Bagian 1 2 3
Adegan 1 – Musim dingin
Pagi yang baru. Di atas langit berwarna biru cerah.
Seorang perempuan di akhir usia 20-an keluar dari taksi berbadan putih. Sepasang kaki panjangnya ringan menaiki tiga anak tangga semen yang rendah dan lebar. Memasuki sebuah gedung berdinding kusam, kurang penerangan. Langkahnya lebar dan bertenaga.
Tak seorang pun di lobi. Sudut resepsionis di sisi kanan, kosong. Matanya yang bersinar langsung tertuju ke wajah lift di tengah ruang. Sepasang pintu kembar alumunium berwarna telur asin, yang bila dilihat lebih dekat, penuh jeri luka gores.
Lantai enam, desisnya. Jari telunjuk kirinya menekan tombol angka enam. Lalu tanda lipat gunung. Ia tak lagi peduli betapa beluwek dan mengerikan rupa keset di bawah kakinya. Seperti seratus tahun mengabdi di sana, tanpa perlop.
Pintu terbuka. Kaki kanannya melangkah ke kotak segi empat ukuran kurang dari satu meter persegi. Lift model kuno yang muat empat orang berdiri bersesakan. Dindingnya dicat cokelat motif alur tripleks murah. Kilat cat membuatnya tampak betul-betul murahan. Mesin terdengar terbata-bata ketika ia bergerak naik-turun. Isyarat dapat macet kapan saja. Penumpang yang telanjur masuk di dalamnya, mungkin bergidik tengkuk mendengarnya.
Ia menutup kedua matanya. Tak mau membesar-besarkan rasa aman yang sedikit menipis. Di dalam sana ia membayangkan tubuh ringkih ibunya yang terbaring di tempat tidur, mengucapkan harap ketika ia pamit pergi, “Ibu doakan kamu berhasil, Nak.” Hatinya seketika terharu. Sudah enam bulan ini ibunya berjuang melawan kesakitan hebat yang diakibatkan kanker ganas stadium empat.
Mendadak hidungnya mencium bau tajam. Bulu kuduknya spontan berdiri, mengingat suara dari lift. Ia membuka mata selebarnya, menoleh cepat ke kanan, arah datangnya bau. Ia kaget melihat makhluk bersetelan hitam-hitam sudah berdiri di sisinya. Kapan masuk?
Kepala orang itu lurus ke depan. Rambut seluruhnya putih, berkumis penuh, berkacamata. Hidung lancip, pipi merah tomat, leher gemuknya tampak tercekik dasi. Seperti logo resto cepat saji di kota-kota besar negeri ini. Apakah dia hantu Kolonel Sanders?
Merasa diawasi, pria kulit putih itu menengok. Kedua matanya biru toska. Senyumnya lebar. Sorot matanya tulus seperti bayi. “Selamat pagi,” ucapnya dalam bahasa Inggris. Suaranya empuk. Perempuan itu lega. Mengangguk untuk membalas keramahan yang ditunjukkan.
Ting, pintu lift sudah terbuka lagi. Lantai enam. Kali ini cahaya terang dan hawa dingin menyambutnya, ceria. Logo merah-biru-putih yang mewarnai nama lembaga itu ditulis huruf emas, teguh di dalam kaca tebal jernih tembus pandang.
Di sini udara lebih beradab. Ia keluar lift. Kolonel Sanders sudah menghilang ditelan satu pintu menganga, di ujung kanan. Dasar hantu, batinnya.
Kantor ini berkewarganegaraan negara adikuasa. Ia adalah komisi pendidikan yang menganugerahkan beasiswa. Bagi manusia pintar negeri ini ke negara itu. Untuk menempuh pendidikan sekian tahun di universitas pilihan, kembali ke negeri ini dengan menggondol doktor atau master atau gelar apa pun. Menjadi alumnus kehormatan bersama ratusan manusia terdidik lain, yang memperoleh kesempatan indah ini. Dan siap mengabdi di tanah air. Atau mendatangkan para ahli negara itu ke negeri ini. Memberi kesempatan mereka memindahkan pelbagai keahlian dan temuan baru, bagi kepentingan negeri ini.
