”Kamu kenapa enggak datang lebaran?”
“Maaf, Nek! Kak Mashud enggak dapat sopir untuk pulang. Sopir kantor yang biasanya siap mengantar, tahun ini sudah nikah dan harus lebaran di rumah istrinya.”
“Kamu seperti ibumu, pintar sekali cari alasan.”
Bukan karena tahu jika alasanku mengada-ada, tapi kalimat terakhir nenek untukku selalu diawali dengan ‘kamu seperti ibumu’ atau ‘jangan seperti ibumu’. Aku sangat hafal dengan kalimat itu karena aku tinggal dengan nenek sejak kecil, tepatnya ketika ayah meninggal dan ibu menikah lagi. Akulah yang menjadi pengganti ibu sejak saat itu. Akulah yang menjadi anak bungsu menggantikan ibu yang hingga hari ini tak diakui lagi sebagai anak.
Tapi keinginanku untuk berduaan dengan nenek, bukan untuk mengulik masa lalu ibu. Sejak tinggal bersama nenek di umur tiga tahun, nenek sudah mencetak pikiranku bahwa aku punya ibu tapi tak perlu dicari. Nenek punya mantra assibokoreng yang bisa membuat orang bisa saling melupakan. Nama mantra itu sering aku dengar, tapi aku tak pernah ingat kapan nenek meniupkannya untukku. Jika meniupkannya saat ibu pergi, berarti mantra itu merasukiku di umur tiga tahun dan wajarlah kalau aku tak bisa mengingatnya.
Mantra itu benar-benar ada karena rumah panggung nenek sering didatangi orang yang ingin melupakan seseorang. Seingatku, pasien nenek sangat beragam dan semua pulang membawa air putih yang sudah dimantrai. Mantra nenek selalu mustajab dan itu beredar dari mulut ke mulut hingga ke tetangga kampung. Tentang Mursalim yang setelah meminum air mantra nenek, langsung tunduk untuk bercerai dan tiba-tiba membenci istrinya. Atau tentang Marni yang tak mau menerima lamaran lelaki pilihan ayahnya karena punya pacar, tapi setelah meminum air assibokoreng nenek, langsung tunduk untuk menikah dan melupakan pacarnya. Aku pun masih ingat, anak tetangga yang baru berumur dua tahun diminumkan air mantra agar tidak sakit karena merindu pada ayahnya yang pergi merantau. Mungkin nasibku seperti anak tetangga itu, tak pernah sekali pun merindukan ayah atau ibu, hingga nenek melepaskan mantra itu dari jiwaku.
Aku datang untuk berduaan dengan nenek, bukan untuk mewarisi mantra itu. Meski kuyakin nenek pernah memantraiku, tapi aku tak yakin jika masih ada mantra yang mustajab di zaman gadget ini. Kedatanganku kali ini, tak lain untuk meminta ramuan bedak hitam yang sering dipakai nenek ketika aku masih kecil dulu. Rencananya, ramuan bedak hitam yang biasa digunakan perempuan Bugis zaman dulu untuk luluran itu, akan aku masukkan dalam daftar menu di usaha spa rumahan yang kurintis sejak dua tahun lalu.
Tahun lalu di momen mudik lebaran, aku mengulik ramuan bedak hitam nenek, tapi tak pernah kusangka sebelumnya, jika jawaban yang kudapat adalah pandangan yang menerawang dan diakhiri dengan titik-titik basah di matanya. Tak ada kata.
Kali ini aku tak boleh gagal. Persaingan bisnis spa membuatku harus memberi pelayanan yang berbeda dengan usaha spa yang lain.
“Nek!” aku berucap pelan. Sehati-hati saat dulu ingin mengungkapkan pada nenek bahwa Kak Mashud akan datang menemui nenek untuk melamarku.
“Gimana anak-anakmu? Sehat?”
“Alhamdulillah, Nek. Mereka semua sehat. Kak Mashud juga.”
“Lalu kenapa mereka nggak ikut?”
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Ahmad kan sudah sekolah, Nek?”
“Kalau sekolah yang kamu jadikan alasan, bukannya lebaran kemarin ada libur?”
“Nek, kulit nenek enggak berubah ya. Meski keriput, masih sangat halus....,” potongku mengalihkan pembicaraan.
“Aku hanya tidak ingin kamu seperti ibumu,”
Lagi-lagi nenek mengungkit beban bernama ibu. Ataukah air mata nenek setahun lalu ketika aku bertanya tentang bedak hitam, ada hubungannya dengan ibu. Ahhh.... mata nenek tak pernah basah jika bercerita tentang ibu. Itu berarti ada yang lebih melukakan di balik bedak hitam dibandingkan dengan kisah tentang ibu yang tak pernah kutahu sehitam apa.
****
Besok aku harus pulang. Cutiku telah habis dan nenek belum juga membuka cerita tentang bedak hitam. Selalu ada luka setiap aku bertanya tentang bedak hitam dan aku tidak ingin terus-menerus melukainya. Tapi tak rugi aku mengambil cuti. Menemukan nenek sendiri di rumah panggungnya, membuatku seperti kembali menikmati masa-masa remajaku di sini. Berdua dengan nenek. Membiarkan rumah dilalap sepi tanpa suara televisi, kecuali sesekali suara azan dari pengeras suara mesjid yang menaranya menjulang tepat di samping rumah kami.
Untuk bedak hitam, sebenarnya aku sudah pernah mencari cara pembuatannya di Google, tapi nihil. Beberapa teman yang berdarah Bugis telah kutempati bertanya tapi kebanyakan jawaban jauh lebih mengecewakan dari Google: “Bedak hitam? Makhluk jenis apakah gerangan?”
