Family
Plus Minus Sekolah Plus

1 Mar 2016


Di tengah gonjang-ganjing pemerintah menggodok kurikulum yang terbaik untuk bangsa, beberapa sekolah swasta memilih untuk menawarkan kurikulum ‘impor’, baik secara keseluruhan maupun sebagai tambahan selain kurikulum nasional. Sekolah yang menerapkan   tambahan dikenal sebagai sekolah nasional plus.      
Kelebihan sekolah nasional plus, menurut Wei, adalah kurikulum masih mengikuti kurikulum nasional dengan tambahan beberapa pelajaran, seperti   Bahasa Mandarin, Math dan Science (dalam Bahasa Inggris) sehingga orang tua bisa lebih fleksibel dalam melanjutkan pendidikan anak.

“Misalnya, jika mau dipindahkan ke sekolah umum masih bisa atau melanjutkan ke luar negeri pun bisa karena anak telah dipersiapkan mata pelajaran inti seperti yang biasanya akan diujikan. Bahasa pengantarnya pun bahasa Inggris,” jelas Wei.

Hal ini yang menjadi pertimbangan Hermin Suhaili (38) ketika memasukkan Rigel (8) dan Alcyone (6) ke sekolah berkurikulum nasional plus. “Saya berencana menyekolahkan anak-anak hingga high school (SMA) di Permata Bangsa International School. Sedangkan untuk kuliah, saya ingin mereka kuliah di universitas di Indonesia saja, tak perlu ke luar negeri,” tutur ibu rumah tangga yang berdomisili di Semarang ini. 
Ia memilih sekolah nasional plus karena mendapatkan benefit bahasa pengantar bahasa Inggris serta fleksibilitas pindah ke sekolah umum,  jika suatu hari di tengah jalan ia tak mampu menyediakan dana sekolah yang lebih tinggi dari sekolah umum. “Saya yakin masa depan persaingan di dunia kerja akan  makin ketat karena dunia  makin global,” ujarnya. 

Memilih sekolah nasional plus bisa jadi jembatan bagi orang tua yang punya dana tidak begitu besar, tapi ingin anak-anaknya punya nilai plus dari sisi bahasa dan juga mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn), menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan ada upacara bendera. Dengan begitu, anak diharapkan memiliki jiwa nasionalisme dan kecintaan pada negara Indonesia.  
           
Sekolah ‘plus’ lainnya adalah sekolah berlandaskan religi dan pesantren. Di sekolah-sekolah ini, yang izin pendiriannya didapat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag), bobot pelajaran agamanya lebih banyak selain mengikuti kurikulum nasional. Salah satu pesantren tersohor adalah Pesantren Gontor di Jawa Timur. Sedangkan untuk sekolah swastanya, Al Azhar.  

Ada juga sekolah berkonsep homeschooling, yang mengizinkan siswa tak perlu datang ke sekolah. Sekolah jenis ini masuk dalam kategori sekolah informal kejar paket A, B, dan C. Dan yang tak kalah menariknya metode pengajaran Montessori. “Metode pengajaran ini berpihak pada anak yang mana dalam pelaksanaannya tidak mengekang kebebasan anak mengeksplorasi apa yang diminatinya,” jelas Ivy Maya Savitri, Independent Montessori trainer and professional coaching dan pendiri pusat belajar Rumah Montessori BSD Serpong.

Metode yang mengedepankan konsep belajar konkrit melalui alat bantu ajar ini banyak dipakai oleh sekolah-sekolah internasional maupun nasional plus karena terbukti bisa merangsang karakter anak menjadi mandiri, percaya diri, dan kreatif.

Undang-Undang No. 20 Pasal 36 Ayat 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjamin kebebasan sekolah-sekolah untuk menerapkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan geografis. Contoh kurikulum yang mengakomodasi kebutuhan siswa adalah kurikulum internasional yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang ingin melanjutkan studinya ke luar negeri atau untuk menampung para siswa kebangsaan asing yang ingin tetap belajar sesuai dengan kurikulum negaranya berasal.

“Lulusan sekolah dengan kurikulum internasional memang akan lebih mudah untuk meneruskan studi di luar negeri nantinya,” kata Wei.  
Advertisement
Kurikulum internasional yang dikenal di Indonesia misalnya  Cambridge International, International Baccalaureate (IB), Singaporean Curriculum, dan International Primary Curriculum (IPC). Keberadaan sekolah-sekolah ini  makin menjamur dalam satu dekade terakhir. Tak hanya menerima siswa berkebangsaan asing, sekolah-sekolah asing ini juga membuka diri terhadap siswa lokal.  

