pedas lada burung
larap di meja makan
larat di jantungku.
DI LENGKUNG KUALI tanah liat, aku melihat segalanya; cinta kasih Kindo*. Bayangan lasuna*. Sari pammaissang*. Bayangan minyak mandar yang menjelma kilauan. Bayangan pemakaman Kindo.
Dahulu, di masa-masa kehidupannya, Kindo selalu membiarkan aku berada di dapur saban kali ia hendak memasak bau peapi*. Kindo berkata padaku, “Makanan pusaka menjadi amat berharga ketika makanan Barat mengepung hingga ke desa-desa.” Kindo pernah mengisahkan riwayat bau peapi. Alkisah, pelaut-pelaut Mandar terlalu mencintai laut, hingga mereka bisa berhari-hari bahkan berbulan-bulan di samudra. Sebagaimana cinta, kehidupan laut menghadirkan ilham bagi towaine* Mandar. Mereka menciptakan makanan tahan lama untuk bekal melaut muane* mereka. Tanaklah bau peapi dan jepa* yang bisa tahan berhari-hari. Istri-istri pelaut, membawa dirinya yang menjelma makanan ikut berlayar bersama para muane.
***
KINDOKU ADALAH SEORANG penjahit pakaian terpandang di kampung kami. Wajah Kindo cokelat seperti buah rumput. Dua lesung pipit menghiasi kedua pipinya dan matanya hangat—bahkan ketika matanya terpejam dan kain kafan menyelubunginya. Dalam hidupnya, Kindo menghayati dua hal: memasak dan menjahit. Bagi Kindo, dua hal itu adalah bekal seorang ibu --dan juga seorang suami-- jika ia mampu dan mau. Kindo mengatakan itu, pada suatu senja ketika ia menyisir rambutku.
Memasak bagi Kindo untuk merekatkan aku dan Kama* padanya. Untuk menciptakan rasa rindu kami kala ia jauh dari rumah. Untuk kehangatan seisi rumah. Untuk menjaga perutku. Sedangkan menjahit, bagi Kindo untuk membetulkan pakaianku yang sobek. “Alangkah manisnya, seorang ibu menjahitkan sendiri baju untuk anak-anaknya,” ujar Kindo padaku suatu hari. Kindo pernah memimpikan anak-anak yang banyak, tetapi kenyataannya hanya akulah anaknya. Aku selalu ingin punya kakak dan adik, tapi Kindo sulit mengandung setelah tubuhnya menjadi gemuk.
Kama bilang Kindo memiliki kesaktian: bau peapi, yang membuat kami sulit meninggalkan rumah dalam waktu lama. Pernah sekali, aku dikirim ke Jakarta oleh sekolahku untuk perayaan Hari Anak Nasional. Baru tiga hari aku sudah minta pulang, aku merindukan bau peapi Kindo. Sementara Kama, ketika ia berada di Kalimantan, ia ingin lekas pulang, lantaran bau peapi pula. Sebenarnya semua orang Mandar memuja bau peapi. Tak ada sehari pun, bau peapi alpa dari meja makan orang Mandar. Biasanya Kindo menyandingkan bau peapi dengan jepa. Kindo berkata padaku, perpaduan bau peapi dan jepa, seperti perpaduan malam dan bulan terang, seperti pelaut dan perahunya. Kama jatuh cinta pada Kindo justru karena bau peapi. Kala itu, ketika ia dan Kindo masih berteman. Kindo selalu membawa bau peapi untuk makan siang Kama. Kama yang selalu lupa makan siang kala ia mempelajari perahu sandeq. Meski begitu, tiap kali Kindo datang, Kama akan bergegas menuruni tangga untuk menyambut mangkuk bau peapi. Untuk menatap wajah Kindo. Untuk melihat lesung pipit Kindo. Cinta Kindo dan Kama hanya dibahasakan dalam semangkuk ikan masak.
