Foto: Shutterstock
Aku masih mengantuk, tetapi harus konsentrasi tinggi mengingat mandat dari kawanku yang dia sampaikan dua minggu lalu via telepon. “Dia berwajah tirus, Kus. Tinggi dan kurus, macam orang kurang gizi. Sebagai konsultan gizi, kamu pasti bisa memberi saran padanya tentang jenis makanan apa untuk memberi asupan bagi tubuhnya. Ha…ha… ha….”
Dia bercanda, renyah suaranya tak berubah seperti bertahun lalu saat masih sama-sama suka nongkrong di Gang Peneleh. “Aku kirim foto dia via surel, ya. Jemputlah dia di stasiun, dan tolong bantu apa yang dia butuhkan selama di Surabaya.” Aku sempat menelisik, bagaimana kedudukan wanita itu dalam hati kawanku, tandas dia berkata bahwa dia itu calon ibu dari anak-anaknya. “Titip jagai dia, ya, Kus. Dia ingin melihat-lihat kota kita. Karena dia bilang salah satu tempat yang ingin dia kunjungi adalah Rumah Sakit Darmo. Kebetulan kamu masih bekerja di situ. Jadi pas, ‘kan?” Hanya itu informasi yang dia berikan, tetapi sempat bercerita bahwa di Delf sedang menyambut musim dingin.
Peluit menjerit. Kemudian terdengar pengumuman kereta tujuan Solo Balapan segera diberangkatkan. Aku sudah mengingat kuat-kuat ciri parasnya. Hidung mancung, dagu nyaris lancip, bermata biru.
“Namanya Erica, Kus. Dia fasih bahasa Indonesia, aku yang mengajarinya.”
Lonceng stasiun berdentang. Petugas mengumumkan kedatangan kereta api dari Jakarta melintas di jalur tiga. Ini keretanya. Aku berdiri dekat tembok pintu keluar. Tak banyak penumpang bule, jadi kurasa gampang saja mengenalinya. “Erica,” sebutku yakin, kepada wanita yang beroblong putih mencangklong ransel merah. Dia berhenti lalu menolehku, mengangguk sambil tersenyum.
Hari ini dia ikut berangkat kerja bersamaku. Yang dia lakukan sesampai di sana hanya jalan-jalan, menyusuri koridor, memotret, lalu duduk lama di kantin dan menulis-nulis entah apa, lalu kami makan malam dan aku
mengantarnya kembali ke hotel. Aku tak terlalu banyak bertanya mengapa dia memilih Hotel Majapahit, karena sangat mungkin dia tak suka, jika ada orang terlalu ingin tahu. Tetapi sore itu, aku menjadi tahu saat dia
memintaku untuk mencarikan penginapan setelah merasa cukup menginap di Hotel Majapahit.
Beberapa penginapan aku tawarkan, lalu dia memilih di sekitar Peneleh. Sejauh yang aku amati, dia selalu menimbang dan memikirkan dengan matang tiap pilihannya, termasuk tempat kami nongkrong dan ngobrol saat ini, di Bon Ami. Saat ia sudah menghabiskan sepotong croissant, dia menunjukkan sebuah gambar padaku. Sepotong iklan usang. Bangunan tua bertuliskan ‘Hotel Ngemplak, Soerabaja’.
Aku mengamati. Kuning kertasnya dia lekatkan pada kertas yang ia lipat seperti kartu undangan warna hitam. “Kamu mengenalinya, Kus?” Aku lekas menggeleng. Tetapi, tulisan ‘Soerabaja’ membuat mataku terus terpaku pada gambar itu.
“Itu tempatmu bekerja saat ini, Kus. Dulu saat leluhurku berada di Surabaya, Rumah Sakit Darmo adalah Hotel Ngemplak.”
Aku mendongak mencari kebenaran dari matanya. Dia tersenyum kecil. Memang aku pernah mendengar bahwa rumah sakit itu dulunya hotel, tetapi iklan ini sungguh tak kusangka akan melihatnya.
Topic
#fiksifemina, #cerpen