Kurikulum internasional harus ada akreditasi (minimal A) dari salah satu negara yang tergabung dalam Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) atau negara maju, artinya berstandar sama dengan negara tersebut atau diakui secara internasional. Contohnya, Jakarta International School.
           
Sekolah dengan kurikulum internasional lainnya misalnya Binus International School, Swiss German University, Global Jaya, Global Mandiri, dan banyak lagi. Sedangkan yang nasional plus, seperti High Scope, Pelita Harapan, Tiara Bangsa, Mentari International School, Victory Plus, dan sebagainya.
Sekolah-sekolah internasional ini harus memiliki akreditasi pemerintah untuk melihat kualitasnya dan apakah kurikulum yang diterapkan sudah sesuai dengan aturan. Aturan penyelenggaraan kurikulum asing misalnya diwajibkannya mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan mata pelajaran Agama dan PPKN tidak wajib. Ujian pun boleh memilih, ikut ujian nasional atau cukup dengan ujian dari sekolah yang diakreditasi.

Seperti jadi tren, banyak orang tua kemudian yang lebih sreg dan memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah dengan embel-embel internasional ini, meski tak semua berencana untuk melanjutkan pendidikan anak mereka ke luar negeri. Apakah benar bahwa sekolah-sekolah dengan kurikulum luar ini kualitasnya lebih baik?
Wei menjelaskan bahwa sama seperti kurikulum nasional, tentu saja kurikulum asing punya sisi kelebihan dan kelemahan. “Tak ada yang lebih unggul. Tiap kurikulum pasti punya kelebihan sendiri. Bahasa asing (umumnya Inggris) yang jadi bahasa pengantar penyelenggaraan pendidikan memang dianggap masih menjadi nilai lebih sekolah-sekolah asing ini,” katanya. Sekolah internasional juga tidak sekadar ‘menjual’ kelebihan keterampilan bahasa asing semata.

“Keunggulan lainnya, sekolah internasional memiliki metode pengajaran yang tidak kaku. Pembelajaran non-menghafal mendorong anak bersikap proaktif, memiliki jiwa leadership, kreativitas, dan skill komunikasi yang baik sehingga jadi nilai jual yang banyak menarik minat orang tua,” lanjut Wei.  
           
Apalagi memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN di penghujung 2015, serbuan pekerja asing ke Indonesia akan tak terbendung, membuat persaingan tenaga kerja juga  makin ketat. Kelak, dunia kerja lebih membutuhkan orang-orang yang kreatif, inovatif, percaya diri, dan memiliki kemampuan praktikal. Dan kemampuan-kemampuan seperti itu memang akan lebih banyak didapat di sekolah bertaraf internasional.

“Mereka yang mampu menggunakan bahasa internasional dan memiliki cara berpikir penuh inisiatif (bukan terbiasa menghafal) yang kemudian akan menjadi pemimpin-pemimpin nantinya,” kata Wei. Sekolah yang mengajar dengan sistem kreatif nantinya akan menghasilkan anak-anak calon pemimpin.  
           
Sayangnya, proses belajar di sekolah kita selama ini masih kental dengan gaya belajar mendikte, mencatat, dan menghafalnya. Sementara yang dibutuhkan di masa kini adalah metode pengajaran dua arah, di mana siswa diajak terlibat dalam diskusi dan kebebasan berpendapat.
Transformasi pendidikan selama puluhan tahun tentu saja tak bisa dilakukan seperti membalik telapak tangan. Harus dilakukan secara bertahap dan butuh waktu serta proses yang panjang untuk mendobrak kebiasaan.   
           
Namun, sekolah asing pun tak lepas dari kelemahan. “Materi ajar sekolah asing ini kiblatnya ke luar negeri, sehingga kehilangan rasa lokal. Misalnya saja, dalam kurikulum Cambridge International, untuk pelajaran Geografi itu bukan Geografi di Indonesia yang dipelajari, tapi di Inggris,” jelas Wei. Akibatnya, siswa jadi tak mengenal negaranya sendiri. Dan, bahkan tak sedikit yang tak fasih berbahasa Indonesia karena sehari-hari mereka menggunakan bahasa asing di sekolah.(f) 
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?