Jam tanganku menunjukkan pukul sebelas malam. Di rumah duka hanya tersisa beberapa anggota keluarga. Aku menerima tawaran Gendhis untuk mengantarkanku pulang ke hotel. Sementara Ganis memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi.
Ketika berdiri, Gendhis mengibaskan rambutnya sambil membuka kancing bajunya yang paling atas.
Ganis yang saat itu sedang berbicara mengenai di mana sebaiknya kami bertemu lagi sebelum aku pulang ke Jakarta, tiba-tiba berhenti bicara. Matanya menatap sesuatu tanpa berkedip. Sesuatu pada Gendhis. Sesaat, hanya untuk sesaat, semua warna meninggalkan wajahnya. Aku mencoba melihat apa yang telah mencuri perhatian Ganis. Namun, dari posisi dudukku, aku tidak melihat apa pun selain baju Gendhis yang basah oleh keringat.
“Nis, kita jadi ketemuan di mana?” tanyaku untuk kedua kalinya.
Ganis menoleh padaku. “Nanti kukabari lewat WA.”
Topic
#fiksifemina, #cerpen