“Tapi begitulah zaman dulu, makanan selalu menjadi merpati cinta kaum muda,” ujar Kama. Ketika Kama meninggalkan kampung lalu merantau sekolah ke Jawa, Kama rindu setengah mati pada bau peapi Kindo. Kama bilang, bagaimana tersiksanya ia dengan makanan manis. Di saat itulah Kama berpikir, Kindo harus menjadi istrinya. Kama lalu pulang ke Mandar, meminang Kindo, lalu membawanya ke Jawa. Sewaktu mereka balik ke Jawa, Kindo membawa sembilan stoples pammaissang* dan sembilan botol minyak mandar. Kama berkata, “Laki-laki dahulu sering kali jatuh cinta pada perempuan ahli masak. Laki-laki sekarang kebanyakan jatuh cinta pada perempuan berkulit putih. Menurutmu mana yang paling bijak, Nak?” Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Kama. Tapi, jika aku lelaki, aku akan jatuh cinta pada perempuan yang pandai bercerita dan memiliki suara merdu.
Suatu hari aku membuat puisi kecil tentang bau peapi. Kindo membanggakan puisi itu kepada siapa saja. “Lihatlah, putriku menjadikan bau peapi puisi,” ujar Kindo, saban kali ada pelanggan baru yang datang kepadanya. Kindo merekatkan puisiku di meja mesin jahitnya.
***
TAPI BAU PEAPI, percakapan kecil dengan Kama hanyalah kebahagiaan di masa lalu, saat Kindo masih bersama kami. Saat belum ada teman perempuan Kama yang menginap di kamar tamu. Teman perempuan Kama yang tak pernah kutahu namanya. Ia memiliki gawai sebesar talenan. Sebenarnya ia baru satu minggu menginap di rumah kami. Ia dan Kama selalu meninggalkan rumah secara bersamaan. Sudah dua hari, Kama dan perempuan yang tak kutahu namanya itu belum pulang.
Setelah perayaan haul Kindo selesai, Kama makin sibuk di luar sana, entah apa yang dikerjakannya. Malam hari, Kama, perempuan yang tak kutahu namanya itu, juga beberapa orang lelaki selalu melakukan pembicaraan serius. Sementara siang hari, Kama nyaris tak pernah berada di rumah, ketika aku bangun untuk menyapanya, Kama tertidur pulas. Aku dan Kama menjadi jarang bertemu dan berbicara. Kesedihan makin kurasakan manakala aku baru menyadari rumah tanpa seorang ibu seperti perahu tanpa mantra. Aku mengandaikan pula diriku seperti anak ikan yang tak punya karang.
Kini aku berdiri di dapur kami yang lengang. Aku memandang ulekan batu. Tungku tanah liat. Pisau berhulu kayu cendana. Keranjang rempah. Kuali tanah liat. Semua barang-barang itu tampak dingin. Aku seperti melakukan tur kesedihan di dalam rumah. Mengenang segala hal tentang Kindo. Aku dan Kindo memiliki banyak kenangan di dapur. Aku mengiris jeruk. Kindo menyisik ikan. Kindo mengupas bawang. Aku menumbuk cabai. Aku berpuisi. Kindo menyanyi. Aku diam, Kindo bercerita tentang legenda ikan terbang. Berada di dapur, aku seperti melihat Kindo dengan tangannya yang gemuk membersihkan ikan tenggiri.
Sekarang dapur dan ruang jahit adalah dua tempat yang membuat air mataku berderai.
***
PAGI MENJELANG SIANG, aku menggeser tirai jendela, dua ekor burung dara mengacak-acak biji-biji jagung yang tengah dijemur dalam tampah di atap rumah Pua’* Tajo. Kudengar pintu pagar berderit, lalu terdengar suara Pua’ Tajo memanggil Kama. Aku agak enggan keluar dengan mata bengkak. Aku mengintip dari gorden pintu, kulihat Pua’ Tajo berdiri dengan seekor ikan cakalang di tangannya. Seketika itu aku ingin sekali makan bau peapi. Aku sekonyong-konyong merindukan asam mangga yang mengentalkan kuah bau peapi. Merindukan harum minyak mandar dalam semangkuk bau peapi mengepul. Aku pergi mencuci mukaku, lalu menjumpai Pua’ Tajo.
“Kiyang, Kama ada?” tanyanya.
“Kama pergi berlayar bersama teman-temannya.”
“Ada ikan cakalang, buat pembeli sugi,” ujar Pua’ Tajo.
Aku membayar ikan cakalang itu. Serta-merta Pua Tajo’ sudah tahu, ia akan membawanya ke dapur dan menyisik ikan itu di sana. Pua’ Tajo sering kali melakukan itu untuk Kindo.
