Si hortikulturis datang ke rumahnya pada suatu siang bersama sebatang pohon pisang dan sekarung pupuk. Pria itu membantunya menanam pohon yang tingginya hampir mencapai dua meter di halaman rumahnya. Ryan menjelaskan beberapa hal mengenai cara merawat pohon pisang yang disimak Dahayu dengan antusias. “Omong-omong, kau beruntung sekali, ya, koleksi pohon pisangmu hidup sepanjang tahun,” kata Dahayu, sambil membayangkan suatu saat nanti ia akan membuat nasi bakar ayam-kemangi yang dibungkus daun pisang.
“Tidak apa-apa. Musim panas tahun depan, aku bisa membelinya lagi darimu,” jawab Dahayu, lalu mengucapkan terima kasih sebelum pria itu pamit pulang. Dada Dahayu terasa sesak saking senangnya. Ia tersenyum-senyum membayangkan wajah Lakshita Banerjee, jika melihat ia pun memiliki pohon pisang. Ia masih sibuk mengagumi tanaman itu ketika suaminya pulang dari kantor. Sepasang mata pria itu membelalak melihat sesuatu yang berbeda di halaman rumah. “Seharusnya kau menanam pohon apel, bukan pisang,” protesnya. “Ingatlah, kau berada di sini, bukan di sana,” telunjuknya mengarah ke lonceng angin berbentuk angklung yang menghiasi langit-langit teras rumah mereka. “Kau membuang-buang uang saja membeli tanaman yang tidak cocok hidup di sini.”
Topic
#cerpen, #fiksifemina