Kantor ini menandai sebuah prestise manusia-manusia cerdas yang berbudaya. Nama-nama yang gagal dan lemah, tak masuk dalam catatan. Dan mereka tetap bertahan di tempat menyedihkan ini, sebagai tanda penghargaan kerja sama dua negara. Negeri ini berterima kasih dengan setengah hati. Menempatkan kantor mereka di gedung buruk ini.
Sebulan lalu, kantor ini memasang iklan di harian berbahasa Inggris. Menawarkan karier berjenjang dan gaji tinggi. Matanya menemukan kesempatan itu. Bukan suatu kebetulan. Ia merasa semesta telah merahmatinya. Segera ia layangkan surat lamaran. Orang arif bilang, kesempatan takkan lewat dua kali. Dan alam telah sungguh berkompromi untuk mengkristalkan tekad hati seseorang, yaitu dirinya, bertemu Tuan Kesempatan. Kali ini ia bukan untuk pengabdian atau kepuasan diri, tetapi meraup uang. Itulah harapan sangat mendesak saat ini.
Ini kedua kalinya kantor memanggil.
Ia masuk ke pintu yang tadi menelan Kolonel Sanders. Seorang perempuan berambut pendek berkulit gelap, menyambutnya. Sekretaris kantor. Ia sedang menelepon. Mulutnya menempel di gagang telepon. Suaranya tak terdengar.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?” Suaranya cempreng.
"Ya, Mbak. Hari ini saya dipanggil wawancara lagi.”
"O, betul. Mbak yang minggu lalu, ya? Silakan tunggu di perpustakaan.”
Ia menyudahi pembicaraan di telepon, langsung berdiri. Punggungnya melengkung seperti udang. Ia memandu perempuan itu ke arah yang disebutnya perpustakaan. Sebenarnya itu ruang konsultasi pendidikan. Namun, karena dindingnya ditutupi buku-buku panduan sekolah tinggi dan universitas, jadilah disebut perpustakaan.
Ia duduk di sana. Seperti minggu lalu. Bersamaan, seorang laki-laki paruh baya berperut buncit memasuki ruang. Ia berjalan mengayun-ayunkan kedua lengan ke depan-belakang seperti menarikan tarian maju-mundur. Ia menyapa, ”Wawancara lagi, Mbak?”
Ia tersenyum, kagum karena laki-laki itu masih mengingatnya.
”Kalau dipanggil beberapa kali, biasanya diterima,” kata laki-laki itu, santai.
“Ini baru panggilan kedua,” jawabnya, tersenyum.
Laki-laki itu tertawa terkekeh. Berjalan ke belakang satu meja di ujung sana, dan ia tertanam di sana. Baru akan saling bicara lagi, si bengkung udang muncul. Suaranya terburu-buru seperti mengejar maling yang kabur, saat berkata, ”Mari, Mbak! Orang yang akan mewawancara, sudah datang.”
Si bengkung udang memimpin di depan. Ia mengenakan atasan putih lengan pendek dan celana panjang kain cokelat tua kusam. Paduan yang buruk. Kaki kurusnya tak lurus. Sepatu plastiknya yang berhak rendah, kelihatan murahan. Pemandangan yang menyedihkan.
Ia mengekor si bengkung udang sampai di satu pintu. Berdiri di tempatnya, sekretaris kantor itu mengatupkan kedua kaki, lalu kedua tangan di dada seperti menghaturkan sembah, mencondongkan tubuh ke depan, persis guru taman kanak-kanak menyambut anak-anak murid berbaris masuk kelas. Mulutnya tersenyum lebar. Menampakkan geligi kecokelatan yang tak rapi, tumbuh pada gusi hitam. Lalu, sambil meletakkan kedua tangan di paha, ia berkata, ”Silakan menunggu di sini, Mbak.”
Takjub ia melihat gerak teatrikal menjerikan itu, mengangguk pelan, menjawab sopan, ”Terima kasih.”
Ia masuk ke ruang yang dapat dibongkar-pasang seluas 5x10 meter. Temperatur di sini lebih dingin daripada di perpustakaan atau di lorong. Di tengahnya sebuah meja berbentuk empat persegi panjang, berselimut batik motif biru putih dengan bandul benang sulam yang cantik, pada ujung-ujungnya. Sepuluh kursi mengerumuninya seperti berbisik-bisik. Mesin air memanggul botol di ujung sana. Di sisinya meja kayu manis beroda tempat menatang kopi, gula, teh, krimer, sendok, cangkir-cangkir putih dan pisinnya.