Pua’ Tajo adalah nelayan tua, langganan ikan Kindo. Kama, Kindo dan Pua’ Tajo berteman baik. Jika Kama berlayar jauh, Pua’ Tajo akan ia ikutkan. Pua’ Tajo seorang panrita lopi --ahli perahu yang mahir membaca angin karang dan memiliki mantra laut. Pua’ Tajo tinggal seorang diri di rumah kolongnya. Di kala malam, aku bisa melihat nyala pelita yang meliuk-liuk di rumahnya dari jendela kamarku. Di saat semua rumah di desa sudah memakai listrik token, Pua’ Tajo masih setia dengan lampu minyak. Aku baru menyadari, ini pertama kali Pua’ Tajo menawarkan ikan cakalang, setelah kepergian Kindo. Mungkin selama ini ia berpikir, tak ada lagi Kindo yang memasak.
Aku berpamitan pada Pua’ Tajo untuk meninggalkan rumah sebentar. Aku mengayuh sepedaku ke pasar. Di pasar, aku membeli jeruk nipis. Membeli cabai. Membeli seikat pammaissang. Membeli lasuna. Membeli sebotol minyak mandar, juga membeli sepuluh lempeng jepa. Di perjalanan pulang, aku mengingat-ingat bagaimana Kindo memasak bau peapi.
Aku tiba di pintu pagar, kulihat beranda telah ramai. Kama dan teman-temanya ternyata sudah pulang. Kudengar mereka membicarakan perahu sandeq dan musim berburu ikan terbang. Pua’ Tajo duduk di sana bersama mereka. Di sana kulihat, perempuan yang tak aku tahu namanya, sibuk dengan gawainya. Dia duduk di sebelah Kama. Tiba-tiba perasaanku memburuk. Nisan kayu Kindo belum lapuk, dan makam Kindo belum ditumbuhi rumput liar, tetapi Kama sudah duduk berdekatan dengan perempuan.
Aku mengabaikan kehadiran Kama dan teman-temannya di beranda dan langsung saja ke dapur. Aku mencuci darah ikan cakalang yang sudah dipotong Pua’ Tajo, kemudian aku membaluri potongan-potongan ikan itu dengan sejumput garam, sejumput kunyit bubuk dan perasan dua biji jeruk nipis. Amis ikan laut yang tadinya tercium kini berganti aroma jeruk nipis. Kedua telapak tanganku pun beraroma sama.
Aku kemudian menyiapkan sembilan butir bawang merah. Aku mengiris bawang merah dengan irisan tipis-tipis. Lima cabai rawit ditumbuk. Kusiapkan serumpun kecil lasuna dan segenggam pammaissang. Ketika aku menyiapkan itu semua, aku seperti merasakan roh Kindo mengawasiku. Kindo selalu berkata, bumbu bau peapi bersahaja saja, bawang merah dan cabai rawit, tetapi semacam puisi --kekuatan bau peapi ada pada pammaissang, minyak mandar, dan kuali tanah liat. Kama berguyon, jika tidak menjahit pakaian, Kindo sudah jadi seorang penyair.
Aku mengeluarkan kuali tanah liat. Aku menyalakan kayu bakar di tungku tanah liat. Aku meletakkan potongan-potongan ikan cakalang yang telah dilumuri perasan jeruk nipis, garam dan bubuk kunyit. Sari jeruk nipis dan kunyit bubuk melekat indah pada potongan ikan cakalang. Aku mencuci pammaissang lalu merendamnya. Aku menghaluskan cabai rawit, cabai besar dan bawang merah. Aku kemudian menjatuhkan bumbu ke permukaan ikan, lalu aku masukkan air rendaman pammaissang. Aku memasaknya dengan api sedang. Aku ingat perkataan Kindo, bau peapi yang baik adalah dengan kuah sedikit. “Makin kuahnya susut, makin sempurna bau peapi,” begitu yang dikatakan Kindo saat aku menemaninya dulu.
“Aku mencium bau peapi dari luar, ternyata putriku yang membuatnya.”
“Keadaan tak sama lagi. Aku merindukan Kindo,” sahutku. Ketika aku mengatakan itu, mataku kurasakan berair. Ini adalah percakapan pertamaku dengan Kama setelah pemakaman Kindo.
“Maafkan Kama. Kama terlalu sibuk belakangan ini.”
“Apa yang sebetulnya Kama sibukkan?”
