Foto: Stocksnap.io
Berbagai kasus setiap hari muncul di media sosial seperti pernikahan selebritas yang dituding sebagai pernikahan sejenis karena penampilan pasangan yang seolah tertukar, atau rasisme terhadap suku lain seperti yang terjadi pada kasus warga Papua beberapa waktu lalu, hingga kasus kekerasan seksual yang kian muncul ke permukaan sejak kasus YY di Bengkulu.
Hal paling praktis yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah memulai pendidikan gender dalam keluarga. Mengapa itu penting? Menurut Gadis Arivia, aktivis gender dan pendiri Jurnal Perempuan, sejatinya, pendidikan gender tidak terpisah dari pendidikan agama karena ayat-ayat suci juga banyak memuat tentang keluarga. Hanya saja, banyak interpretasi ayat-ayat suci yang keliru tentang relasi antara suami-istri dan relasi antara keluarga.
Gadis menekankan bagi para orang tua, pendidikan gender merupakan pelajaran pertama dan utama dalam mendidik anak. “Dalam pendidikan gender juga terkandung nilai-nilai toleransi, misalnya bagaimana kita mendidik anak untuk toleran terhadap temannya yang berbeda, baik dalam warna kulit, fisik, maupun agama. Ada juga nilai-nilai demokrasi, tentang keterbukaan dan musyawarah. Misalnya, bagaimana suatu keluarga mengambil keputusan bersama, tidak hanya ditentukan oleh satu orang seperti ayah saja dan harus diberlakukan di dalam keluarga itu. Sebuah keputusan harus mendapatkan masukan dari anak, dan dari ibu.”
Orang tua merupakan teladan pertama anak. Setiap akan melakukan sesuatu, hendaknya orang tua berpikir ulang, Apa efeknya jika anak saya melihat sikap dan mendengar ucapan ini? “Kadang, tanpa sadar, seseorang menyebarkan kebencian lewat posting di akun media sosial atau dalam sikapnya sehari-hari. Kita lupa, ada anak-anak yang melihat dan bisa menirunya,” pesan Gadis. (f)
Topic
#PendidikanGender