Memoriku masih menyimpan sedikit kenangan tentang bedak hitam yang selalu dipakai nenek saat aku masih kecil. Sebenarnya bukan hanya nenek, beberapa perempuan Bugis dulu sering menggunakan bedak hitam untuk luluran. Bahannya? Itu yang aku tak tahu, termasuk prosedur pembuatannya.
****
Aku baru saja ingin mandi ketika kulihat nenek mengambil wajan tanah liat. Kayu bakar telah siap di tungku perapian yang biasa dia tempati untuk membakar ikan. Mandiku urung.
“Aku akan membuatkanmu bedak hitam.”
Aku seperti balon gas. Terbang melambung. Nenek mendidikku dari kecil tanpa pernah ada kado apalagi pesta ulang tahun, tapi pagi ini nenek memberiku kado spesial meski bukan di hari ulang tahunku. Aku ingin berlari memeluk dan menciuminya, tapi aku sangat tahu jika nenek tidak suka dengan hal basa-basi seperti itu. Nenek orangnya serius dan sangat kaku. Mungkin karena itulah dia juga terlalu lama menanggung sakit jika dia terluka.
Nenek menyangrai beras tanpa suara. Bukan bagian dari ritual pembuatan bedak hitam. Nenek pasti terluka dengan permintaanku ini. Aku pun bukan tak peduli dengan luka itu. Meski dari awal permintaanku untuk dibuatkan bedak hitam agar bisa menjadi pemanis di usaha spa milikku, tapi melihat nenek dengan segala kelukaannya setiap aku menyebut kata bedak hitam, membuatku harus menyelamatkannya dari masa lalu. Mungkin ini akan menjadi cara untuk membuat nenek bisa berbagi dengan masa lalunya padaku, agar luka perihnya selama berpuluh tahun bisa diembus angin segar.
“Caranya sangat mudah sebenarnya. Kamu hanya menyangrai beras hingga menghitam, lalu kamu campur dengan air secukupnya. Jika air telah merata, kamu siramkan perasan air jeruk nipis. Selesai! Silakan kamu pakai untuk luluran.”
Aku mengambil segenggam bedak hitam dan mengoleskannya ke wajahku. Beras sangrai yang menghitam itu, luluh dan hancur dengan perasan air jeruk, membuatku merasakan sensasi yang luar biasa. Aku berkaca di cermin yang dipasang di dekat pintu kamar mandi, kulihat bayanganku seperti monyet.
“Selain sebagai lulur, bedak hitam bisa buat masker ‘kan, Nek?”
Sepi.
Nenek merapikan wajan tanah liatnya, berikut baskom yang dia pakai untuk mencampur beras sangrai dengan air perasan jeruk nipis. Tapi aku yakin bukan karena itu pertanyaanku tak dia jawab.
Ada tarikan napas sebelum dia mengiyakan, sebagai jawaban dari pertanyaanku barusan. Itupun setelah aku menuntut dengan tatapan mata yang selalu mengekor ke setiap gerakannya.
“Sebenarnya....”
Paragraf selanjutnya bertutur penuh luka. Bahwa bedak hitam di zaman dulu bukan hanya digunakan sebagai bedak lulur. Perempuan-perempuan Bugis menggunakannya sebagai masker, tapi bukan masker untuk merawat kulit. Mereka mengoleskan bedak hitam ke seluruh tubuh termasuk wajahnya untuk menyembunyikan kecantikannya dari penjajah Jepang.
“Lalu, luka apa yang ada di balik bedak hitam ini?” Lagi-lagi aku hanya bisa membatin, dan nenek seolah mendengar monologku.
Nenek lahir dari rahim seorang wanita ningrat. Tapi ibunya tak bisa diatur. Dia seorang perempuan pemberani, bukan berani melawan penjajah, tapi tak pernah sepakat untuk menggunakan bedak hitam demi menyembunyikan kecantikannya. Hingga sebuah insiden merenggut kesuciannya. Hamil dan meninggal saat melahirkan nenek.
Kusaksamai wajah nenek. Aku baru sadar jika kulit bersih dan mata sipit nenek diturunkan dari ayahnya yang berdarah Jepang. Luka yang berdarah memang. Tapi bukankah nenek dulu sering memakai bedak hitam? Aku ingat sekali dan itu adalah memori masa kecilku yang tidak pernah kulupa karena aku selalu ketakutan jika nenek memakai bedak hitam. Wajahnya menghitam dan hanya bibir dan bola matanya yang selamat dari sapuan bedak aroma jeruk nipis itu.
“Ibumu hamil di luar nikah, dan melahirkanmu. Kita senasib. Ayahku yang berdarah Nippon, tak pernah mencari ibuku. Sementara ayahmu yang mau bertanggung jawab, ternyata meninggal saat usiamu lima tahun. Ibumu menikah lagi.”
Satu paragraf luka terungkap lagi.
“Aku sudah melarang ibumu menikah, tapi dia malah pergi dari rumah....”
Paragraf luka berikutnya, semua orang memantaskan perlakuan ibu serupa itu karena nenek juga adalah perempuan yang tak tahu asal-usulnya.
“Aku bahkan baru tahu jika ayahku seorang Nippon ketika ibumu pergi dari rumah. Awalnya kudengar dari keluarga dekat yang selama ini merahasiakannya karena tak ingin mencoreng nama baik keluarga sebagai ningrat. Aku berusaha menutup rapat aib itu, tapi bedak hitam ini memaksaku untuk mengungkapkan semuanya.”
Nenek meninggalkanku sendiri. Aku berusaha untuk mencari cara yang ampuh jika kelak anakku bertanya tentang ibuku yang sebenarnya. Ibu yang selama ini disembunyikan kisahnya oleh nenek dan pun dia memang tak pernah datang untuk mencariku. ****
SABIR