Tetapi, entah berapa lama, aku tak bicara pada Faustino. Lelaki itu harus tahu, ketika aku mau merawat anaknya, bukan berarti aku menerima pengkhianatannya. Sama sekali tidak. Bahkan, meskipun tiap hari Faustino meminta maaf. Kesalahan tetap saja ada hukumannya, bukan?
“Ini kesalahanku. Membawanya tidak hanya berarti mengingatkan aku pada dosaku padamu. Tetapi, aku juga tahu bahwa ini juga menyakitimu. Tapi, aku tak punya pilihan. Karena bagiku, hanya kamu tempat aku pulang.”
Karena bagiku, hanya kamu tempat aku pulang. Harusnya itu kalimat yang menyejukkan. Tetapi, saat itu justru membuatku mual. Faustino perayu ulung. Dia tidak hanya pintar menyusun kata-kata manis, tapi juga memperlakukan orang lain dengan manis. Dia membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mencuci pakaian kotor, tidak hanya popok Emilia, namun semuanya. Tetapi, dia mengkhianati janji suci pernikahan kami.
Itu yang tidak bisa kuterima.
Dan, meskipun aku tidak menanggapi kata katanya, Faustino tetap menjelaskan kenapa dia membawa pulang Emilia ke rumah kami. Aku ingin menyuruhnya diam, tetapi aku malah mendengarkan. Katanya, yang terjadi dengan wanita yang tidak ingin kuketahui siapa namanya itu adalah kesalahan tak sengaja.
Jadi, karena wanita yang tidak ingin kuketahui siapa namanya itu akan melanjutkan pendidikan, dia tidak mau merawat Emilia. Dia akan menaruh Emilia di panti asuhan. Faustino tidak ingin bayi malang itu menanggung derita akibat dari dosa kedua orang tuanya. Setidaknya, meskipun ibunya tak mau merawatnya, Faustino tidak ingin menambah dosa dengan menelantarkan.
Faustino ingin bertanggung jawab, membesarkan dengan layak. Sekarang bayi itu ada di sini, dalam dekapanku. Setelah enam belas tahun lalu aku membuat keputusan besar meninggalkan mereka.
“Mama…,” Emilia menatapku dengan pipi basah. “Bertahun-tahun aku rindu pertemuan ini. Aku sering mimpi kita sama-sama, tapi Mama selalu menghilang.”
Tenggorokanku terasa sakit. Bagaimanapun juga, waktu menumbuhkan rasa cintaku kepadanya. Aku memberinya kasih sayang sama besar, seperti aku menyayangi Antoni dan Carolin.
“Mama juga merindukanmu.”
Aku mengusap pipinya yang basah.
“Kami sering bercerita tentangmu,” Carolin menyahut. “Bagaimana kabar Papa?”
Topic
#fiksi, #fiksifemina, #novelet, #cerber