Ia memilih duduk di kursi yang menghadap pintu. Seperti minggu lalu.
Tak lama terdengar suara-suara dari arah selasar, mendekat. Seorang perempuan matang berkulit gelap, agak tambun, melenggang masuk. Rambut keritingnya berwarna cokelat tembaga. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru silang-silang putih besar dan rok denim sebetis. Jemari tangan kirinya yang polos memeluk mug putih berlogo Starbucks. Benang teh menjuntai ke luar, kuning. Judulnya Chamomile. Dari sana asap mengepul lembut, hilang di udara. Di tangan kanan sebuah buku kecil dan pena. Mulutnya memamerkan sederetan gigi putih yang bercelah pada gigi seri.
Dia akan menjadi atasannya, kelak. Jabatannya, penyelia senior. Bahasa Inggris-nya sempurna. Menurut informasi si bengkung udang, perempuan ini berkarier cemerlang karena ingatan yang jarang meleset, disegani kalangan pembesar negeri itu. Satu-satunya ia ditelepon presiden untuk menceritakan kerusuhan sosial dan ekonomi dahsyat yang melanda negeri ini beberapa tahun lalu. Akarnya berasal dari keluarga terhormat. Ia sendiri kawan sepermainan perempuan kuat yang pernah menjadi presiden negeri Ini.
Lalu perempuan kedua. Mungkin seusianya. Kulit mukanya licin pucat. Kepalanya ditumbuhi rambut tipis seperti milik bayi. Dua anting-anting besar di daun telinga, membuat wajah mungilnya tidak proporsional, dan mendesak sepasang mata kecilnya. Tato alis permanennya tampak sempurna. Saat tertawa, gigi-gigi kecokelatan akibat nikotin segera memperkenalkan jati dirinya. Pemulas bibirnya gelap. Ia mengenakan kemeja putih sampai siku. Celana jinsnya ketat. Jam tangan besar di pergelangan tangannya yang mungil seperti mendominasi seluruh penampilannya yang modern. Pashmina krem menutup lehernya, hadir bersama mug hijau, buku-pena di ketiaknya. Sepatunya berhak lima senti. Ia asisten penyelia senior. Kelak, dialah rekan kerjanya.
Dan, seorang perempuan muda lain, hadir. Yang ini, da belum melihat sebelumnya. Wajah oriental dan kulit putihnya kemerahan. Segar. Rambut lurusnya halus, cokelat muda. Matanya seperti biji almond yang gemuk di tengah, melancip pada kedua sisi. Senyumnya lepas. Gigi mentimunnya sangat manis berdampingan gusi sehatnya yang merah muda. Penampilan sederhana justru adalah kekuatannya.
”Selamat pagi. Apa kabar?”
”Pagi, Bu. Baik. Terima kasih.”
”Jangan panggil Bu, ah. Jadi tua banget rasanya. Kak saja. Atau langsung nama. Gimana hari ini? Ada perasaan baik?”
Ia tersenyum.
“Nah, saya kenalkan orang baru, sebagai observer di sini. Sudah enam tahun mengabdi. Hafal semua proses kerja di luar kepala. Bahasa Inggris-nya aksen Amerika. Sedang ditaksir calon doktor, tapi malah ketakutan. Ha…ha…ha...”
Ruangan menjadi ceria dengan suara tawa empat perempuan berbarengan.
"Dan, ladies, calon teman baru kita ini seorang multi bakat. Pertama ia wartawan, lalu ditarik lembaga pemerintah untuk mengurus bagian pemberdayaan masyarakat dalam bidang pendidikan, menulis kolom kebudayaan di satu harian. Bos besarnya salah satu komisaris kantor kita.”
”Wah, hebat. Kenapa pindah? Di sini pusing. Ngurus yang mumet-mumet. Ketemu orang yang susah diatur.”
"Tapi, di sini kesempatan ketemu jodoh lebih besar. Ha… ha… ha....”
