Sepanjang tahun di musim hujan memang berbeda. Ayah tidak pulang-pulang dan Ibu biasanya pergi seharian dan pulang malam-malam. Kata Ibu, jaga adik-adikmu, Le. Aku menurut, karena aku cinta Ibu, meski Sarmila agak menjengkelkan, suka pipis sembarangan di ruang tamu, di ruang makan, di kamarku. Bahkan, ia pernah pipis di bantal Ayah.
Mengenai kebiasaan Sarmila, aku khawatir. Ia bisa mati kalau terus dibiarkan dan tidak kudidik agar pipis di toilet, lalu
disiram biar tidak pesing. Dulu, waktu musim kemarau baru berjalan dua bulan, Ayah keluar entah ke mana, tahu-tahu adikku pipis di bantal Ayah karena jengkel. Dia bilang, kenapa kalau di rumah Ayah selalu marah? Kenapa Ibu disiksa? Kenapa kita sering dipukuli?
kupaksa mengepel, biar tidak aku saja yang bekerja. Ia kusogok uang lima ribu rupiah buat main di warnet dan Mudakir
merampungkan tugasnya.
Bagi kami, sesekali biarlah kami yang menahan banjir luap kemerdekaan Ibu. Ibu kecapekan selama kemarau dan kami setuju agar air menikmati masa merdeka dengan pergi ke mana pun, mengalir ke segala penjuru tanpa kami ganggu. Lagi pula, kami masih harus menumbuhkan daun dan ranting yang rontok di musim kemarau dari tubuh kami.
Topic
#FiksiFemina