Foto: Trần Long from Pexels
Seperti yang dilakukan salah seorang ibu, Shirley Oldale yang tinggal di West Yorkshire, Inggris. Ia mengajarkan puteranya yang kini berusia 3 tahun untuk mengekspresikan emosinya sejak berusia 30 bulan. Oldale pun merasa bangga saat mendengar puteranya dapat mengekspresikan emosinya, bahkan emosi yang sulit seperti kemarahan. Untuk mengajari tentang emosi, Oldale memilih untuk membacakan buku dengan gambar ekspresi wajah yang menunjukkan bagaimana perasaan anak-anak dan mengapa mereka bisa seperti itu.
Dikutip dari CNN, kemampuan untuk mengekspresikan emosi ini lah yang disebut literasi emosi. Kemampuan ini menjadi krusial karena menurut Marc Brackett, Direktur Pusat Kecerdasan Emosional Yale dan profesor di Pusat Studi Anak Yale menyebut emosi mendorong banyak aspek pengalaman manusia seperti kualitas hubungan dengan teman dan keluarga.
"Kita semua membutuhkan kosakata untuk menggambarkan pengalaman dan perasaan batin kita. Tanpa itu kita tak dapat berkomunikasi secara efektif, memenuhi kebutuhan kita, dan mendapatkan dukungan yang kita butuhkan untuk berkembang," kata Brackett.
Literasi emosi juga dapat membantu anak-anak mengatasi emosi negatif dengan lebih baik. "Anak-anak dengan keterampilan emosi yang lebih berkembang cenderung memiliki kesejahteraan yang lebih besar, hubungan yang berkualitas tinggi, serta kinerja akademis yang lebih baik. Jadi penting untuk mengajari anak-anak bagaimana memproses emosi dengan cara yang sehat," papar Brackett.
Perkembangan Emosi Selama Pandemi
Mempelajari literasi emosi
Untuk memulai mengajarkan kepada anak, Bauer pun meminta orang tua untuk mengekspresikan emosi mereka terlebih dahulu, apa yang dirasakan dan mengapa. Anak-anak merupakan pengamat yang kuat, jadi orang tua dan pengasuh harus berlatih dan menunjukkan literasi emosi juga.
Salah satu hal yang bisa dilakukan misalnya dengan mengatakan 'Ibu merasa sedih karena...". Atau bisa juga ketika menonton televisi atau membaca buku, ajak anak untuk berdiskusi berbagai emosi yang dirasakan karakter. Orang tua juga bisa dapat berbagi cerita tentang bagaimana mereka menangani situasi yang melibatkan emosi negatif sehingga anak-anak memiliki contoh tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Jangan takut untuk memulai percakapan tentang emosi tersebut. Ini menurut Bauer akan membangun keyakinan bahwa berbicara tentang emosi adalah hal yang normal. Begitu anak-anak dapat mengidentifikasi emosi, mereka pun dapat mulai belajar bagaimana memprosesnya dengan cara yang sehat. (f)
Baca juga:
Kenali Trauma Rumah Tangga yang Bisa Mengganggu Pola Asuh
Marah dengan Anak, Apa Saja Batasan yang Ibu Perlu Tahu?
Sisihkan Waktu untuk Bedtime Story, Ini Manfaatnya bagi Anak
Topic
#Family, #Ekspresiemosi, #Emosianak