“Lomba perahu sandeq sebentar lagi, Kiyang. Kama sibuk mengurusi sponsor, tamu-tamu, dan publikasi.”
“Maukah Kama makan siang di rumah, kali ini saja,” aku memohon.
Kama menatapku, ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Kurasakan Kama mencium ubun-ubunku dan membisikkan kata maaf.
***
SETELAH KEHARUAN ITU, Kama berteriak memanggil teman-temannya di teras. “Kita akan makan siang, putriku memasak bau peapi. Kalian harus mencobanya.”
Kama lalu membantu aku menata meja makan. Kama mencentong nasi. Aku menghidangkan bau peapi yang masih mengepul ke beberapa mangkuk. Aku menyajikan satu per satu lempengan jepa. Teman-teman Kama pun berdatangan, mereka tampak terharu melihat gadis usia enam belas tahun memasak. Perempuan yang belum juga kutahu namanya, mencicipi kuah bau peapi. Lalu dia berbicara sengau dengan bahasa yang tidak kumengerti.
Teman-teman Kama sibuk mengeluarkan ponsel masing-masing, mereka memotret meja makan. Aku merasa geli. Aku teringat pesan Kindo, kita harus menghormati makanan. Aku tidak tahu, apakah memotret makanan, masuk bagian menghormati ataukah melukai makanan? Hal yang terpenting saat ini, aku bahagia. Aku dan Kama kembali saling bercakap dan dapur kami dipenuhi gelak tawa. Aku mengajarkan tamu-tamu Kama mencuil jepa. Lalu mencelupkan secuil jepa ke dalam kuah ikan. Kama menatapku lalu berkata, “Rasanya seperti Kindo-mu masih ada bersama kita.”
Semua orang terdiam.
***
MAKAN SIANG TELAH SELESAI. Tamu-tamu Kama telah pergi ke beranda berangin-angin. Di meja makan, bau peapi bikinanku telah tandas. Aku mengumpulkan piring kotor. Kama membantuku. Aku memberanikan diri bertanya, siapa perempuan dengan gawai sebesar talenan itu.
Kama tertawa. “Itu Ibu Marie, dia orang Indonesia yang besar di Prancis dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Ibu Marie perwakilan dari perusahaan yang mensponsori lomba perahu sandeq tahun ini.”
“Apakah Kama menyukainya?”
Kama menatapku sejenak lalu mengacak-acak rambutku. “Kama sudah cukup memilikimu. Omong-omong, terima kasih telah menjamu teman-teman Kama.”
Aku rasa jawaban Kama sudah cukup. Ada percikan rasa lega yang menjalari hatiku. Kini aku tahu, jika Kama merindukan Kindo, aku cukup memasak bau peapi.
***
DAPUR TELAH SELESAI DIBERSIHKAN. Bara api sudah lama mati. Aku kembali ke kamarku hendak tidur siang, tiba-tiba aku mencium kembali aroma bau peapi di dalam kamarku, amat tajam, seolah-olah seseorang menyodorkan semangkuk ikan itu tepat di lubang hidungku. Aku teringat perkataan Pua’ Tajo, roh orang mati bisa hadir dalam bentuk hal-hal yang disenanginya. Kadang-kadang ia hadir dalam aroma minyak wanginya. Kadang-kadang ia hadir dalam aroma dupa. Kadang-kadang ia hadir dalam aroma kainnya. Aku seketika percaya roh Kindo menjagaku.
Catatan:
Kindo : Ibu
Towaine : Perempuan
Muane : Suami
Kama : Ayah
Pammaissang : Mangga muda yang dikeringkan digunakan sebagai asam untuk ikan masak.
Lasuna : Bawang khas mandar. Mirip bawang prei, namun lebih halus dan lebih pendek.
Bau peapi : Ikan masak khas Mandar (Sulawesi Barat) berbahan tenggiri, tuna, atau kembung. Dimasak dengan bumbu tradisional seperti asam mangga muda, minyak mandar --minyak kelapa kampung--, dengan bumbu kunyit, irisan bawang merah dan asam mangga muda (mangga yang telah dikeringkan).
Jepa : Makanan berbahan singkong parut yang diperas airnya, dicampur kelapa parut, dicetak dalam bentuk lingkaran pipih.
Pua’ : Pak, paman.
***
Erni Aladjai