Entah apa yang dipikirkan Mok dan Aba saat Kiai Bagir menamai anak perempuannya Khadijah Nur Amanah. Sudah tradisi di tanah ini untuk nyabis, meminta petunjuk kepada kiai yang dihormati untuk memberi anak sebuah nama bermakna baik yang diambil dari kitab suci. Dan, jatah namaku diambil dari nama istri Nabi yang mulia itu. Wanita utama yang kuat sehingga bisa mendampingi pria utama yang kelak mengubah zaman dan peradaban. Bayi itu tak keberatan. Bayi itu aku.
Aku yang jatuh cinta pada awan hitam bergulung-gulung menelan cakrawala dan matahari sehingga laut yang hitam seperti cincau bertambah hitam saja. Tak lama angin akan berpusar-pusar menelan apa saja yang masih sombong berani bermain-main di permukaan laut. Perahu-perahu nelayan telah ditambatkan masuk ke muara Kali Bangkalan. Saat itulah lidah-lidah topan laut menjilat-jilat dengan ganasnya.
"Oja! Masuk!" teriak Mok.
Entah bagaimana nama indahku itu berubah jadi Oja. Sungguh, aku lebih suka dipanggil Khadijah. Aku membaca kisahnya. Perempuan mana yang tidak bangga memiliki nama sama dengan perempuan utama dalam islam, pengusaha cemerlang, orang pertama yang menerima kebenaran itu?
Akulah Panglima Khadijah, berdiri di buritan menantang badai di atas sebuah perahu nelayan. Angin laut gencar mengibas-ngibas rambutku. Laksana Laksamana Malahayati yang memorak-porandakan laskar Belanda. Laut adalah hidup mati tempat tertinggal semwa pertanda.
"Masuk! Besok kau harus sekolah!" Mok membentak dari dalam.
"Iya, Mok!" teriakku kesal. Baju putih-biruku diempas pasir.
***
AKU ADALAH ANAK ABA. Bukan anak Mok. Itu yang aku percaya. Jiwaku sama dengannya. Jiwa manusia yang melacurkan dirinya pada laut. Aba nelayan ulung. Katanya, ia pernah melaut hingga Sulawesi, Kalimantan, Laut Banda, Selat Malaka, bahkan katanya hingga pesisir Australia.
"Mok, kapan Aba kembali?"
"Segera, Nak...," ucap ibuku. Mungkin Mok bosan dengan pertanyaanku yang itu-itu saja.
Aku masih ingat bagaimana Aba pergi tiga tahun lalu. Dengan gagahnya ia menarik sauh dan menyalakan mesin yang menderu-deru. Layar tinggi akan dikibarkan di tengah laut untuk membiarkan angin mengayuhnya mengarung baruna, menghemat bahan bakar. Aku selalu ingin ikut, apalagi sebelum berlayar Aba selalu menceritakan pengalamannya di negeri-negeri nan jauh. Aba menjawab, nanti, kalau Aba pulang, Aba akan mengajakmu melaut. Cepatlah besar. Aba tak juga pulang.
"Ba’na ella marè ngakan?" ibuku bertanya.
"Éngghi kaulâ lastarè neddhâ," jawabku. Aku makan dengan semangat. Aku ingin cepat besar.
Mok adalah anak saudagar batik di Tanjung Bumi. Orang tuanya tak setuju Mok menikahi Aba. Aba hanya nelayan dan nelayan biasanya miskin. Melihat rumah kami saat ini, orang tua Mok banyak benarnya. Mba Lakek, kakekku, sungguh menyesali keputusan Mok menikahi Aba. Bahkan pun setelah aku lahir.
"Tinggallah di rumah ini saja," suatu ketika Mba Binek, nenekku, berkata. Saat itu tahun pertama Aba tidak pulang. Tapi, Mok menolaknya. Ia ingin menunggu suami di rumahnya sendiri. Mok tetap setia menunggu Aba. Di tahun ketiga ini harapan telah menipis, mungkin Mok juga sudah pasrah, tapi ia tetap bertahan.
Untunglah, Mok pandai membatik, orang tuanya yang saudagar batik menurunkan keahlian itu kepadanya. Pagi, siang, sore, malam, Mok selalu membatik. Setelah selesai, kain batik itu akan dibawa ke rumah Mba Binek untuk ditukarkan dengan uang. Dalam sebulan, Mok paling banyak hanya menyelesaikan 1 atau 2 lembar. Batik tulis, susah sekali dikerjakan.
