharaku.
Selain Nenek, Kakek adalah orang teramah bagiku. Aku senang duduk dekat-dekat dan mendengar cerita-ceritanya. Di kemudian hari aku akan paham, adat suku Minang memang erat dengan tamba (budaya mendongeng). Sangat mafhum mengapa mereka juga tak mempersoalkan ketiadaan ayahku. Bernasab dari ayah, namun bersuku dari ibu.
MENDUNG di luar mengirimkan hawa dingin masuk ke dalam ruangan. Aku diam di kamar apartemenku. Televisi berbicara sendiri. Aku lebih asyik dengan komputer tablet. Berselancar mencari data-data untuk tulisan terbaruku. Fasilitas wi-fi di area apartemen sangat membantuku. Internet terkoneksi kencang.
Tinggal sendiri di kota metropolitan sebesar Jakarta butuh perjuangan keras. Hidup terasa berat tanpa dukungan siapa pun. Sementara ini, pekerjaan sebagai guru swasta dan tentor di sebuah lembaga bimbingan belajar, cukup mengongkosi hidupku. Sewa apartemen tipe studio di pinggiran kota dan biaya sehari-hari tertutupi. Dari murid-murid yang meminta les privat, aku bisa menabung sedikit-sedikit. Rencananya, aku ingin membeli sebuah rumah mungil untuk masa depanku.
Aku kembali teringat pada percakapan dengan orang tua itu. Dua minggu setelah aku mengirimkan sepucuk surat ke alamat kantornya, dia meneleponku malam-malam. Aku sedikit kaget. Tentu saja aku sangat senang. Kupikir dia akan mengabaikan suratku. Rupanya, dia terkadang berada di unit kantor lainnya di wilayah Kuningan sehingga terlambat merespons suratku. Aku sudah pesimistis saat itu.
Kutemukan namanya di sebuah artikel di internet. Ketika kulihat nomor induk pegawainya, alarm bawah sadarku secara refleks berdering. Aku selalu menghafal tanggal lahirnya, lantaran itulah satu-satunya petunjuk selain namanya dan sebuah foto pernikahan usang. Ibarat puzzle, aku mulai menemukan kepingan-kepingan yang tercecer.
Percakapan pertama kami dipenuhi luapan emosiku. Orang tua itu begitu pandai menyelidiki banyak hal tentang keluargaku. Mungkin dia berpikir, aku bisa jadi ancaman bagi pekerjaannya. Tetapi, dia pasti bisa menyimpulkan sendiri, aku tak berniat seperti itu. Aku cuma butuh penjelasan, konfirmasi, pemenuhan atas sebuah rasa penasaran.
Percakapan kami selanjutnya, sungguh di luar dugaanku. Selain menawarkan bantuan untuk membeli rumah, orang tua itu juga menawarkan pilihan lain. Dia akan membeli rumah atas namanya sendiri di dekat kantorku dan aku boleh menempati sampai kapan pun. Selamanya, bahkan jika ia sudah meninggal. Hah!? Ini bukan lelucon, ‘kan? Apa artinya itu?
KAKEK meninggal tanpa sakit. Tanpa pertanda apa pun. Saat itu aku masih kelas satu SMA. Betapa banyak tamu yang melayat. Nenek meninggal sepuluh tahun kemudian, saat aku hampir saja menyelesaikan kuliah untuk mengambil gelar magisterku. Aku sangat terpukul. Aku pulang terlambat dan jenazahnya telah dikebumikan. Nenek mengembuskan napas terakhirnya justru di saat aku hendak menghadapi sidang tesisku esok harinya. Sungguh pilihan dilematis antara ikut ujian atau melihat wajahnya untuk terakhir kali. Aku memilih nenekku. Dan gelar strata duaku tergantung. Bahkan hingga kini.
Dari kedua orang tua itu, tak secuil pun kudengar perihal ayahku. Cerita tentangnya sungguh simpang siur. Hanya kuingat sepotong kisah dari ibuku, ayahku kuliah di fakultas hukum. Tapi, di mana? Nyaris di seluruh universitas di negeri ini, swasta maupun negeri, membuka fakultas ini. Hanya satu pengobat perih hatiku, kata para orang tua, aku memiliki kulit dan wajah mirip dengannya.
“MENCARI siapa, Mbak?” seorang petugas security menyela langkahku memasuki gedung pengadilan. Aku tersenyum. Mafhum pada tugasnya. Aku mengangsurkan kartu identitasku dan menyebutkan nama orang yang kucari.
“Tunggu sebentar.”
Aku duduk di ruang tunggu. Wahai, betapa dekatnya kantor orang tua itu dengan sekolah swasta tempat aku kerap mengajarkan pendalaman materi. Hanya berseling beberapa gedung di Jalan Rasuna Said. Tetapi sungguh, kesibukan membuatku selalu abai dan melewatkan gedung ini, lantaran jalur satu arah harus membuatku memutar balik cukup jauh.
“Apa sudah ada janji temu?” petugas security yang tadi datang menghampiriku.
“Belum. Tetapi katanya beliau bisa saya temui kapan saja.”
“Maaf, Mbak ini, siapanya, ya?”
“Saya kerabatnya.”
Petugas security itu sedikit menyelidik. Ia memandangi wajahku sejenak, lalu pergi lagi. Kali ini ke arah petugas front office. Mereka berbicara sejenak. Aku pura-pura sibuk membaca buku. Untunglah di tasku selalu tersimpan novel-novel yang sering kubaca untuk membunuh waktu saat menunggu jam mengajar. Seorang wanita berpakaian rapi, datang menghampiriku. Aku bergegas berdiri menyambutnya.
Kujelaskan maksud kedatanganku. Wanita itu mendengarkan dengan sopan dan kemudian meluncurlah kata-kata dari mulutnya. “Mbak terlambat. Bulan lalu Pak Widi mendapat surat keputusan dari Badilum atas pengajuan mutasinya. Dan baru minggu lalu beliau dipindahkan ke Semarang, dekat dengan kampung halamannya.”
Plash…. Duniaku mengambang. Kosong dan gamang. Kecewa, lunglai, ingin menangis. Berbagai perasaan teraduk menjadi satu, tak jelas lagi rasanya. Selama nyaris setengah tahun aku berkomunikasi dengan orang tua itu lewat telepon, kini aku harus menelan pil pahit. Terlambat satu minggu. Ya, hanya satu minggu, dan aku kehilangan kesempatan melihat wajah orang tua itu. Mungkin selamanya. Dalam jangkauan satu kota saja, aku selalu menunda-nunda untuk menemuinya, apalagi di lain kota. Aku kembali pada titik nol. Segunung penyesalan menumpuk di dadaku. Kusalahkan jadwal mengajarku yang terlalu padat. Kusalahkan kebiasaanku menunda-nunda waktu. Ah….
Aku hanya butuh pengakuan. “Kau boleh menganggapku ayah,” kata orang tua itu dulu di telepon. Sebuah kata-kata yang aman, multitafsir. Tetapi, bukan! Bukan itu.
Aku menginginkan sebuah jawaban yang pasti. “Ya, akulah ayahmu.” Sekali saja aku mendengarnya, aku tak akan mencari orang tua itu lagi. Tak akan kuusik keluarganya, meski aku darah dagingnya. Dari pernikahan yang sah, namun terabaikan.
Cukup satu pengakuan yang akan aku simpan diam-diam, sebab aku paham, pekerjaan dan jabatan orang tua itu cukup terpandang, yang mesti bersih dari isu dan berita miring: penegak hukum di pengadilan tindak pidana korupsi negeri ini. ***
Irine Rakhmawati