Gestur Emilia berubah santai. Tapi, aku masih terus bertanya-tanya, benarkah Faustino tak pernah cerita kenyataan yang sesungguhnya kepada Emilia? “Tapi, lihatlah, Ma. Betapa kompaknya aku dan Carolin. Kami sama-sama menjadi guru. Itu cita-cita kami waktu kecil.”
“Kalian memang anak-anak hebat yang membanggakan.”
“Papa dan Mama yang telah mendidik kami dengan hebat.”
Aku menelan ludah, tidak tahu harus senang atau sedih. “Jadi, apakah Mama tidak ingin dengar pesan Papa di kaset itu? Aku sangat penasaran, kalau boleh tahu.”
“Oh, tentu saja boleh.” Tapi, aku tidak tahu apa yang dikatakan Faustino dalam rekamannya. Apakah akan ada hubungannya dengan Emilia atau tidak. Dan aku sungguh sungguh tidak percaya, kalau sampai detik ini Emilia belum tahu siapa ibu kandungnya.
“Emili.” Aku menyentuh lengannya. “Waktu telah membuat kau tumbuh dewasa, dan kami para orang tua
menua.” Aku bingung menemukan kalimat yang tepat.
“Tentu,” ucapnya, terdengar gugup. “Ayo, putarlah.” Emilia menekan tombol play. Jari-jari kami bertaut dalam suasana sunyi. Aku bisa mendengar gesekan pita berputar. “Mira,” suara berat itu memecah hening. Kami sama-sama memandang tape recorder, seakan-akan pemilik suara ada di sana.
Aku menahan napas menunggu lanjutan kata Faustino. “Apa kabar?” Sesaat jeda. “Aku minta maaf, Mira.” Kembali hening. “Aku tahu, kesalahanku pantas untuk tidak dimaafkan. Kepergianmu menyadarkan betapa aku ini lelaki bodoh. Aku tak bisa membedakan mana cinta dan nafsu.
Aku menerima rasa sakit dan kehilangan sebagai hukuman. Sering kali aku disergap kecemasan yang membuatku menjadi lelaki pengecut. Ayah yang pengecut. Aku tidak bisa membayangkan, setelah kehilangan kalian lalu harus kehilangan Emili.”
Aku dan Emilia saling berpandangan. “Sekali lagi kukatakan, Mira, bahwa dia hanya datang ingin membawa Emili. Tetapi, dalam situasi yang tidak menentu seperti itu aku harus mengambil keputusan yang adil untuk putriku. Tak bijak rasanya menyerahkan Emili kepada orang yang selama ini asing dalam hidupnya. Dia dalam suasana duka karena kepergian kalian. Aku pun tidak sanggup harus menjelaskan semuanya kepada Emili. Aku tidak sanggup melukainya. Sebab, itu sama saja melukai diriku sendiri.”
Tangan Emilia dingin, dia melepaskan genggamanku. “Kau tahu, aku mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada Emili. Dia begitu memujaku, hingga ketika kau pergi, dia dengan sukarela memilih bersamaku. Aku tak sanggup melihatnya terluka karena orang yang dia percaya adalah pendosa. Aku mohon, Mira, katakan semua kepadanya. Bagaimanapun, dia telah dewasa. Dia berhak tahu siapa sebenarnya dirinya.”
“Ap-ap, apa ini?”
Topic
#fiksi, #fiksifemina, #novelet, #cerber