Telah banyak kain yang dijual Mok kepada Mba Binek, ibunya sendiri. Mba Binek selalu ingin membayar lebih, karena Mok anaknya. Tapi, Mok selalu menolak. “Bayar saja sesuai harga pasaran,” ucap Mok. Mok tak mau menjadi beban orang tuanya.
Kain buatan Mok bagus-bagus sekali. Tak pernah ada yang disimpan karena semua kain hasil buatannya selalu dijual untuk membiayai hidup kami yang sekarang tidak punya sumber pendapatan setelah Aba pergi. Tetangga-tetangga kerap mengatakan agar Mok kawin lagi. Aba tak diketahui rimbanya. Dan rimba terburuknya adalah Aba sudah kawin lagi entah dengan perempuan mana di negeri jauh. Mok tak pernah mendengarkannya. Ia terus saja menunggui Aba. Sama seperti aku yang tetap menganggapnya pahlawan setelah sekian lama ditinggalkan.
Namun, di antara kain yang banyak itu, ada 1 kain yang terus dikerjakan namun tak kunjung selesai. Mok tidak mengerjakan kain itu di rumah, melainkan di rumah Mba Binek. Aku tidak tahu mengapa. Sambil menjual kain yang telah selesai, Mok akan meneruskan pekerjaannya dengan kain itu di sana.
"Mok, kapan kain itu selesai?" tanyaku.
Mok menggeleng. "Mungkin tak akan pernah selesai, Ja…."
"Kalau kain yang lain selesai, kenapa yang itu tidak?"
Mok malah tersenyum, wajahnya bersemu merah.
"Mok menunggu Aba?" tanyaku lagi.
Mok mengangguk. Kini ada kegetiran di wajahnya.
"Oja juga…," jawabku pelan. Mok memelukku. "Aba sudah janji mengajak Oja melaut. Aba tidak akan bohong."
Badai kiranya akan datang. Angin sudah bertiup keras. Pohon ketapang kurus-kurus di pinggir pantai sudah menggugurkan daunnya. Pasir berputar-putar rendah seperti pusaran. Aku melangkah keluar. Tetangga-tetangga sibuk memasukkan jemuran ikan asin dan kerupuk dari pelataran. Bau uap ikan busuk berganti dengan lembap titik-titik air yang dihela angin dari tengah laut. Badai mengingatkanku pada Aba.
"Aba pernah berkelahi dengan badai, Oja. Dia pandai sekali. Tahu benar caranya menelikung kapal. Tapi, Aba yang menang. Badai tunduk pada Aba," ucapnya bangga, sambil menepuk-nepuk lengannya.
Apakah kali ini Aba kalah melawan badai hingga ia tak pernah kembali? Aku menggeleng. Aba hanya terdampar dan kapalnya rusak sampai ia tak bisa pulang, ucapku pada diriku sendiri. Aku akan jadi Panglima Khadijah. Dengan kapal berlayar tinggi aku akan menjemputnya.
***
Laut minta ditundukkan. Aku berbohong pada Pak Lek, dia adik Aba. Kukatakan kepadanya bahwa aku mengikutinya melaut sudah dengan izin Mok. Anak perempuan ikut melaut sudah jarang terjadi, apalagi aku masih kecil di mata mereka.
"Abamu hebat sekali, Ja. Pak Lek belajar melaut darinya," ujar Pak Lek, sambil menatap laut yang tak berbatas. Garis pantai Madura membentang luas di belakang kami. Di hadapan kami semata air dan cakrawala yang menggaris tanpa ujung.
Laut memang tak bisa diduga. Pak Lek sungguh khawatir jika langit mendung berubah jadi badai. Angin mulai menderu-deru. Bintang hilang dari pandangan. Langit gelap semata. Aku berdoa saja. Ya Allah, jika badai ini yang membawa Aba pergi, izinkan aku bertemu Aba. Aku berharap awan ini jadi badai yang menelikung kapal. Aku, Khadijah, akan menundukkannya. Seperti Aba dulu mengalahkannya. Akan kubalaskan dendamnya.
Namun, alam berkata lain. Tak diizinkannya aku bertemu Aba. Angin mendadak berkesiut diam. Awan hitam bergeser ke tengah samudra. Bintang muncul lagi. Tapi, Pak Lek tak mau ambil risiko. Dengan ikan yang tak seberapa, ia segera memutar kapal kembali ke daratan. Aku menyesal.
Dan aku lebih menyesal lagi saat kulihat Mok berdiri gelisah di bibir pantai. Mok marah meradang-radang. Suaranya lebih mengerikan dari badai. Aku diam tertunduk. Aku hanya ingin menyusul Aba.
