Fiction
Cerpen: 3 Wanita, 3 Pemakaman

24 Nov 2017



Cukup sudah. Aku tidak bisa menanggung beban ini lebih lama lagi. Ganis jelas-jelas sedang mempermainkanku. Akan kujelaskan kepadanya bahwa semua itu terjadi tanpa rencana. Aku tidak pernah berniat menyakitinya. Pada malam ketika eyang Gendhis meninggal, setelah mengantar pulang Ganis yang sedang flu berat, Om Djito mengantarkanku. Ia memintaku pindah ke kursi depan seperti biasanya. Ia mengucapkan selamat malam seperti biasanya. Yang tidak biasa malam itu adalah  ia mencium bibirku dan menelusupkan tangannya ke dalam rokku.

Aku tersengat oleh berbagai sensasi yang dikirim oleh pancaindraku. Aku cepat-cepat turun dan masuk ke rumah. Instingku berkata, ini salah. Ketika ia mencoba kedua kalinya di kesempatan yang lain, instingku masih mengatakan hal yang sama. Namun, tubuhku merespons berbeda. Begitu pula untuk kali ketiga dan seterusnya.

Advertisement
Berkali-kali aku berjanji akan berhenti melakukannya, tapi berkali-kali pula aku menundanya. Campuran perasaan ini begitu asing dan nikmat. Bahagia, takut, bersalah, dan bergairah sekaligus. Hingga suatu hari sepulang sekolah, almarhumah ibuku menyambutku dan berkata, “Hanya kehormatan yang kita miliki, Nduk. Hanya itu.”

Wajahku memutih. Aku tidak perlu bertanya apa arti ucapannya. Aku juga tak ingin bertanya bagaimana ia mengetahuinya. Satu yang aku tahu. Jika Ibu bisa mengendus rahasia yang kusimpan baik-baik, orang lain juga bisa. Aku pun mengakhirinya.

Reaksi Om Djito tidak seperti yang kubayangkan. Kupikir, dan kuharap, ia akan menahanku. Setidaknya menanyakan alasanku. Ternyata ia hanya memasukkan sesuatu ke dalam saku bajuku, mengecupku untuk terakhir kalinya dan bilang, “Jangan sampai Ganis tahu.”
 


Topic

#fiksifemina, #cerpen

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?