Kehangatan ruangan terus terasa.
"Aduh, mana sih dia?” keluh penyelia senior, mengalihkan kebahagiaan. ”Tadi subuh dipanggil Duta Besar. Ada masalah urgent.“
Wajahnya mengusut. Ia menyesap teh dari mug, menatapnya, bertanya, ”Bisa kerja Senin besok?”
Ia terperangah, ragu.
"Hmm... saya belum menulis surat pengunduran diri.”
"Kita perlu tenaga segera. Saya kasih waktu kamu dua minggu untuk mengurus itu semua, gimana?”
"Nah sekarang, apa yang harus saya lakukan di sini?” tanya Kolonel Sanders, menoleh ke arahnya, tersenyum.
"Saya sudah putuskan: dia. Dia segera tanda tangan kontrak. Mulai kerja Senin dua minggu depan,” tegas penyelia senior.
"Oh, bagus. Saya tunggu kalian di ruangan saya,” sambut Kolonel Sanders, gembira.
Serentak semua berdiri. Berjalan berbondong-bondong. Melewati meja si bengkung udang, ke kanan paling ujung. Di sanalah kantor hantu Kolonel Sanders. Namun, hanya penyelia senior dan dia yang masuk ke ruang direktur eksekutif kantor, yang, aduh, bukan main dinginnya, ditambah fan yang bertiup berkekuatan badai.
“Di masa lalu dia adalah beruang es,” ujar penyelia senior dengan wajah kesal.
Saya dengar itu,” ujar Kolonel Sanders, tertawa.
Atasannya seperti mendapat kesempatan mengejek, bahwa selama enam tahun bekerja dan tinggal di negeri ini, direktur eksekutif itu hanya bisa bilang terima kasih, selamat pagi, selamat siang, selamat malam, janji.
“Bukan hanya janji. Tetapi, janji tinggal janji,” ralat Kolonel.
Penyelia senior mendengus kesal.
“Tapi percayalah, saya paham tiap kata yang kalian bicarakan,” Kolonel Sanders mengacungkan telunjuknya.
Penyelia senior menanggapi dengan mendelikkan matanya, lalu mencibir.
Seorang perempuan kepala HRD datang dengan selembar kontrak kerja. Penyelia senior menjelaskan kepadanya isi kontrak. Masa percobaan enam bulan, segala do’s and dont’s, fasilitas kantor, dan sejumlah angka yang akan didapatnya tiap akhir bulan.
”Dia setuju mulai bekerja Senin, seperti tertera di sini.”
Kolonel Sanders mengangguk-angguk, memandangnya, berkata, “Pastikan kamu bisa tinggal di sini lama. Kami tidak mau habis waktu mencari-cari orang baru.”
Ia mengangguk, tersenyum. Mengerti.
Penandatanganan kontrak kerja selesai tak sampai dua puluh menit. Penyelia senior dengan gembira mengumumkan ke seluruh isi kantor –yang hanya sepuluh orang itu – tentang anggota baru. Tiap orang menyapa, mengucapkan selamat datang, dan ia tersenyum, mengucapkan hal sama. Setelah itu si atasan bersabda ke si bengkung udang,
“Antar teman baru kita berkeliling, agar dia tahu semua milik kantor.”
Setelah selesai semua, ia pamit, keluar dari ruang itu. Ia merasa seperti baru saja terjaga dari mimpi.
Apakah betul aku memerlukan pekerjaan ini? Kalau aku menghasilkan uang lebih banyak, apakah masalah akan selesai? Tetapi, apa masih bisa bertanya-tanya, sementara aku sudah menandatangani kontrak kerja?
Kenyataan yang melegakan dan memprihatinkan sekaligus. Melegakan karena dia akan mendapat gaji dua kali lipat dari sebelumnya sehingga lebih leluasa membiayai pengobatan ibunya. Menyedihkan, karena dia akan meninggalkan pekerjaan yang dia cintai.
Dia tidak mau memikirkan terlalu dalam. Dia telah memutuskan karena itu tidak mau terjebak di persimpangan kebingungan.
Tuhan, seandainya keputusanku salah, buatlah itu menjadi benar karena kebaikan-Mu, doanya dalam hati. Dan itu membuatnya merasa damai.