"Kau hendak menyusul Aba ke mana, Oja? Tidak mungkin. Abamu saja tak kunjung pulang," rintih Mok. "Bagaimana jika kau mati dilamun ombak? Apa kau mau menambah kesedihan Mok, Ja?"
***
AKU SUDAH HAMPIR lulus SMP, Aba belum tiba juga. Aku sudah mulai menguburkan harapanku bahwa Aba akan kembali. Berharap adalah usaha terakhir. Saat berharap sudah tak lagi ada gunanya, bukankah saatnya untuk berserah? Tapi, Mok tak juga menyerah,
Entah sudah berapa lembar kain lagi yang selesai Mok buat, tapi kain di rumah Mba Binek tidak juga jadi. Lama sekali, bertahun-tahun. Kain itu bahkan sempat direndam berbulan-bulan dalam gentong untuk pewarnaannya. Tetangga menyebarkan kisik-kisik bahwa Aba sudah meninggal. Ada lagi yang bilang, Aba dikawin oleh Ratu Pantai Selatan. Mok tidak mendengarkan. Kata Mok, kalau ada kabar kematian, kainnya itu bisa tidak jadi. Ia lebih suka jika Aba dikawin Ratu Pantai Selatan saja. Yang penting ia hidup. Aku bingung dengan hubungan semua itu.
Tapi, semua cerita pasti ada akhirnya, bukan? Lewat 4 tahun, kain itu akhirnya jadi. Kain indah berwarna merah seperti darah, dan biru seperti laut. Motif kapal, nelayan, ikan dan badai berkelindan indah sekali. Kecil-kecil dan begitu rinci. Mba Binek memanggil Mok ke rumahnya. Aku diajak Mok serta. Aku tidak tahu ada apa. Sesampai di rumah Mba Binek, Mok tampak kurang senang. Mba Binek mengatakan, ada pembeli dari Jakarta yang tertarik membeli kain buatan Mok yang di rumah Mba Binek hanya jadi hiasan saja. Ditawar 15 juta, katanya.
"Aku tak menjualnya!" kata Mok, meradang.
"Sampai kapan, Nak? Sampai kapan?"
"Mungkin selamanya, Mok!" Mokku meraung pada ibunya.
Mba Binek menggeleng tak mengerti.
"Suamimu itu takkan pulang, Uti…," Mba Binek berkata pelan.
Aba? Apa hubungan kain itu dengan Aba? Pikirku. Mok jatuh terduduk di lantai. Ia menangis. Mba Binek mendekatinya, lalu mengelus-elus rambutnya.
"Uti, kau sudah cukup hebat bertahan selama ini," Mba Binek berkata pelan sambil melirikku dengan ujung matanya. "Jual kain itu, Nak…."
Mok terdiam, memandangku. Apa hubungan kain itu denganku?
"Pikirkan, Nak... Pikirkan...," Mba Binek berbisik lagi.
Kami pulang dan Mok jadi pendiam. Ia sepertinya jadi banyak berpikir. Aku juga. Aku tidak tega untuk berkata kepada Mok bahwa melanjutkan SMA butuh biaya. Aku tahu Mok tak punya uang.
"Kita ke rumah Mba Binek, Ja," akhirnya Mok menghentikan diamnya.
Di rumah Mba Binek, Mok menangis saat melepas kain itu, seperti melepas suaminya yang ia tahu tak akan pernah kembali. Setelah sekian lama aku selalu melihat Mok begitu kuat, akhirnya kulihat air matanya. Esoknya kami pindah ke rumah Mba Binek. Di sana diajarinya aku membatik. Di atas mori kugambar dengan pensil.
"Gambar apa itu, Ja?" tanya Mok,
"Ini kapal layar, Mok," ujarku bangga. "Milik Panglima Khadijah."
"Kau memang anak pelaut, Ja," Mok berkata sambil memelukku. "Kalau kain itu sudah jadi, jangan kau jual. Simpan saja."
Aku memang tidak akan pernah menjualnya. Kenangan tidak untuk dijual.
Catatan:
- Batik Madura adalah batik yang lahir dari semangat tinggi perempuan-perempuan Madura untuk tetap bekerja sambil menunggu suami-suami mereka pulang melaut.
- Ikan laobang: Ikan berbentuk pipih berwarna abu-abu perak kehitaman. Dikenal juga dengan nama ikan dorang atau ikan bawal hitam.
- Ba’na ella marè ngakan?: Kamu sudah makan?
- Éngghi kaulâ lastarè neddhâ: Iya, saya sudah makan.
- Mba lakek: Kakek
- Mba binek: Nenek
MasWis
Topic
#FiksiFemina