Harapannya mengembang seperti ragi pada terigu. Sebentar lagi ia tiba di rumah. Akan dia ceritakan kabar baik ini kepada Ibu dan Bibi, adik bungsu ibunya yang tinggal bersama mereka sejak ia masih bayi. Bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tahun ini, kalau segalanya lancar, ia bisa mengumpulkan pundi-pundi untuk menebus kendaraan warisan Ayah yang digadai demi membayar biaya operasi Ibu, tiga bulan lalu. Dan akan mengembalikan tabungan bibinya yang ikut terkuras habis. Membayangkan itu, dia makin bersemangat.
Adegan 2 – Musim semi
Senin, dua minggu berikutnya. Hari pertama kerja.
Perempuan itu tiba pukul 07.15. Lima belas menit sebelum jam resmi kantor. Si bengkung udang masih menelepon dengan suara nyaris tak terdengar. Tetapi ia melompat begitu melihat kedatangannya.
Selamat pagi! Saya sudah siapkan semua, Mbak. Mari!” suara cemprengnya menyambut, meletakkan gagang telepon baik-baik.
Si bengkung udang memimpin di depan, berjalan melayang. Menuju meja kerjanya, mereka melewati kubikel asisten pertama dan penyelia senior. Komputer layar tipis, printer, rak manis tempat dokumen dan peralatan kantor, telepon, tertata rapi di meja. Kursi ditutupi materi kulit hitam yang mengilat dan empuk. Rodanya lincah bila digerakkan ke sana-kemari.
Nomor extension Mbak 105. Nomor-nomor penting saya tempel di sini, lihat? Kalau menelepon sesama di ruangan ini, pencet langsung extension-nya. Telepon ke luar kantor atau interlokal, pencet salah satu angka yang tidak menyala, antara 2 sampai 10, baru nomor tujuan. Untuk hubungan internasional, silakan pencet angka 1, lalu angka 1 lagi, lalu kode negara, lalu nomor tujuan. Nomor-nomor komisaris, kontak kita di luar negeri, perwakilan negara-negara, semua ada pada saya. Tinggal beri tahu kalau perlu. Perlu kertas atau peralatan lain, silakan cari di lemari ini, atau tanya saya. Perlu sopir atau mobil kantor, beri tahu saya sehari sebelumnya atau pagi seperti ini, agar saya atur jadwalnya. Kita hanya punya satu mobil yang dipakai untuk segala urusan kantor, termasuk mengantar direktur eksekutif. Kalau tak ada mobil, silakan pesan taksi. Di sini blangko permintaan biaya taksi, atau biaya yang lain. Tinggal tulis keperluan, tanda tangani, berikan ke saya, untuk ditandatangani direktur eksekutif atau kepala SDM. Uang diambil saat itu juga di bagian keuangan. Perlu ruang rapat, beri tahu saya. Kita ada tiga ruang berbeda, saya bisa siapkan cepat. Makan siang, bisa ke kantin bawah atau pesan, saya ada beberapa daftarnya, atau minta tolong office boy membelikan. Nah, apa yang saya lupa? Selamat datang di kantor kami. Semoga betah.”
Ia kagum dengan kecepatan berbicara si bengkung udang.
Persis pukul 07.30, atasannya muncul. Ia melebarkan senyum, menunjukkan celah ceria gigi serinya. Ia ramah menyapa semua orang kiri-kanan, seperti seorang putri yang baru ditahbiskan.
“Peraturan pertama di ruang ini, harus berbahasa Inggris, terutama kalau ada direktur eksekutif. Untuk alamat e-mail, kamu mau disebut apa? Akronim atau nama depan? Nama depan saja ya, seperti saya. Saya akan minta bagian IT mengurus,” kata si atasan.
Ia mengangguk.
“Saya jelaskan tugas pertama kamu. Kamu baca semua dokumen dan surat komunikasi kita dengan orang luar. Dalam dan luar negeri. Hafalkan nama-nama, jabatan. Pahami masalahnya. Semua tersimpan di lemari besi itu. Kamu tahu, ‘kan? Saya beri kamu waktu dua hari membaca semua, cukup? Gampang. Masalah kita relatif itu-itu saja. Semester ini kita punya empat puluh nama baru untuk diurus. Eh, sudah sarapan? Saya bawa macaroni schotel. Masak sendiri di rumah. Spesial. Sebentar, saya ambil pisin di pantry.“
Ia belum menjawab, atasannya sudah pergi. Tak sengaja ia memergoki si bengkung udang tengah mengerling kepadanya. Tersenyum simpul. Ia tak mengerti arti senyum itu. Tak lama ia dan atasannya sudah duduk berhadapan di satu ruang rapat. Mesra.
Macaroni schotel itu sungguh lezat. Dijejali keju mozzarella dan daging sapi giling yang padat.
Berawal dengan segala yang ringan dan segar. Ia mendengar cerita atasannya dengan hati senang. Kemudian bobot cerita kian memadat. Lalu perempuan matang bercelah di gigi seri itu berbicara seperti orang mabuk. Ia mulai dengan awal dirinya di kantor itu, 30 tahun lalu, pekerjaan yang dirintisnya dengan penuh cinta. Menyusun bata-demi-bata hingga rapi, terstruktur. Lantas pekerjaan itu berbalik menyerangnya, hingga mual. Ia menanggung banyak keletihan fisik, tekanan darah tinggi, dan gangguan mental. Mungkin. Ia mengaku telah mempertaruhkan keselamatan jiwa raganya demi kemaslahatan kedua negeri. Sering ia menempatkan diri pada posisi berbahaya, di antara dua negeri. Sekarang kondisi tubuhnya, dapat terkena stroke tiba-tiba. Kapan-kapan.
“Itu sebabnya saya tak peduli biaya besar yang harus dikeluarkan kantor untuk pengobatan saya,” desisnya, dengan sinar mata keruh.
Macaroni schotel sudah lama habis. Tetapi, cerita masih tersisa tiga babak. Mungkin lebih. Bayangkan. Cerita berpuluh-tahun dipadatkan menjadi beberapa jam. Kata-kata seperti bertumpukan di kepalanya.
Lalu masalah keluarga. Ia ceritakan ayahnya mantan diplomat dan ibunya seorang yang keras mendidik anak. Ia sulung dari delapan bersaudara, tujuh di antaranya perempuan. Satu meninggal karena penyakit typhus ketika masih kecil. Satu meninggal karena tak tahan menanggung tekanan akibat suaminya bunuh diri, di rumah sakit jiwa. Saudara laki-laki satu-satunya adalah trouble-maker keluarga. Bolak-balik masuk penjara. Bolak-balik pula ia menebus dari sel.
“Kalau tidak ingat nasihat orang tua, saya ingin kabur dari tanggung jawab ini. Saya letih. Saudara-saudara saya itu orang yang enggak tahu diri....”
Ia tak tahu harus merespons apa. Semoga aku sudah menunjukkan tanda penyesalan melalui sorot mata, harapnya dalam hati.
Makan siang pun tibalah. Cerita belum ada tanda-tanda usai. Tangkai celup teh berjudul Chamomile di mug putih berlogo Starbucks, sudah ganti dua kali. Lalu atasannya menelepon dengan selulernya, memerintahkan si bengkung udang untuk membeli dua porsi makan siang, ikan dan sayuran hijau, untuk mereka berdua.
Lalu sekarang rahasia-rahasia kantor. Ia sebutkan nama-nama orang yang pernah bekerja di sini. Alasan mereka bertahan dan tidak bertahan, dengan rinci. Ia menjelaskan karakter orang kantor, lebih tepatnya menyimpulkan hal-hal negatif, dengan rinci. Kadang-kadang nadanya terdengar seperti geram atau mendendam.
”Kamu tahu kenapa akhirnya saya pilih kamu? Padahal kamu tak punya pengalaman administrasi? Saya baca kamu punya banyak pengalaman pekerjaan yang berbeda. Saya harap artinya kamu seorang yang cepat belajar dan beradaptasi. Saya harap kamu menyerap dan mengingat dengan cepat, tekun. Dan tambahan, ini masalah pribadi. Saya pilih kamu karena kita satu suku,” bisik atasannya, tersenyum licik.
Cerita selanjutnya >>>>